| I AM JUST HIS TOOL |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Friday, 09 April 2010 11:03 |
|
I Timotius 4 : 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Saya bersyukur bahwa sebagai hamba Tuhan, saya bisa dipakai di dalam pelayanan mimbar sebagai pembawa firman di mana-mana. Dan selama hampir sepuluh tahun dalam melakukannya, bisa dikatakan sudah cukup banyak saya melakukannya. Bahkan hampir tidak ada hari Minggu yang saya lewati tanpa tugas menyampaikan firman. Menyenangkan sekali dapat melakukannya. Tapi sepanjang saya terlibat dalam pelayanan ini, seringkali saya merenungkan dan mengingatkan diri saya sendiri beberapa hal supaya saya tidak terjebak ke dalam pemikiran bahwa sayalah yang menjadi populer dan bukan nama Tuhan yang dipermuliakan. Seperti yang dikatakan di dalam Yohanes 3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Dan jika yang terjadi justru sebaliknya, bukankah itu artinya saya membawa bencana bagi diri saya sendiri? Hamba macam apa saya ini.
Sejak pertama kali Tuhan membawa saya ke dalam pelayanan firman, sejak itu pulalah saya mendapatkan satu gambaran, tugas apa yang sebenarnya Tuhan mau saya lakukan. Dia menginginkan saya untuk menjadi media, atau alatNya untuk menyampaikan Kebenaran itu. Tapi tentu saja segala hikmat, ilham dan pewahyuan akan muncul dari diriNya sendiri. Saya percaya sekali bahwa Dia tidak akan pernah ijinkan siapapun untuk mengambil alih hak ini. Karena itulah, di dalam lubuk hati saya yang terdalam dan di dalam otak saya yang kecil ini, saya selalu mengingatkan diri saya sendiri untuk selalu tunduk kepada otoritas Allah yang Maha Tinggi itu. Pengalaman pertama saya ketika membawa firman di hadapan jemaat Tuhan, itu sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya ingat sekali bagaimana Tuhan meminta saya untuk menyampaikan satu pengajaran yang baru saja saya pelajari dan saya terapkan dalam hidup saya. Kalau saudara mengikuti tulisan-tulisan saya di web ini, tentu anda ingat dengan pelajaran tentang ‘ALAMI MUKJIZAT SETIAP HARI’. Pelajaran itulah yang saya ikuti baik-baik, dan saya lakukan dengan taat dan setia dengan penuh iman kepada Tuhan, dan menikmati hasilnya. Pengajaran itu membawa dampak yang sangat kelihatan dalam hidup saya secara pribadi. Itulah sebabnya saya sendiri rindu agar setiap jemaat Tuhan yang lain juga bisa mengalaminya masing-masing dan membawa perubahan dalam kehidupan mereka. Saya percaya kalau setiap orang pasti ingin mendapatkan satu kemajuan di dalam hidupnya juga. Dan pelajaran itulah yang Tuhan minta saya ajarkan kepada jemaat yang lain di dalam gereja saya ketika itu, sepuluh tahun yang lalu. Ternyata pengalaman itu bukan menjadi satu-satunya kesempatan bagi saya untuk berdiri di mimbar dan membawakan firman. Tapi justru menjadi awal dari pelayanan firman yang saya emban sampai hari ini. Yang sangat menarik dari pengalaman pertama itu adalah, saya menyadari dan mengalami bagaimana Tuhan sendiri yang menuntun saya untuk berbicara. Berbagai ilham dan hikmat mengalir begitu saja melalui otak saya yang kecil ini, dan kata demi kata mengalir seperti sungai tiada henti melalui lidah bibir saya. Sekalipun saya memang mempunyai pengalaman yang cukup baik dalam hal public speaking, sehingga saya tidak mengalami yang namanya demam panggung sama sekali, tapi berkotbah tentu sesuatu yang berbeda dari sekedar berpidato atau menjadi MC. Pengalaman pertama itu membawa saya pada kesadaran bahwa dalam menjadi penyampai firman, sekalipun kita memang sudah mempersiapkan bahannya terlebih dahulu, tapi kenyataannya kita juga harus siap mengosongkan diri kita dan mempersilakan Roh Kudus untuk bekerja secara optimal melalui diri kita. Doa dan hubungan pribadi bersama Tuhan adalah modal utama dalam mendapatkan apa yang Tuhan ingin bagikan melalui kita. Ya, tentu saja. Bukankah kita para hamba Tuhan selalu mengatakan bahwa kita sedang menyampaikan firman Tuhan? Bagaimana bisa kita menyampaikannya tanpa bertanya lebih dahulu kepadaNya? Jadi, hal utama yang harus kita lakukan adalah datang kepadaNya dan bertanya apa yang menjadi kehendakNya untuk disampaikan pada hari itu. Dan akan menjadi pengalaman yang menarik ketika kita menyadari bahwa ketika di mimbar, seringkali akan muncul ilham dan hikmat yang belum kita persiapkan sebelumnya, atau bahkan tidak terpikir sama sekali sebelumnya, itu bisa mengalir begitu saja ketika kita berdiri di mimbar dan menyampaikannya. Justru sebenarnya, pengalaman inilah yang paling menarik bagi saya. Disitulah kita, para hamba Tuhan, bisa merasakan otoritas Allah yang sebenarnya. Dialah yang menjadi sumber hikmat itu, dan kita hanyalah alat yang Dia pakai untuk menyampaikannya. Jadi, sekalipun banyak orang setelah ibadah selesai mengomentari kotbah tersebut dan mengatakan betapa mereka diberkati, saya tidak merasa heran dan juga tidak menjadi bermegah seakan-akan semua itu berasal dari saya pribadi. Bukan suatu hal yang aneh kalau banyak orang diberkati. Bukankah itu memang firman Tuhan? Bagaimana bisa mereka tidak diberkati oleh firman Tuhan? Bukankah kita semua memang membutuhkannya? Dan siapa saja yang mau dengan rendah hati mendengar dan menerimanya, tentu akan mengalami penyegaran dari firman tersebut. 2 Timotius 3 : 16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran Yang aneh adalah justru kalau orang merasa tidak diberkati atau merasa ‘garing’. Tentu ada yang salah telah terjadi. Bisa karena hamba Tuhan itu menjadi saluran yang kurang baik hari itu, tapi bisa juga kemungkinan besar karena kita yang kurang mempersiapkan diri kita dalam menerima firman hari itu. Tapi tentu saja, sebelum menudingkan jari kita kepada yang lain, introspeksi lebih dahulu diri kita sendiri. Bagi saya, menjadi penyampai Tuhan adalah satu kehormatan dalam hidup saya yang tidak bisa saya bandingkan dengan apapun. Saya belajar untuk menerimanya dengan kerendahan hati, dan bukan menjadi satu hal untuk menyombongkannya seakan-akan saya ini lebih hebat dari yang lain. Karena kenyataannya, kita sebagai hamba Tuhan justru harus semakin berhati-hati, karena kalau kita sendiri mengajarkannya tapi kita tidak melakukannya, akan ada akibat yang fatal yang akan Tuhan tuntut dari kita. 1 Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Bayangkan saja, kalau seandainya hal itu terjadi. Betapa ruginya kita. Setelah sekian lama bekerja keras dan melakukannya, mengajak dan mempromosikan keselamatan itu kepada setiap orang. Dan kita sudah menghitung-hitung bahwa betapa banyaknya buah yang sudah kita hasilkan bagi Tuhan, di mana seharusnya kita berdiri di hadapan tahta Tuhan dengan satu sukacita pemikiran akan memperoleh hadiah mahkota itu, tapi ternyata Tuhan berkata bahwa Dia tidak mengenal kita. Alangkah malangnya nasib kita. Saya tidak mau hal itu terjadi dalam hidup saya. Anda juga pasti tidak akan mau mengalaminya. Karena itulah, apa yang menjadi pengalaman awal saya ketika berkotbah, benar-benar menjadi satu pelajaran yang berharga. Bahwa sesungguhnya, kita hanyalah alatnya Tuhan. Semua hikmat dan pemikiran itu berasal dari Tuhan sendiri. Dialah yang mempunyai kerinduan atas semua itu, dan Dia akan pakai kita seperti layaknya sebuah ‘pengeras suara’. Dia ada dibalik semua firman itu. Dialah sesungguhnya yang ingin menyampaikannya, dan kita hanyalah alatNya.
Kalau semua hamba Tuhan menyadari hal ini, saya percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang akan bisa memegahkan diri karenanya dan mengatakan atau menunjuk seakan-akan yang satu lebih besar dari yang lain. Semua akan saling menghargai dan menghormati sesuai dengan fungsi kita masing-masing di hadapan Tuhan. Ayo para hamba Tuhan, mari kita taruh diri kita sedemikian rupa di hadapan Tuhan menjadi alatNya yang fungsional dan efektif, tanpa sedikitpun berpikir untuk membesarkan nama kita. Karena segala kemuliaan itu hanya bagi nama Tuhan. Kalau mungkin satu waktu kita akan merasa bahwa nama kita banyak dikenal orang, anggaplah itu sebagai upah dari kesetiaan kita, tapi tentunya janganlah ketenaran itu menjadi tujuan pelayanan kita. Diatas segalanya, biarlah nama Tuhan yang menjadi makin dikenal dan makin besar. Ingatlah satu hal : Yesaya 42:8 Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Amin.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |




