| KEPINGAN PUZZLE TERAKHIR |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Friday, 16 April 2010 09:59 |
|
Yesaya 33 : 5 - 6 TUHAN tinggi luhur, sebab Ia tinggal di tempat tinggi; Ia membuat Sion penuh keadilan dan kebenaran. Masa keamanan akan tiba bagimu; kekayaan yang menyelamatkan ialah hikmat dan pengetahuan; takut akan TUHAN, itulah harta benda Sion.
“Ayo Tuhan, satu langkah lagi. Keputusan terakhir, dan selesailah sudah,”doanya dalam hati sambil memandangi wajah sang pemilik ruko yang akan dia over kontrak. Wajahnya Nampak serius membaca surat perjanjian yang sudah dibuatnya beberapa hari yang lalu. Sementara tangan kanannya sudah memegang sebatang bolpen untuk mencoretkan tanda tangannya di atas meterai yang sudah tertempel rapi. Senyum lebar muncul dalam hatinya sambil membayangkan apa yang akan ia lakukan dengan ruko itu. Letak-letak etalase kue akan tertata di mana, itupun sudah ada dalam pikirannya. Semuanya sudah terbayang dengan jelas. Sangat menyenangkan. Calon-calon pembeli sudah terlihat dalam bayangannya. Banyak orang yang datang dan akan membeli. “Toko kue ku pasti akan laris. Yesss…!!!”begitulah keyakinannya. Hatinya berdegup kencang menantikan saat-saat itu. Detik demi detik berjalan terasa sangat lambat. Bagaikan sebuah filem yang di-slow motion…tak habis pikir melihat apa yang kira-kira ada dalam pikiran pemilik ruko tersebut. Mengapa lama sekali? Hanya tinggal mencoret-coret sedikit, selesai sudah. Rasanya tidak perlu selama itu bukan? Dia menanti dengan menahan sabar. Padahal ingin sekali rasanya ia membantu orang tersebut menaruh ujung bolpen itu di atas meterai, dan….uups…belum selesai keinginan itu terjadi, sudah keburu ada reaksi diluar dugaannya. Bukannya menorehkan tanda-tangan, ternyata si pemilik toko malahan menarik tangannya dan meletakkan bolpen itu di atas meja. Ia memandang ibu itu dengan heran, pandangannya yang penuh tanda tanya tidak dapat disembunyikannya. “Lho…kok??”akhirnya ia hanya bisa mengucapkan dua patah kata itu saja. Dan ibu itu pun kemudian berkata,”Maaf..sepertinya saya berpikir ulang untuk transaksi ini…sekali lagi maaf.” Alhasil, walaupun ia berusaha berbicara dan menanyakan banyak hal untuk meyakinkan ibu itu, tapi toh akhirnya ia harus menerima keputusan akhir hari itu. Transaksi batal, dan segala impiannya dengan ruko itupun buyar seketika. Sangat menyedihkan… Dengan tertunduk sedih ia keluar dari gedung itu, menuju ke mobilnya. Hatinya terluka karena apa yang ia inginkan tidak terpenuhi. Ia menjerit keras, tapi hanya dalam hati tentu saja. “Tuhan…mengapa jadi begini? Mengapa Tuhan? Padahal hanya tinggal langkah terakhir, dan akupun bisa memulai untuk membangun impianku di tempat itu. Tapi apa yang terjadi..semuanya sirna. Aku tidak bisa melakukannya karena semuanya berubah. Apa yang Kaurencanakan Tuhan?”tanyanya di tengah-tengah perjalanannya pulang ke rumah. Aduuuuhhh…padahal, kalau ibarat membuat puzzle…hanya tinggal memasang puzzle terakhir, dan selesailah gambar itu. Dia masih merasa tidak puas karena pembatalan itu. Dan ia masih tidak habis mengerti dengan rencana Tuhan dalam hidupnya. Padahal, gambar puzzle itu sudah tersusun begitu rapi. Semuanya terpasang dengan sempurna, dan tidak ada yang keliru sedikitpun. Di atasnya terbentang gambaran impiannya yang sudah sekian bulan ia rancang dalam pikirannya. Bahkan begitu banyak waktu ia habiskan untuk melakukannya, tapi ia dengan senang melakukannya karena memang itu yang ia harapkan selama ini. Lukisan impian itu terasa apik dan sempurna dalam khayalannya. Dan transaksi hari ini, yang seharusnya menjadi kepingan terakhir puzzle itu akhirnya malah seperti memporak porandakan semuanya, dan ia harus memulainya lagi dari awal. Menyedihkan sekali. Hik-hik hik…isaknya tertahan.
Ya..itu sekelumit gambaran tentang peristiwa yang bisa menimpa siapa saja. Ada kalanya, Tuhan ijinkan kita untuk mengalaminya. Sesuatu yang sepertinya sudah tersusun begitu bagus jadi tidak karuan. Apakah karena Tuhan tidak sayang pada kita? Tentu saja tidak seperti itu. “Rancanganku bukanlah rancanganmu, jalanmu bukanlah jalanku. Sejauh langit dari bumi …” kurang lebih itulah alasan yang ingin Tuhan berikan pada kita. Dan tugas kita hanyalah percaya pada perintahNya. Apa yang Ia ijinkan terjadi pasti bukan sembarangan. Semuanya sudah ada dalam pikiranNya, dan pasti sudah dipertimbangkan dengan sangat baik. Mungkin anda juga sedang mengalami hal serupa hari-hari ini. Semua rencana dan hasil dari meeting demi meeting sepertinya sudah membawa dampak yang positif, tapi ternyata ketika sampai di penghujung, hasilnya tidaklah seperti yang anda inginkan. Apa yang akan anda lakukan selanjutnya? Apakah anda akan menjadi marah kepada Tuhan, dan mulai melakukan siasat pemberontakan? Atau anda akan menyalahkan situasi dan membuat skenario bahwa anda tidak salah, tapi mereka semua yang bersalah? Atau apa? Mari kita kembali kepada dasar iman kita, yang menyatakan bahwa Dia adalah penguasa dan pemegang segala kendali dalam hidup kita. Dia yang sangat besar dan berkuasa itu dapat melihat sampai ke kedalaman hati itu, tentu juga bisa melihat sampai ke titik yang jauh dibandingkan dengan jarak pandang kita yang sempit. Begitu banyak pembatas di hadapan kita, sehingga sekalipun kita melihat segalanya tampak baik hari ini, sebenarnya belum tentu demikian di ujungnya yang tidak bisa kita lihat sekarang. Mengapa kita tidak terus belajar mempercayai apa yang Tuhan rencanakan dalam hidup kita? Bahkan ketika satu peristiwa yang tidak menyenangkan saat itu terjadi, tetaplah percaya bahwa itu diijinkan untuk membawa kebaikan bagi kita. Seperti kisah yang tadi saya ceritakan, saya akan lanjutkan sedikit untuk anda. Kisah itu merupakan true story dari seorang yang sangat saya sayangi, karena itu saya tahu betul kelanjutannya. Setelah akhirnya dia kecewa akan apa yang terjadi hari itu, kemudian dia pulang dan mulai berdoa dan bertanya,’what’s next Tuhan?’ sambil merenungkan kejadian hari itu. Semua impian yang dia bangun sepertinya harus sedikit mengalami perombakan. Tapi dia tidak putus asa. Dia bersedia mengubah lukisan puzzle itu. Seperti tangan yang cekatan, pikirannya merubah semua impiannya dengan desain yang sedikit berbeda. Kali ini dia bertanya lebih detail pada yang Empunya kehidupan. Beberapa minggu kemudian, dia dipertemukan dengan seorang pemilik toko buah-buahan yang mempunyai sudut kecil kosong di tokonya. Sang pemilik ini berniat untuk menyewakannya daripada kosong. Toko buah-buahan itu sendiri cukup laris setiap harinya. Dan akhirnya, dia pun menyewa tempat kecil itu dengan harga yang sangat murah, siap memulai suatu impian yang tertunda dengan cara yang berbeda. Akhirnya, kepingan puzzle itu tetap terpasang dengan rapi, bahkan lebih indah dari yang pernah ia pikirkan. Kini, ia tetap bisa memiliki toko roti impiannya, bahkan dengan satu lokasi yang lebih baik dan lebih ramai, serta biaya yang jauh lebih murah dari rencana semula. Kini ia malah jadi merasa bersyukur dengan semua pembatalan yang ia alami sebelumnya. Sobat, Allah tahu yang lebih baik. Dia bisa melihat lebih tinggi dari kita semua. Mengapa kita tidak belajar mempercayakan hidup kita kepadaNya? Mengapa kita harus selalu berusaha dengan kekuatan sendiri? Tidakkan kita belajar dari hari kemarin? Bukankah kemarin pun kita melewatinya karena tangan Tuhan mencampuri kehidupan kita? Tidakkah engkau belajar bahwa kemarin hampir saja engkau merusak hidupmu sendiri dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu? Kalau demikian, mengapa kita tidak menyerahkan hidup kita sekarang kepadaNya? Biarkan Dia melakukan segala hal dengan caraNya, dan kita percayakan saja seluruh masa depan kita. Dan kita akan bisa melihat pemandangan yang indah dengan cara pandangNya yang ajaib. Amin.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |




