|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Renungan Hari Ini
| APAKAH ANDA MERASA PUAS HARI INI? |
Efesus 3 : 19b “...Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Dan seperti biasanya, dia akan mengalami sedikit kebingungan. Walau sudah duduk di SMP, dia masih memiliki keinginan untuk bisa membeli mainan baru. Sementara kami orang tuanya berpikir bahwa semestinya masa itu sudah mulai berlalu bagi dia. Jadilah hal ini sedikit membingungkan dia. Melihat keraguannya, akhirnya aku biarkan dia memilih apa yang menjadi keinginannya. Dan setelah beberapa waktu, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil sebuah mainan dan membelinya. Namun dari raut wajahnya aku yakin bahwa itu tidak seperti yang dia harapkan. Hanya saja, melihat dari jumlah uang yang tersedia dia merasa bahwa hanya benda itulah yang bisa dia beli, jadi dia memutuskan untuk tetap membeli benda itu daripada tidak sama sekali. Ia tetap berterimakasih, namun dengan suara yang berat. Berbeda dengan sang adik. Jordan biasanya akan lebih tanggap dan gesit dalam mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Jordan juga lebih gigih mempertahankan keinginannya. Dalam situasi yang kurang lebih sama, maka sang adik akan selalu memperoleh apa yang dia mau dan pulang denga perasaan puas terukir di wajahnya. Ucapan terimakasih yang dia ucapkan benar-benar lepas tanpa ada rasa terpaksa. Melihat perbedaan yang mencolok ini membuat aku berpikir. Apa yang menyebabkannya? Aku sebagai orang tua sepertinya juga perlu introspeksi dalam hal ini. Jangan sampai aku memaksakan kehendakku kepada anakku, sehingga aku tidak bisa melihat kepuasan dalam hidupnya, karena dia selalu diprogram hanya untuk melakukan apa yang menyenangkan hatiku dan bukan memuaskan harapannya sendiri. Kasus yang kuhadapi ini bukan satu-satunya kasus di dunia ini yang terjadi seperti ini. Tanpa kita sadari, sebagai orang tua, yang seharusnya bertugas memberikan bimbingan dan arahan kepada anak-anak kita supaya mereka tahu bagaimana menghadapi dan menjalani hidup ini, seringkali salah kaprah. Akibatnya, banyak diantara mereka yang malah jadi tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hidup ini. Mereka terlalu biasa di dikte dan diatur oleh orang tua mereka, sehingga mereka tidak tahu lagi apa yang menjadi cita-cita mereka sebenarnya. Belajar dari hal yang kecil ini, aku melihat kesalahanku pada penerapan hal ini pada anakku sendiri. Aku jadi membuatnya kurang percaya diri dalam mengambil keputusan yang baik bagi dirinya sekalipun. Ia takut melangkah karena terlalu sering aku memprotesnya dan akhirnya memaksakan apa yang aku anggap baik baginya. Sebagai anak yang baik tentu ia akan taat kepadaku, tapi akibatnya, ia jadi tidak punya pijakan untuk mendapatkan kepenuhan dan kepuasan dari apa yang dia lakukan itu, karena ia melakukannya lebih untuk menyenangkan dan mendapat pujian dari kami orang tuanya. Kami mulai menyadari kesalahan itu dan mulai memperbaikinya. Untuk mengubah hal itupun dibutuhkan waktu dan ketelatenan. Namun aku yakin belum terlambat untuk itu. Sedikit demi sedikit kami mulai mengembalikan Jonathan ke porsi yang sebenarnya, supaya dia memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan, sambil diarahkan untuk memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Kami percaya, hubungan dengan Tuhan akan sangat dia butuhkan dalam langkah selanjutnya. Namun peranan kami sebagai orang tua hanya sebatas menjaga setiap langkahnya supaya tidak keluar dari pagar yang seharusnya. Tuhan sendiri tidak pernah memaksakan kehendakNya dengan cara itu. Tapi sebagai Bapa yang baik, Ia akan menjaga dan menuntun langkah kita sedemikian supaya kita tidak keluar dari jalur yang sudah Ia tetapkan dalam hidup kita. Sesekali mungkin akan Ia paksakan, tapi tidak selalu demikian. Ia juga tidak mau kita tidak merasakan kepuasan yang penuh dalam hidup kita. Ia mau supaya kita mensyukuri semua yang kita miliki dan kita alami dalam hidup kita ini lebih karena keputusan kita, dan bukan karena Dia memaksanya. Cobalah periksa hatimu hari ini, ketika engkau berdoa dan menyembah Tuhan, apakah karena terpaksa? Atau karena engku memang merindukannya? Ingat, Dia lebih menyukai persembahan yang diberikan dengan sukarela dan bukan karena terpaksa. Amin. (SG)
|




“Apa yang mau kamu beli buat kado ulang tahun kamu?” tanyaku pada Jonathan anakku yang besar. Dia berulang tahun yang ke dua belas hari itu. Dan kebiasaan kami adalah selalu memberikan dia kesempatan untuk memilih kadonya sendiri setelah disepakati berapa besar jumlah uang yang boleh dia habiskan untuk itu.


Lukas 1 : 38
Pengkhotbah 10:14