| GOD’S VESSEL |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Saturday, 24 December 2011 08:00 |
|
“Oeeeeeekkkk.....oeeekkk...”begitulah biasanya tangisan bayi yang pertama kali menghirup udara dunia ini. Setelah sembilan bulan terkurung dalam ‘rumah’ pribadinya, tidak ada yang mengganggu, tidak ada aktivitas lain selain berputar-putar dalam ‘kurungan’ itu, sekarang tiba-tiba ia harus menatap sinar terang dan mendengar suara gaduh lain. Uuuuuhhh...!!!! Dan bagi orang tuanya, teriakan bayi itu artinya sebuah tombol ON besar sudah menyala dan...tidak ada waktu untuk mengembalikannya. Karena di sebelah tombol itu tidak ada tombol OFF sama sekali. Artinya...terlambat untuk membatalkannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menerima kehadiran ‘buntelan’ kecil itu. Buat aku dan suamiku, saat itu adalah saat yang sangat membahagiakan dan memang kami nanti-nantikan. Tapi buat yang lain, siapa yang tahu? Masing-masing tentunya punya problem sendiri tentang hal ini, dan kami tidak berhak menghakimi atau mengajari harus ini dan itu. Ketika Jonathan kecil ada dipangkuanku, masih segar dalam ingatanku bagaimana kami, aku dan suamiku, begitu kagum akan penciptaan Allah yang begitu sempurna. Wajahnya yang begitu tampan, bibirnya yang kecil tersenyum manis dalam dekapanku. Matanya tertutup rapat menikmati kehangatannya, sambil ke dua tangannya mengepal, tampak jari-jarinya yang kecil dan lucu. Tubuhnya memancarkan keharuman khas bayi. Aku suka mencium bayi. Harum dan memberi sensasi tersendiri. Rasa sayang akan mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan. Setiap kali perawat di rumah sakit itu mengantar bayiku ini ke kamarku, maka aku akan berlama-lama mendekapnya dan menciuminya. Dan seperti mengetahui rasa sayang kami, Jonathan kecil pun akan memberikan senyuman yang manis. Sangat menyenangkan rasanya. Dan aku benar-benar merasa tidak rela ketika perawat datang dan mengambilnya untuk dimasukkan kembali ke ruang bayi yang ada di rumah sakit tersebut. Ada perasaan kehilangan, walaupun sebenarnya aku tahu bayi itu akan dibawa ke tempat yang aman dan nyaman baginya. Dan di saat Natal ini tiba, aku mencoba memahami hati dari seorang ibu yang mengandung bayi Natal itu. Maria.
Ia adalah perawan yang belum tersentuh laki-laki, tapi dengan bantuan Ilahi bisa mengandung seorang bayi. Sama seperti wanita lainnya, ia pun harus membawa bayi itu dalam kandungannya selama sembilan bulan. Tidak ada dispensasi. Dan aku yakin, selama sembilan bulan itupun ada ikatan batin yang sangat kuat dengan sang bayi tersebut.
Hati seorang ibu di manapun kurang lebih sama. Siapa yang bisa menahan rasa cintanya terhadap bayi tersebut? Ketika sang bayi lahir ke dunia ini, mengeluarkan tangisan pertamanya...tentu akan membuat Maria juga langsung jatuh hati. Seluruh kekuatan yang ia miliki akan ia kerahkan bagi bayi itu sekarang. Meskipun ia tahu bahwa ini bukan bayi sembarangan, karena ia mengandung bayi Allah sendiri, namun secara manusia...bayi itu adalah putranya. Anak yang dikasihinya, anugerah yang besar dari Allah bagi dunia ini dan bagi dirinya. Semua ibu dalam kondisi normal akan mengalami hal tersebut. Namun, Maria berbeda. Ia sepertinya disadarkan bahwa akan ada banyak peristiwa besar untuk bayi ini di masa-masa yang akan datang. Kehadirannya dalam kandungannya sangat istimewa. Orang-orang yang mengunjungi kelahirannya pun sangat istimewa. Belum lagi tiga majus yang sengaja datang kesana dari jauh...ooohh itu bukan main-main. Mereka mengatakan bahwa mereka mengetahui kelahiran bayi itu dari sebuah bintang besar di timur. Rasanya kalau bukan Allah sendiri yang menuntun mereka, mana mungkin mereka akan sampai ke tempat terpencil itu. Apalagi ketika para gembala juga mengatakan bahwa mereka mengetahui kelahiran anak itu dari para malaikat yang datang kepada mereka...waaahh sepertinya itu bukan hal yang biasa. Maria menyimpan semua itu dalam hatinya. Penuh tanda tanya, tapi ia tahu posisinya. Ia hanya hamba Tuhan...biarlah terjadi kepadanya sesuai kehendak Tuhan saja. Ketika Jonathan kecil dibawa perawat pergi ke ruangannya saja sudah membuatku merasa sedih. Aku merasakan seperti dipisahkan dengan bagian dari hidupku. Padahal hanya untuk beberapa saat saja. Aku mencoba menempatkan diriku menjadi Maria. Walaupun ada bagian kecil dari kepanjangan namaku juga menggunakan nama Maria, tapi aku tahu bahwa apa yang dialami Maria ibu Yesus itu benar-benar istimewa, dan hanya orang yang terpilih saja yang sanggup mengalaminya. Bagaimana pun, tidak akan ada Paskah tanpa hari Natal. Hati seorang ibu mana yang sanggup menyaksikan kesengsaraan yang harus dialami anaknya? Apalagi jika ibu itu tahu dengan pasti bahwa anaknya tidak memiliki kesalahan apapun yang layak untuk dihukum seperti itu. Namun itulah yang terjadi. Maria terpilih menjadi ‘kendaraan’nya Allah datang ke dunia ini dengan membawa segudang kasih yang tak terbatas. Siapapun yang mau datang kepadaNya pasti akan menemukan kasih itu. Selalu ada persediaan kasih dan pengampunan di dalam pelukan Yesus. Namun justru karena kasih itulah makanya Dia harus mengalami semua proses sengsara tersebut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hati Maria ketika itu. Ia memang menyadari bahwa itu bukan darah dagingnya, karena benih Ilahi lah bayi itu bisa ada. Namun biar bagaimanapun, bayi itu pernah ada dalam dirinya, bergerak bersamanya dan bertumbuh di dalam dia. Bayi itu tetap akan menjadi bagian dari hidupnya. Ia pasti merasa sedih dan sakit ketika melihat penderitaan dari putranya. Tapi Maria hanya bisa menyimpannya dalam hati. Tak kuasa menahan perasaannya, tapi ia menyadari sekali lagi...ia hanya hamba Tuhan..biarlah terjadi kepadanya sesuai kehendak Tuhan saja. Sobatku, di hari Natal ini ada perenungan yang dalam yang harus kita lakukan. Sama seperti Maria, kita semua adalah ‘kendaraan’nya Tuhan untuk membangun visiNya Allah dalam mendirikan kerajaanNya di dunia ini. Dan di dalam prosesnya, visi itu pun harus mati lebih dulu sebelum akhirnya bisa bertumbuh. Yohanes 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Sama seperti Maria, apakah kita bisa menerima setiap kali visi dan mimpi kita itu ‘dihancurkan’ dan ‘mati’? Atau kita akan terus berteriak dan tidak bisa menerima kenyataan itu? Atau bisakah kita seperti Maria yang hanya menyimpannya dalam hati dan berkata ‘aku ini hamba Tuhan...terjadilah kepadaku menurut kehendakMu’? Ketika kita bisa melakukannya, dengan iman yang penuh akan kehendak Tuhan dalam hidup kita, satu hari kita akan seperti Maria yang bersuka cita ketika melihat putraNya dibangkitkan dalam kemuliaan dan kuasa Allah. Dan seperti itu jugalah kita akan melihat bagaimana visi itu dilahirkan kembali dengan kemuliaan Allah, dibangun dan direalisasikan menjadi satu bagian yang tidak bisa diambil daripada kita, karena kita mempersembahkannya untuk kemuliaan Tuhan. Nantikan Dia , karena Dia itu hidup dan bergerak di dalam kita senantiasa. KuasaNya lah yang akan memberikan kekuatan kepada kita. Mari kita jadi kendaraannya Allah dengan penuh sukacita dan suka rela. Stay blessed. By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |





Lukas 1 : 38