| LEARNING BY DOING |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Tuesday, 24 August 2010 21:37 |
|
Ibrani 10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
Akhirnya, saya harus mulai mengendarai mobil sendiri. Biasanya ada sopir yang siap mengantar kemana-mana, dan yang saya lakukan hanya tinggal duduk dan mengatakan tujuan saya, dan tinggal menunggu tiba di tujuan. Walaupun memang jadi tergantung pada orang lain, tapi enak juga tidak perlu terlalu mengeluarkan usaha. (senyum). Namun ternyata tiba saatnya saya harus sungguh-sungguh belajar mengendarai mobil dan membawanya sendiri. Jujur, saya bukanlah seorang yang bernyali besar dalam segala sesuatu yang beresiko seperti itu. Alhasil, butuh waktu bagi saya untuk memutuskan mengendarai mobil sendiri. Belum lagi fantasi saya akan melayang kemana-mana, bahkan jauh sebelum saya menjalankan mobil tersebut. Bagaimana kalau macet, bagaimana kalau berhenti di tanjakan, apa yang harus saya lakukan? Pokoknya banyak yang saya pikirkan dan saya khawatirkan. Tapi entah kekuatan dan keberanian dari mana, pagi itu saya mengambil keputusan untuk mulai melakukannya. Dengan memaksa diri saya sendiri, pagi itu pun saya berangkat mengendarai mobil sendiri. Setelah di dalam mobil, sambil menyalakan mesin, AC, dan memasang sabuk pengaman, tidak henti-hentinya saya berdoa kepada Tuhan. “Mari Tuhan Yesus, sertai perjalananku ini. Engkau tahu aku belum mahir mengendarari mobil, tapi kondisinya mengharuskan aku membawanya. Jadi, tolong aku Tuhan,”begitulah aku sambil membawa mobil itu melaju perlahan. Di sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya saya meminta perlindungan Tuhan dan memohon supaya semua kondisi perjalanan itu cukup bersahabat bagi saya. Tidak macet, tidak ada yang tertahan, tidak juga mengganggu laju kendaraan saya, apalagi jika melewati tanjakan. Ya, pokoknya semua hal yang terpikir oleh saya, akan saya ucapkan dengan harapan Bapa di surga akan menjawabnya. Dan saya percaya pasti Dia menjawabnya. Hari-hari pertama perjalanan saya benar-benar pengalaman yang menegangkan sekaligus mengharukan, karena di situ saya benar-benar seperti mempelajari suatu pengalaman yang baru bersama Tuhan. Entah bagaimana dengan anda, tapi bagi saya, salah satu cara untuk mengenali keberadaan Dia dan semua para malaikat penjaga itu bisa melalui pengalaman ini. Setiap hari yang saya lewati Ia membuat saya mempelajari sesuatu yang baru untuk menambah skill saya dalam berkendaraan. Sungguh luar biasa. Dari segala situasi yang saya hadapi, secara bertahap Ia membawa saya lebih jauh lagi dan lebih jauh lagi. Dari situasi yang mudah, sampai jalan-jalan yang macet dan padat. Dari area yang datar-datar saja sampai area yang sangat menanjak atau bahkan menurun, Ia mengajarkan banyak hal. Tidak ada kata menyerah. Medan apapun yang saya hadapi, seakan-akan Ia menunjukkan banyak hal. “Seperti inilah kehidupan, nak. Ada kalanya engkau akan merasa jalanmu mudah, ada kalanya sulit. Ada kalanya engkau ingin berhenti, tapi tidak mungkin. Mau tidak mau engkau harus maju terus, karena di belakangmu sudah menanti antrian panjang yang mendorongmu dan memaksamu untuk terus berjalan. Jangan terlalu banyak menengok ke belakang. Pandang ke depan dan terus maju. Yang perlu kauketahui adalah seberapa kemampuan kendaraan yang kaubawa, dan kendalikan itu dengan sepenuh hatimu. Percayalah bahwa engkau pasti bisa,”begitulah kurang lebih Roh Kudus berbicara kepadaku setiap kali aku merasa khawatir. Dan memang itulah kenyataannya. Persis seperti kehidupan kita, adakalanya kita ingin melangkah dengan cepat, menyalip yang lain karena melihat yang lain begitu lambat berjalan. Tapi ada kalanya kita harus memperlambat lajunya karena begitu padat lalu lintas dan tidak ada cara lain untuk maju selain menunggu dengan sabar. Ada waktunya kita menengok ke spion kanan atau kiri, untuk memperhatikan sekitar kita. Ada kalanya melihat ke spion atas dan menengok apakah tidak ada yang terganggu oleh keberadaan kita. Jangan lupa mengatur pedal gas dan rem untuk mengatur laju kendaraan kita sepanjang perjalanan kita. Wah, belum lagi kita harus mengatur gigi persneling kendaraan, supaya tenaga kendaraan sesuai dengan medan yang kita lewati. Klakson sesekali untuk mengingatkan orang lain yang menghalangi laju kita, dan jangan lupa mengatur lampu jika hari mulai gelap. Anda lihat, banyak sekali yang harus kita ketahui dalam hal ini. Tidak semudah yang kita pikir. Cukup rumit, tapi kita akan terbiasa dengan semuanya itu pada akhirnya. Semakin sering anda melakukannya, maka anda akan semakin mahir mengendalikan semuanya. Bahkan saking mahirnya bisa jadi anda akhirnya akan berpikir bahwa anda tidak perlu lagi berdoa untuk perjalanan anda karena toh anda sudah akhli. Bukan begitu? Padahal sama sekali tidak begitu. Satu kali, masih di hari-hari pertama saya mengendarai kendaraan sendiri, secara tidak sengaja saya memasuki area yang sebenarnya sangat saya hindari. Daerah itu sangat macet dan jalanannya cukup menanjak dan menurun. Saya tahu saya belum mahir melalui daerah itu, sehingga selama ini saya selalu menghindarinya. Tapi tidak bisa tidak, hari itu saya harus melewatinya. Alhasil, seluruh tubuh saya memberikan reaksi yang tidak bisa saya cegah. Tangan saya dan kaki saya langsung mengeluarkan keringat yang sangat banyak. Dan itu diluar maunya saya. Secara otomatis saya terus berdoa meminta penjagaan Tuhan, dan juga berdoa supaya saya diberikan hikmat supaya mendapat pengetahuan dan kemampuan yang lebih. Dan akhirnya saya bisa terus melaju sampai ke satu persimpangan di mana, PUJI TUHAN, lampu setopan tidak berfungsi. Alhasil, lalu lintas hari itu kacau balau, sementara posisi saya ada di ujung paling depan, dan mau tidak mau sepertinya semua kendaraan di belakang saya harus menunggu saya untuk bisa melintasi jalur macet yang melintas di depan saya. Posisi saya itu membuat saya harus membuat keputusan untuk terus maju dan tidak boleh menangis atau menyerah. Dan begitulah, saya ‘dipaksa’ untuk belajar menyela di tengah-tengah kemacetan itu. Dengan doa dan keringat, saya lanjutkan perjalanan saya perlahan-lahan namun tidak berhenti. Tidak ada kata ‘quit’ dalam kamus saya. Jadi akhirnya saya berhasil maju dan menyeruak. Ketika akhirnya saya tiba di seberang, saya sempat melihat melalui spion saya, ternyata...Cuma saya yang berhasil menyeberang, sementara kendaraan lain masih jauh di belakang saya. Benar-benar saya merasakan bagaimana tuntunan Tuhan, dan bagaimana sepertinya para malaikat sibuk menyetop semua kendaraan dan membiarkan saya maju. Wow...saya langsung bersorak dan memuji Tuhan!!!! Yuhuuuu....!!! Allahku keren abis!!! Hahahahahha..saya tertawa dengan senang sambil terus melaju. Anda bisa bayangkan perasaan saya. Senangnya.... Hari itu juga saya mempelajari sesuatu. Learning by doing! Yes...Dia akan mengajari kita seperti itu. Dia tidak akan membuat kita menyerah. Dia ingin kita belajar terbang bersamaNya, tapi tentunya Dia hanya bisa mengajari hal itu ketika kita mau menyerahkan diri kita untuk ikut terbang bersamaNya. Tidak ada yang sifatnya teori. Semuanya harus dijalani, barulah kita bisa mengalami dan melakukannya. Saya mempelajarinya dengan baik. Semakin saya alami semakin seru ikut Tuhan. Ayo sobat, kalau hari ini engkau sedang dalam posisi yang tidak enak, seakan-akan ada dalam keruwetan dan kemacetan, jangan menyerah...pandang Dia dan minta pertolongan dari Dia, engkau akan tahu bahwa engkau tidak sendirian. Dia menyertaimu....dan Dia akan membuka jalan bagimu. Jangan ragu untuk mengandalkan Dia. Tetap maju walau perlahan, sampai akhirnya engkau akan melihat bahwa posisimu tidak pernah sama lagi. Engkau terus maju dan nikmati perlindungan Tuhan bagimu. Sampai engkau melewati semuanya, engkau akan bersorak-sorai memuji Dia. Percayalah!! By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |




