Home Artikel Rohani Column By Sariwati AKU MEMILIH UNTUK SENDIRI
AKU MEMILIH UNTUK SENDIRI PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 20 May 2010 08:16

Kejadian 18:19  Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

 

                Kebersamaan dalam keluarga itu paling indah. Saat-saat yang paling menyenangkan adalah ketika bisa berada bersama dengan keluarga besar, saling bercanda dan melemparkan kata-kata lucu dengan respon yang ramai dan tidak ada habisnya. Keluarga adalah  harta yang tak ternilai dari semua berkat yang Tuhan berikan kepada kita.

                Dapat dibayangkan bagaimana perasaannya, ketika ia berada di tengah-tengah keramaian itu, di mana setiap orang bisa berada di antara mama papanya, bercanda dan saling berpelukan. Hampir setiap anak menunjukkan prestasinya dengan bangga dihadapan orang tua mereka yang menyambutnya dengan kehangatan dan kebanggaan yang sama. Pelukan dan ciuman mesra diberikan kepada mereka semua dengan tak henti-hentinya kata-kata pujian dilontarkan.

                Sementara itu, ia ada di sana, diantara keramaian itu tanpa ditemani siapapun. Sendirian, tidak ada orang tua yang menemani, tidak ada juga saudara. Sementara semua teman yang ia kenal saat itu sedang asyik dengan kesibukannya masing-masing bersama dengan keluarga.

                Ia hanya bisa memandang iri kepada semua itu. Ia tidak pernah merasakan belaian lembut mama sejak ia masih kecil. Orang tuanya berpisah, dan keadaan memaksa ia dipisahkan dari kakak-kakaknya. Dan sejak itu ia harus ikut seseorang yang ia anggap neneknya. Dalam hatinya tersimpan sejuta pertanyaan, mengapa harus ia yang mengalami ini? Mengapa harus ia yang dipisahkan dari keluarganya itu? Mengapa bukan kakaknya? Apa yang salah dengan ia?

                Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah ada jawabannya itu mengikutinya seumur hidupnya. Dan sampai hari inipun saya yakin ia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Tidak ada yang bisa menjawabnya, tidak mamanya, tidak juga papanya. Yang pasti, ia merasa harus hidup sendiri, tumbuh berkembang sendiri, bekerja sendiri, dan mencari arti hidup sendiri.

                Ketika ia menemukan komunitas dimana ia bisa mengenal Tuhan dan bertumbuh, saat itu merupakan moment yang paling indah dalam hidupnya. Dia mengenal arti persaudaraan dalam Tuhan, mendapatkan banyak saudara seiman yang sekaligus menjadi saudaranya dalam segala hal. Pergaulan mereka dan kedekatan itu memberikan penghiburan yang ia butuhkan dalam hidupnya.

                Bahkan satu kali, ketika ia dipertemukan dengan seseorang yang kemudian menjadi suaminya, impiannya untuk membangun kehidupan yang lebih baik pun seperti terpenuhi sudah. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan itu tetap ada dan tetap tidak terjawab, namun setelah pernikahan itu dia berharap bisa menggantikan semua yang hilang itu. Ia memasuki pernikahan itu dengan penuh keyakinan akan masa depannya. Senyum tidak pernah hilang di bibirnya, sekalipun ia tidak tahu apa yang menunggu di depannya.

                Tahun-tahun pertamanya dilewati dengan kerja keras. Dia bukan menikahi seorang pangeran yang kaya raya yang bisa membuat dia berleha-leha, tapi sungguh harus melewati waktu yang membuatnya berpikir keras bagaimana menabung dan mengatur keuangan untuk masa depan. Dan sebagai seorang istri, rasanya dia layak untuk mendapatkan acungan jempol untuk kegigihan dan kesetiaannya.

                Anak pertama lahir tak lama setelah ulang tahun pertama pernikahannya. Walaupun mereka belum menginginkannya sebenarnya, tapi tentu anugerah Tuhan tidak mungkin ditolak bukan?  Jadi mereka menerima kehadiran anak ini dengan sukacita sekaligus kebingungan dengan biaya yang bertambah tiba-tiba. Namun, puji Tuhan iman mereka pada Tuhan membuat kehidupan mereka selalu diberkati pada waktunya. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat bagi mereka.

                Kerja keras dan doa yang mereka lakukan akhirnya membuahkan hasil. Satu hari, sang suami dipindah tugaskan ke Jakarta. Tentunya dengan pendapatan dan fasilitas yang lebih baik. Hal ini membuat dia berbunga-bunga dan dengan sukacita ikut pindah ke Jakarta. Disana mereka membeli sebuah rumah kecil dengan perabot yang cukup untuk rumah sederhananya. Ia tidak menuntut banyak. Ia merasa bahagia dengan keadaannya selama mereka ada bersama-sama.

                Satu hal yang disayangkan, sejak kepindahannya ke Jakarta, ia jadi kehilangan komunitas itu. Saudara-saudara seimannya tidak bisa ia bawa ke Jakarta. Di sini, sekalipun ia pergi dengan suaminya, tapi ia kehilangan komunitas itu. Komunitas yang selama ini memberinya penghiburan dan kekuatan di kala sepi. Sekarang ia merasa sendiri lagi ditengah keberadaan suami, anak dan neneknya tentunya.

                Jakarta membuat ia jauh dari Tuhan. Dengan alasan belum ada teman, di sana mereka jarang pergi ke gereja. Sedikit demi sedikit keadaan ini membuat mereka semakin menjauh dari Tuhan. Dengan menjauh dari Tuhan, ditambah dengan model pergaulan yang berbeda, tanpa ada komunitas di sekitar mereka yang bisa menguatkan dan mengingatkan, akhirnya membuat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

                Sang suami yang ia cintai, yang ia bela selama ini, terjatuh ke dalam dosa perzinahan yang membuat dadanya sesak ketika ia mengetahuinya.  Suaminya berselingkuh dengan perempuan yang entah seperti apa. Bagai halilintar di siang bolong ia menerima hal itu. Rasa sakit yang memang sudah ada sejak ia dikhianati orang tuanya, kini menganga kembali. Ketidak setiaan suaminya sulit ia terima. Hatinya menjerit tertahan, tapi ia tidak punya tempat untuk mencurahkannya. Apalagi saat itu ia juga cukup jauh dari Tuhan. Yang bisa ia lakukan hanya marah kepada keadaan sekitarnya.

                Cukup lama ia bisa memaafkan perbuatan itu. Tapi sayangnya, belum lagi luka itu kering, ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya melakukannya lagi, dan lagi. Rasa sakit itu sudah tidak tertahankan lagi kali ini. Ia berusaha bisa mengerti dan menerimanya, tapi kesabarannya habis sudah. Emosinya sudah tidak tertahankan lagi. Terlalu dalam luka yang dihasilkannya. Rasa marah, malu dan sakit sudah tercampur aduk jadi satu membuat ia bertekad untuk keluar dari rumah itu, dan juga berusaha keluar dari pernikahannya itu. Anaknya....cuma itu yang ia pikirkan sebenarnya. Tapi ia merasa tidak berdaya kalau ia membawa anaknya juga. Ia tidak tahu harus diberi makan apa, dan harus diasuh oleh siapa.

                Setelah pemikiran yang cukup lama, akhirnya ia memutuskan pergi tanpa  membawa anak satu-satunya itu. Ia berpikir bahwa ini untuk kebaikan anaknya itu juga. Biarlah satu waktu anaknya ini mengerti apa yang menjadi keputusannya itu. Bukan karena ia tidak mencintainya, tapi karena ia sadar keterbatasan yang ia miliki.

                Hatinya kini sudah tertutup untuk suaminya. Ia merasa sudah cukup berkorban selama ini, tapi ia merasa tidak dihargai dengan tingkah laku suaminya yang tega mengkhianatinya.

                Sementara suaminya mencoba untuk merebut hatinya kembali, ia sudah merasa dingin dan benar-benar tidak mau kembali ke rumah itu. Ia merasa jijik setiap kali melihat suaminya. Ia berharap tidak akan pernah bertemu dan melihat wajahnya lagi.

                Di tengah-tengah pergumulan itu, ia ingat dengan apa yang dilakukan mamanya dulu. Hanya saja, hal itu bukan menggugah hatinya untuk memperbaiki dan memulihkan rumah tangganya yang porak poranda, tapi membuat dia berpikir, kalau ia saja bisa tetap hidup dan melewati semua badai dan kesendiriannya selama ini, ia yakin kalau anaknya pun pasti bisa melewatinya.

                Ia lebih memilih untuk mulai merajut impiannya yang tertunda selama ini. Dengan berbekal sedikit uang dan pengetahuan, akhirnya ia pindah ke negeri seberang. Mencoba mengadu nasib di sana, dan berusaha membuktikan dirinya kepada dunia, bahwa ia sungguh bisa berdiri sendiri tanpa tergantung pada siapapun.

                Apalagi sekarang, setelah surat cerai tiba di tangannya, ia merasa seperti burung merpati yang dilepas keluar dari kandangnya, terbang bebas tanpa rintangan dan tanpa beban. Kini ia kembali sendiri, mau mulai merajut kembali kehidupan yang pernah ia rasakan dulu. Ia lebih memilih untuk kembali sendirian. Pilihan itu miliknya, dan ia merasa bahwa inilah pilihan terbaik yang pernah ia lakukan selama ini. Memilih untuk sendiri. Entah kapan ia akan melepaskan kesendiriannya itu, yang pasti tidak sekarang. Anaknya? Ia akan selalu ada di hatinya, dan akan tetap jadi anak kesayangannya. Tapi ia akan menahan perasaannya demi kebaikan anaknya.

                Pertanyaan yang dulu ada di hatinya kini mulai terjawab. Apa yang ia alami kini, membuatnya mengerti mengapa mamanya mengambil keputusan yang sama. Hanya satu yang ia khawatirkan kini, apakah pertanyaan yang sama akan muncul dalam diri anaknya itu satu waktu nanti? Akankah ia memaafkannya nanti? Akankah ia mengerti satu waktu nanti? Biarkanlah waktu dan pengalaman hidup yang akan menjawabnya nanti. Sementara ini, biarlah ia menikmati pengalaman yang baru ini. Tuhan? Mudah-mudahan Tuhan mengerti dengan keputusan yang ia ambil dan mau mengampuninya.

                Pengalaman ini merupakan kisah nyata seseorang yang saya kenal dan saya sayangi.  Apapun yang pernah ia alami, sangat saya mengerti. Hanya doa yang bisa saya sertakan buat dia, supaya sungguh ia bisa menemukan kasih yang sejati dalam hidupnya. Mudah-mudahan tidak pernah terlambat baginya untuk menyadari bahwa sesungguhnya ia sangat berharga bagi Tuhan. Dan Tuhan menantikannya untuk kembali kepada kasihNya seperti dulu lagi.

               

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de