BERPIKIR SEDERHANA PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 18 August 2008 16:18

Roma 12:16  Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

                Banyak kali kita menganggap bahwa jika kita dapat memikirkan hal-hal yang hebat dan jauh dari kemampuan kita yang sebenarnya maka itu artinya kita hebat, sehingga segala sesuatu akan dibuat rumit. Bahkan kita akan menyeret orang lain dalam kerumitan kita itu.

                Bukan kebetulan kalau saya adalah orang yang simple dan sangat mengalir, karena karakter sanguin saya cukup besar. Saya bukan tipe orang yang terlalu pusing dengan metode. Kalau ada cara yang paling mudah untuk melakukannya, maka saya akanmemilih cara itu. Bahkan dalam pemilihan makanan dan pakaianpun orang akan bisa melihat karakter saya itu. Tidak pemilih, yang penting bersih, enak dan mengenyangkan kalau soal makanan, dan nyaman dikenakan dan cocok untuk karakter saya untuk pakaian.

 Saya bukan orang yang akan terlalu pusing untuk menambahi bumbu ke dalam semangkuk baso yang disajikan dihadapan saya. Apa yang disajikan, itu yang akan saya santap. Bahkan saya sering lupa kalau sebetulnya saya bisa menambahkan garam jika memang terasa kurang asin, atau menambah kecap jika kurang manis. Ya, tapi memang itulah saya.

                Bahkan dalam mengatur rumah dan pekerjaan saya yang sangat bertumpuk, saya akan memakai cara yang kurang lebih sama. Mengalir. Saya bukan orang yang terlalu banyak berencana. Apa yang saya pikirkan, itu yang akan saya jalankan biasanya. Memang kurang baik sebenarnya, tapi beruntung dengan karakter kolerik saya maka saya juga tipe orang yang cukup tekun untuk mewujudkan sesuatu. Saya akan terus memotivasi diri saya sendiri untuk melakukan banyak inovasi dan perubahan dalam pola kerja saya. Dan saya juga akan mendorong diri saya untuk melakukan pekerjaan saya sampai tuntas. Saya bukan tipe yang bekerja setengah-setengah. Saya orang yang punya komitmen dalam melakukan tugas saya. Tapi saya tidak suka dengan kerumitan. Saya akan mengusahakan segala sesuatu dengan cara yang sederhana.

                Dulu, saya pikir kesederhanaan adalah sesuatu yang memalukan. Mungkin karena kata sederhana biasanya identik dengan kekurangan dan kemiskinan. Padahal ternyata sama sekali tidak sama. Sederhana bukan berarti tidak punya atau kurang. Sederhana artinya menerapkan atau menggunakan yang perlu saja, dan tidak mau ada yang berlebihan. Sederhana, atau bahasa Inggrisnya – simple – identik dengan gaya minimalis. Hanya mau menerapkan segala sesuatu yang tidak terlalu detail atau rumit. Namun ternyata minimalis atau simple itu bukan berarti tidak bisa tampil memukau atau tampak keren. Coba saja perhatikan sekelliling kita, sekarang ini begitu banyak orang yang suka dengan gaya minimalis. Sederhana namun menawan.

                Dalam berkotbah, saya sering merasa minder karena sebenarnya apa yang saya bagikan sangat sederhana menurut pemikiran saya. Saya memang tidak terlalu pandai meramu ayat-ayat Alkitab begitu rupa yang dapat memberi kesan bahwa saya seorang akhli Alkitab yang handal. Apa yang saya bagikan lebih dari pengalaman saya sendiri bersama dengan Tuhan. Apa yang Tuhan bagikan, itulah yang saya lakukan, dan itulah yang saya bagikan. Terkadang saya merasa kurang berguna jadinya. Sepertinya kotbah-kotbah saya tidak terdengar cerdas bagi sebagian ahli teologia. Tapi karena Tuhan terus menyuruh saya maju, saya maju juga.

                Puji Tuhan, memang bukan karena kuat dan gagah kita tapi karena RohNya maka semua yang saya bagikan dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Ada begitu banyak orang yang mendengarkan kotbah saya merasa diberkati, banyak pendengar radio yang mengatakan bahwa mereka sangat diberkati dengan apa yang saya bagikan lewat program radio, dan saya percaya diantara banyak pendengar itu banyak yang akhirnya datang pada Yesus. Dan dari semua laporan itu, sepertinya Tuhan mau menunjukkan kepada saya bahwa saya memang tidak perlu berpikir yang lebih tinggi dari kemampuan saya. Pikirkan saja perkara yang sederhana, dan dari semua itu Tuhan yang akan membuatnya jadi indah dan berguna. Jangan menganggap diri kita pandai.

                Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri untuk membaca kumpulan kotbah dari pengkotbah dunia Kathryn Kuhlman. Saya melihat bahwa apa yang dia bagikan pun sangat sederhana. Bukan sesuatu yang rumit, tapi dari kesaksian orang-orang yang pernah bekerja sama dengan dia, kotbah Kathryn Kuhlman ini sangat diurapi dan besar kuasanya. Jadi, benarlah kalau dikatakan bukan karena kuat dan gagah kita, tapi oleh RohNya. Kalau hanya mengandalkan isi kotbahnya saja, siapapun dia orangnya, pasti tidak akan dapat menundukkan satu jiwapun bagi Tuhan. Tapi karena ada penyerahan diri dan urapan dari Tuhan, maka kotbah yang sederhana itu menjadi luar biasa. Dan saya sangat terinspirasi oleh pengkotbah wanita ini untuk bisa lebih dekat dengan Tuhan. Karena ternyata kunci dari semua itu adalah keintimannya dengan Tuhan. Itulah yang membuat kotbahnya menjadi luar biasa dan sangat powerful.

                Di dalam kesederhanaan cara berpikir Daud, Tuhan memberikan power yang luar biasa. Daud selalu bertanya pada Tuhan untuk segala keputusan yang harus ia ambil. Bukan berarti ia itu bodoh, tapi karena Daud sangat menghargai Allahnya dan menaruh Allah di atas segalanya. Ia berpikir sangat sederhana, bahwa dunia dan segala isinya ini adalah miliknya Tuhan, dan Daud adalah hambaNya, maka ia harus selalu bertanya kepada pemilik alam ini untuk setiap keputusan apapun. Dan dengan kesederhanaan inilah ia dibawa Tuhan terus naik dan menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan.

                Saya tidak tahu apa yang sedang anda hadapi hari ini. Tapi saya mengajak anda untuk berpikir sederhana saja. Ikuti apa yang Allah tuliskan dalam Alkitab dengan iman, dan dengan rendah hati menyerahkan diri dan semua yang kita miliki itu kepada Tuhan, ijinkan Dia merubah kehidupan anda menjadi luar biasa. Bukan kita yang akan menilai seberapa baik dan buruknya kita. Biar Allah saja yang melakukannya.

                Jadi, yo..kita mulai memikirkan perkara-perkara sederhana yang dari Allah, Filipi 4:8  Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

                Percayalah, ketika kita melakukannya pasti Allah akan sanggup membuat semua yang biasa dan sederhana itu menjadi luar biasa. Amin.

By : Pastor Sariwati Goenawan (IFGF GISI CIBABAT)

 
Designed by vonfio.de