| KETIKA TERHIMPIT JANGAN PUTUS ASA |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Thursday, 29 September 2011 06:03 |
|
2 Korintus 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; Tahukah anda bahwa terkadang kita perlu berada dalam situasi terjepit, terhina dan merasa diremehkan. Karena seringkali justru perasaan-perasaan seperti ini yang akan mejadi kendaraan kita untuk berjalan maju kalau kita meresponinya dengan benar. Tidak ada satu orangpun yang suka dan tahan dengan cercaan, tekanan, dan hinaan yang datangnya terus menerus. Secara normal kita pasti ingin kebalikannya. Kita ingin diterima, diakui dan dianggap penting. Semuanya begitu. Anda setuju dengan saya? Ya..itu sangat masuk akal dan sangat wajar. Tapi tahukah anda bahwa seringkali Tuhan bisa memakai peristiwa-peristiwa itu justru untuk membuat kita berjalan maju? Saya menuliskan pernyataan ini karena saya pernah mengalaminya. Sewaktu saya masih kecil, ada masa-masa di mana kondisi perekonomian orang tua saya ketika itu tidaklah mudah. Sebagai akibatnya, banyak waktu di mana mau tidak mau mereka harus meminta pinjaman kepada bank dan juga kepada beberapa orang yang mereka kenal baik untuk menutupi kebutuhan kami dalam menjalankan usaha. Memang sih bukan hal yang aneh, karena banyak orang melakukannya juga. Tapi biar bagaimanapun juga, kondisi ini tentunya membawa kami pada situasi yang tidak terlalu menyenangkan. Apalagi ketika orang-orang yang biasa membantu kami itu sedang dalam kondisi yang juga tidak enak, maka mereka biasanya akan mengeluarkan kalimat-kalimat penolakan yang bagi telinga kami ketika itu sangat memalukan dan menyakitkan. Dengan cara sehalus apapun, tentunya apa yang mereka katakan itu tetap tidak menyenangkan untuk kami. Dan setiap kali kami menerima pernyataan-pernyataan itu, muncul di dalam hati kecilku sebuah tekad, bahwa kami tidak mau menerima kondisi ini terus menerus. Kami bertekad untuk keluar dari situasi itu secepatnya, dan sangat memimpikan satu situasi yang lebih baik di masa yang akan datang. Itulah yang terus kami tanamkan dalam hati dan pikiran kami. Bukan karena marah kepada orang-orang itu, tapi marah kepada situasi dan tidak mau terus-terusan berada dalam kondisi itu. Dan seperti apa yang kami pikirkan, itulah yang akhirnya terjadi di dalam hidup kami. Khususnya kepada kami anak-anak, benar-benar tertanam dalam hati kami bagaimana caranya mempunyai kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Kami jadi belajar lebih tekun dan berusaha lebih keras, juga tentunya berharap lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan. Dan ternyata semuanya itu menghasilkan kami seperti hari ini. Tidak ada satupun dari kami anak-anak yang mengalami seperti yang orang tua kami alami. Kami berhasil mematahkan rantai tersebut dan mempunyai cara hidup yang sangat berbeda. Kami bersyukur boleh mengalami suatu ‘sekolah’ yang khusus bagi kehidupan kami, karena itulah yang membawa kami menuju kehidupan yang sesungguhnya. Ternyata keberhasilan atau kegagalan itu sama sekali bukan sebuah ‘warisan’ yang bisa diturunkan begitu saja, tapi merupakan hasil keputusan dari setiap pribadi yang mengalaminya. Ketika kita membiarkan kegagalan dari generasi sebelumnya ‘mengikat’ dan terus ‘mengikuti’ kita, maka hal itulah yang akan menjadi bagian hidup kita. Tapi sebaliknya, ketika kita memutuskan ‘keberhasilan’ yang akan menjadi bagian hidup kita, dan menolak semua ‘kegagalan’ masa lalu, maka secara otomatis akan ada gairah dalam hidup kita untuk melakukan tindakan yang membawa langkah kita menjauh dari semua pengalaman masa lalu itu, meninggalkan zona yang ada, menuju pada jalan dan cara yang baru. Dan ‘keputusan’ itulah yang akhirnya akan membawa kita pada cara pikir yang baru, cara pandang yang berbeda, dan menuntun kita untuk mulai belajar dari orang-orang yang memang sudah berhasil lebih dulu. Dan dari sinilah akan muncul suatu pola hidup yang lain dan akhirnya akan menghasilkan terobosan menuju keberhasilan yang sesungguhnya. Saya rasa, Allah sangat mengenal setiap pribadi kita. Dia tahu betul cara untuk memacu kita untuk keluar dari situasi yang salah dan ‘memaksa’ kita untuk berjalan dengan caraNya. Meskipun seringkali hal itu akan sangat menyakitkan pada awalnya, tapi Dia juga tahu batas daya tahan kita. Satu waktu, ketika semua itu sudah kita lewati, setiap kita akan menyadari apa maksud Tuhan dari semua itu. Saya sendiri selalu mengucap syukur pada akhirnya untuk semua yang boleh saya alami, meskipun pada awalnya saya selalu bertanya ‘mengapa Tuhan?’. Sobat, benarlah apa yang dikatakan oleh Tuhan sendiri, bahwa “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Amsal 41 : 10) Ketika Ia mengatakan hal ini, perhatikan baik-baik bahwa Ia akan memegang kita dengan tangan kananNya. Ia akan menyertai, meneguhkan dan menolong kita, bukan ketika kita diam dan tidak mengambil langkah apa-apa, tapi justru ketika kita meresponi rencanaNya dengan terus berjalan bersama Dia. Say ‘Yes’ to Jesus, dan ambil keputusan hari ini untuk melangkah menuju masa depan yang gilang gemilang bersama dengan Yesus. Don’t give up, but surrender to Him. Dia sangat mengasihi anda dan saya. God bless you.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung
|




