|
Written by sariwati
|
|
Wednesday, 15 October 2008 07:56 |
|
Kisah Para Rasul 2 : 39 “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." Ketika ada seseorang yang menjanjikan sesuatu kepada kita, apa reaksi kita ? Apakah kita akan melonjak-lonjak senang, biasa-biasa saja, tidak bereaksi, memandang dengan tidak percaya, atau mencurigainya ? Saya yakin ada banyak respon yang bisa muncul, tergantung bagaimana anda memandang orang yang memberikan janji itu untuk anda. Kalau si pembuat janji itu adalah orang yang punya integrity dan dapat dipercaya, tentu anda akan senang sekali menerima semua janji itu dan akan menanti-nantikan tanpa banyak bertanya kapan janji itu akan dipenuhi. Tapi jika yang yang membuat janji itu adalah orang yang anda tahu sulit untuk dipercaya, maka saya yakin anda hanya akan mencibir dan tidak memperdulikan janji-janji itu karena rasanya percuma saja menantikan pemenuhannya. Tapi hari ini, Allah sendiri yang memberikan janji itu buat anda dan saya. Setelah sekian lamanya Dia eksis, belum pernah saya melihat ada yang meleset dari semua janji-janjiNya itu. Setiap perkataanNya itu tepat, YA dan AMIN. Bahkan tepat seperti yang dituliskan di Yosua 21 : 45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.” Ya, Ia adalah Sumber Integritas itu. Dia melakukan apa yang Dia katakan. Sekalipun kita tidak setia, Ia tetap setia. Ia pegang teguh semua perkataanNya. Ketika janji dalam Kis 2 : 39 itu diberikan, janji yang dimaksud adalah bahwa kita akan menerima karunia Roh Kudus ketika kita bertobat memberi diri dibaptis (Kis 2 : 38). Suatu karunia tak ternilai. Dengan karunia ini, kita yang tadinya tidak dapat mengerti Kerajaan Allah, menjadi terbuka mata kita dan dapat masuk untuk menikmati segala fasilitas yang ada di dalamnya. |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Tuesday, 14 October 2008 05:41 |
|
Ibrani 5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, Ada pengalaman lucu dan menggelikan yang terjadi kemarin. Ketika saya sedang mengajari anak saya belajar mendikte untuk pelajaran sekolahnya, ada kejadian yang tidak pernah saya bayangkan bisa terjadi pada seorang anak. Setelah beberapa kalimat saya bacakan dan ia menuliskannya kembali, ketika sampai pada kalimat ‘Saya menaruh barang-barang di tempatnya.”, anak saya malah menuliskannya ‘Saya menaruh barang-barang di lemari’. Lho, kok begitu tanya saya. Setelah diulang, barulah ia memperbaikinya. Kemudian saya mendiktekan kalimat ‘Heri, Budi dan Ica pergi ke kebun binatang’, dia menuliskannya demikian ‘Heri, Budi dan Ica pergi ke taman safari’. Lagi-lagi saya bertanya kenapa begitu, baru ia perbaiki. Dan kalimat yang terakhir adalah ‘Saya tidak suka makan cokelat’, tiba-tiba ia memprotes tanpa menuliskannya...’Aku suka!!! Aku suka makan cokelat!!!’ ...dan kami sekeluarga tertawa terbahak-bahak sambil memandang wajahnya yang polos. Ia benar-benar protes karena kalimat itu. Padahal ia hanya harus menuliskannya kembali tanpa mengubah atau memprotes artinya, karena ini kan pelajaran dikte ? Tapi apa yang terjadi ? Otaknya mencerna kalimat-kalimat itu dan dengan otomatis mengubahnya dalam pikirannya, dan menuliskan apa yang dia pikirkan dan bukan apa yang diperintahkan. Itulah yang sering terjadi dalam hidup kita. Ketika kita menerima sebuah perintah dari Tuhan, seringkali kita bukannya langsung menerapkannya dalam hidup kita sebagai satu tanda kita mempercayai Ke-Allah-annya, tapi seringkali otak kita akan menerimanya dengan pikiran kita sendiri dan melakukan yang sesuai dengan apa yang otak kita katakan dan bukannya persis seperti yang Tuhan perintahkan itu. Sama seperti anak saya tadi bukan ? Mengapa, karena seringkali keinginan daging itu bertentangan dengan keinginan roh. Roma 8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Jadi, anda lihat ? Bahkan Alkitab sendiri mencatat kalau daging kita memang sulit untuk tunduk kepada hukum Allah. |
|
Read more...
|
|
|
Written by sariwati
|
|
Wednesday, 08 October 2008 03:25 |
|
Yakobus 5:16b Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Kisah ini diceritakan oleh kakak saya beberapa waktu yang lampau, tapi sangat mengesankan buat saya sehingga rasanya saya ingin membagikannya pada anda hari ini. Saya berharap orang yang mengalaminya tidak keberatan jika saya menceritakannya berdasarkan pendengaran dan interpretasi saya. Maaf jika mungkin ada kesalahan urutan cerita, tapi saya berusaha menjabarkannya tanpa kehilangan makna yang sebenarnya. Dimulai dari satu pengertian bahwa sebuah doa itu besar kuasanya. Bahkan doa seorang anak kecil, Tuhan akan dengar dan penuhi. Ada seorang bapak, katakanlah dia bapak Anton (bukan nama sebenarnya), sedang merencanakan sebuah perjalanan keluar pulau untuk sebuah urusan bisnis. Malam sebelum keberangkatannya, mereka sekeluarga berdoa untuk perjalanannya. Anaknya yang masih kecil juga berdoa bagi dia, begini bunyinya,”Tuhan Yesus, tolong bawa papah kembali ke rumah ya...amin.” Doa yang sangat sederhana, tapi entah kenapa doa itu sepertinya punya arti yang sangat besar buat pak Anton di malam itu. Doa itu begitu berkesan dan tidak akan dia lupakan di sepanjang perjalanannya. |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Monday, 06 October 2008 20:20 |
|
“Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkatNya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapiNya.” (I Samuel 2 : 10b) Yang saya mau ceritakan adalah pengalaman pribadi saya ketika saya hendak diteguhkan menjadi seorang gembala (pastor) dari sebuah gereja satelit di Cibabat – Cimahi. Sebuah pengalaman tak terlupakan, mengingat hari itu adalah hari yang sangat istimewa buat saya. Bayangkan saja, dari sekian banyak leaders yang ada di gereja, Tuhan memilih saya untuk menjabat sebagai gembala sejumlah jemaat, wah...tidak terpikirkan oleh saya. Rasanya tugas itu adalah tugas yang sangat berat untuk saya pikul. Tapi berbekalkan ‘availability’ dan ‘ submission’, maka saya terima juga tugas itu, dengan pemikiran bahwa saya akan melakukannya sementara waktu saja sambil dicari lagi orang lain untuk melakukannya. Dan karena pemikiran saya tadi, maka saya sama sekali tidak menyiapkan diri untuk sebuah ‘pentahbisan’ gembala atas diri saya. Dan entah kenapa, ketika diberitahukan bahwa akan ada peneguhan itu, rasanya saya ingin melarikan diri dari sebuah tugas yang tidak ringan itu. Dan memang itulah yang saya lakukan tepatnya. Hari itu, dengan sengaja saya menerima tugas pelayanan ke luar kota sehingga saya pikir acara itu bisa ditunda atau malah dibatalkan kalau perlu. Tapi herannya, gembala senior saya malah mengatakan bahwa beliau akan menunggu kepulangan saya sampai jam berapapun, dan juga mengatakan bahwa acara peneguhan itu tidak akan ditunda atau dibatalkan tapi akan tetap dijalankan. Saya habis akal rasanya mendengar hal itu. Dalam perjalanan pulang saya dari kota tersebut, sepanjang jalan saya berdoa banyak dan bertanya-tanya apakah memang hal ini Tuhan inginkan dari saya, sehingga harus begini jadinya. Ditengah doa-doa saya itu, Tuhan berbicara kepada saya melalui ayat Firman Tuhan di atas tadi. Saya terkejut mendapatkan ayat tersebut dan meminta ampun pada Tuhan karena saya berusaha menjauh dari rencanaNya. Sore itu pun saya tiba di gereja satelit di mana saya ditugaskan, dan benar saja kebaktian masih berlangsung, sesuai dengan janji gembala senior saya, beliau benar-benar menunggu saya datang dan melangsungkan peneguhan tersebut. Ya Tuhan, saya menangis terharu karena kebaikan dan kepercayaan yang Tuhan berikan pada saya. Siapa saya sebenarnya, Tuhan...sampai Engkau memberikan tugas yang tidak ringan ini untuk saya. Tapi ayat itu berbunyi dalam hati saya bahwa “Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkatNya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapiNya.” (I Samuel 2 : 10b). Ya, janji Tuhan itu sungguh menguatkan hati saya. Saya percaya kalau sampai saat itu saya bisa melakukan tugas itu dengan baik, bukan karena kuat atau gagah saya, tapi benar-benar karena kekuatan yang Tuhan berikan kepada saya. |
|
Read more...
|
|