|
Ulangan 3:28 …. kuatkan dan teguhkanlah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini dan dialah yang akan memimpin mereka sampai mereka memiliki negeri yang akan kaulihat itu
Memiliki sebuah posisi saja ternyata tidaklah cukup. Benarlah seperti apa kata pendahulu kita, bahwa seorang pemimpin tanpa pengikut bukanlah pemimpin yang sebenarnya. Meskipun posisi tersebut diberikan kepada kita, tapi kalau kita tidak mampu membangun sebuah hubungan yang baik dengan orang-orang yang ada di bawah kita, maka posisi itu hanyalah sebuah utopia.
Belajar dari pengalaman berorganisasi selama bertahun-tahun sejak saya duduk di bangku SMP, memang nyata sekali terlihat bahwa biar bagaimanapun seorang yang menjabat ketua organisasi itu jauh lebih baik jika dijabat oleh seorang yang memang menjadi pilihan sebagian besar orang, karena dengan cara itu, segala beban kerjanya bisa dia delegasikan dan akan ditanggung oleh lebih banyak orang sehingga tentunya akan lebih mudah diselesaikan, dibandingkan jika hanya sedikit orang yang mengusungnya, tentu menjadi sulit baginya untuk berjalan maju.
Jangan juga kita lupa bahwa sebenarnya, setiap orang pasti memiliki impiannya masing-masing. Akan ada masanya dimana mereka berpikir bahwa lebih baik mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan pribadi daripada mengurusi kepentingan orang lain. Jadi, jika seorang pemimpin tidak mampu membangun relasi yang baik dengan bawahannya, apalagi jika berbicara tentang organisasi non profit yang notabene tidak memiliki nilai materi yang substansial bagi pengikutnya, tentu mereka semua akan berpikir berulang kali sebelum benar-benar melangkah mendukung pemimpinnya.
Membangun relasi tentulah sangat diperlukan. Masalahnya, relasi macam apa yang kiranya akan bisa bertahan lama dan lebih berkualitas?
Saya teringat dengan pelajaran biologi, ada istilah ‘simbiosis mutualisme’. Kira-kira artinya adalah hubungan yang bisa saling menguntungkan setiap pihak yang terlibat di dalamnya.
Tentunya didalam relasi kita dengan banyak orang pun perlu sekali jenis relasi seperti ini. Persis seperti yang Tuhan juga ajarkan, bahwa terlebih baik memberi daripada menerima, maka jenis relasi ini pun memerlukan sikap hati yang seperti ini. Saling memberi dari kedua belah pihak, dan bukan saling menuntut, barulah relasi itu akan saling menguntungkan. Karena ketika yang satu memberi, maka pihak lain bisa menerima. Dan begitulah sebaliknya. Jadi, keduanya akhirnya bisa saling memperhatikan dan saling menguntungkan.
Namun saya mempelajari, seringkali terjadi bagi orang-orang yang merasa sudah berhasil dalam bisnisnya, mereka lupa untuk memisahkan cara penerapan kepemimpinannya di dalam bisnisnya dengan masalah pelayanannya. Sehingga seringkali mereka menerapkan sikap ‘bossy’ mereka di dalam dunia pelayanan, seakan-akan orang-orang yang ada di bawah mereka itu adalah ‘pegawai bayaran’ mereka yang tetap harus mengikuti perintah mereka.
Jangan lupa, ketika kita ada di dunia pelayanan, bahkan setiap pemimpin pun adalah ‘bawahan’ dari satu pimpinan tertinggi, yaitu Tuhan sendiri. Dan gaya kepemimpinan Tuhan tidaklah seperti seorang boss yang ada di dunia ini, meskipun Dia sangat mampu ‘menggaji’ kita lebih dari siapapun di seluruh dunia ini.
Kalau Tuhan saja memakai cara yang sangat baik dalam memimpin kita, dengan membangun hubungan yang personal dan sangat dalam, mengapa kita yang hanya ‘anak buahnya’, kok sepertinya bisa lebih berlagak daripada Pemimpin yang sebenarnya?
|