| MAKE A DATE WITH JESUS |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Friday, 03 September 2010 22:05 |
|
Markus 14 : 3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. Terjadinya di Bethania, yang menurut bahasa aslinya berarti date house (=rumah kencan). Sebuah arti yang saya yakin bukan kebetulan. Karena memang kenyataannya di Bethania ini kita bisa melihat bagaimana banyak peristiwa terjadi. Peristiwa yang menggambarkan kedekatan antara Yesus dengan orang-orang yang mengasihiNya. Di Bethania ini tinggal Maria, saudara Lazarus, yang senantiasa bersedia membuka pintu rumahnya bagi Yesus. Juga tinggal Martha, saudara Maria yang akan selalu bersedia melayani sampai lelah bagi Yesus. Juga ada Lazarus yang bahkan ketika ia mati, Yesus bersedia membangkitkannya dari kematian itu, untuk mendemonstrasikan kuasa Allah yang menyertaiNya, dan sekaligus mendemonstrasikan kuasa iman dan kasih. Dan dalam kisah minyak narwastu yang terkenal ini, sekali lagi peristiwa ini terjadi di Bethania, tempat kencan bagi Yesus dan orang-orang yang mengasihi Dia. Di dalam rumah Simon si kusta. Orang sakit yang terasing dan terbuang di daerah tersebut. Si kusta. Anda pernah mendapat julukan dari orang-orang sekitarmu? Si Kusta!!.....pasti menyakitkan sekali kalau kita pergi ke mana-mana dengan julukan yang diberikan orang kepada kita. Belum lagi dengan penyakit yang ditanggungnya, yang memang sudah menjadi satu beban derita tersendiri, ditambah dengan efek tambahan dari penyakit tersebut, pastilah lebih menyakitkan lagi. Dapat saya rasakan beban yang dia bawa ke mana-mana. Si kusta!! Pada zaman itu, hidup dengan penyakit kusta sungguh sama artinya dengan mendekati kematian. Ia akan dianggap seperti borok berjalan yang pasti dijauhi orang. Bahkan dibuat peraturan, bahwa ke manapun ia pergi, ia harus berpakaian tertutup sampai kepala. Ia harus berjalan sambil menunduk, dan sambil membawa sebuah lonceng. Jika ia berjalan dan bertemu dengan orang-orang, maka ia harus membunyikan lonceng itu sebagai tanda peringatan bahwa ia, si kusta, sedang berjalan ke arah mereka. Dan seketika itu juga semua orang akan menyingkir. Semuanya akan takut dengan penyakit menular itu. Belum lagi ia sendiri pasti akan mengalami ketakutan menyaksikan sedikit demi sedikit bagian-bagian tubuhnya itu akan putus karena boroknya akan semakin hebat menggerogoti tubuhnya itu. Saya jamin, orang itu pasti cuma bisa menghitung hari-harinya, kapan sampai tiba pada kesudahannya itu. Di Bethania, tempat pertemuan yang istimewa itu, di rumah si orang terbuang itu, Yesus datang dan makan bersamanya. Saya yakin, ada kesukaan besar terjadi di sana. Ada pengharapan yang Yesus berikan kepada Simon, si kusta itu. Kenyataannya, Yesus mau menunjukkan kepada kita semua, bahwa Ia datang bukan Cuma buat Zakheus, sang pemungut cukai yang kaya raya itu. Juga bukan cuma si anak muda kaya raya yang menanyakan tentang bagaimana bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Juga bukan cuma mau menyembuhkan anak Yairus sang pejabat pemerintahan itu. Tapi Dia juga mau datang buat mereka yang terasing dan terbuang. Bahkan Ia sangat mengasihi dan menghargai mereka. Ia mau duduk semeja dan makan bersama mereka. Halleluya!! Terpujilah Tuhan karena kasihNya yang besar dan nyata itu. Ia tidak pilih kasih. Di Bethania, di rumah pertemuan kencan itu, banyak pertemuan kasih yang terjadi antara Dia dengan mereka yang mengasihi Dia. Sungguh adalah hal yang indah yang bisa kita lihat. Dan hari itu, Maria, yang selama ini menyimpan satu buli-buli minyak narwastu yang mahal di rumahnya itu – yang merupakan hasil kerjanya selama ini, datang ke hadapan Tuhan Yesus dengan hati yang sungguh-sungguh menghargai dan mencintai Yesus, hendak mempersembahkan bagiannya yang terbaik, yang selama ini ia simpan dengan hati-hati. Dengan hati yang hanya tertuju kepada Yesus, ia bawa persembahannya itu memasuki ruangan tempat Yesus duduk makan dengan dikelilingi banyak orang di sekitarnya. Ia sadar akan banyaknya bisikan-bisikan yang negatif dan kata-kata kasar dan umpatan yang akan diperolehnya dari orang-orang disitu. Tapi hari itu ia bukan mau bertemu mereka, dan juga bukan mau mencari nasihat atau pendapat orang-orang itu. Hari itu ia mau bertemu Tuhan. Ia mencari wajahNya, ia ingin mencurahkan isi hatinya yang begitu berat selama ini. Ia perlu Tuhan. Dan di Bethania, di tempat kencan Tuhan dengan mereka yang mengasihiNya itu, Maria pun bersujud dan menyembahNya. Ia pecahkan buli-buli pualam itu. Bukan sekedar memecahkannya, tapi benar-benar menghancurkannya, dan menuangkan seluruh minyak narwastu itu hingga tidak bersisa. Tidak ada niat di hatinya untuk membawa sisanya pulang. Ia benar-benar ingin mempersembahkan seluruhnya untuk Pribadi yang ia kasihi itu. Markus 14 : 3c Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. Minyak narwastu yang mahal itu sangat harum baunya, semerbak ke seluruh ruangan hari itu. Tidak ada yang bisa menyangkali hal itu. Tapi apa yang baik yang ia lakukan tidak bisa dipandang baik oleh setiap orang. Markus 14 : 4b - 5"Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Apa yang kita lakukan dalam penyembahan kita untuk Tuhan, sama seperti harum yang merebak itu, akan menarik perhatian banyak orang di sekeliling kita. Dan untuk hal yang sama, tentu ada banyak pendapat. “Hmm harumnya..alangkah hebatnya wanita ini, ini bukan parfum murah. Dari baunya aku tahu, ini pasti parfum mahal. Amat mahal. Wah, bisa-bisanya ia mempersembahkan korban yang semahal ini ya..” atau “Wow...cool..ia menghabiskan upah setahun kerja kerasnya untuk minyak narwastu ini, dan ia menuangkannya begitu saja? Keren sekali ia. Jujur aku tidak bisa melakukan yang seperti ini.” Tapi banyak juga, bahkan lebih banyak, yang berpendapat seperti ini “Iiiihh..siapa dia pikir dirinya itu? Menjijikkan sekali. Upah ini kan bukan dari hasil yang halal? Kok bisa-bisanya ia berikan pada Yesus ini dari kerja kotornya itu?” atau “Cisss...kok bisa-bisa Yesus mau menerima dia ini ya?” atau “Haiaaa...ngaca dulu dong..ngaca...apa pantas dia mempersembahkan hal yang najis itu?” Dan banyak lagi yang pasti muncul hari itu. Tapi di Bethania, di tempat kencan yang indah itu, Yesus tidak merendahkan apapun dan siapapun engkau. Yang Dia lihat hanyalah kemurnian isi hatimu. Ia hanya mau mencari iman dan pengharapan dan kasih yang kaumiliki bagi Dia. Ia sangat menghargai apa yang dilakukan perempuan ini. Di Bethania, di tempat kencan itu, Dia yang akan menghalau semua pendapat negatif orang. Markus 14 : 6 Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku...” Ia akan melakukan hal yang sama bagi siapa saja, yang mau datang ke Bethania, tempat kencan Dia dengan mereka yang mengaihi Dia. Ia yang akan menjadi pembelamu. Biarpun banyak orang akan melawan engkau, tapi Dia akan membelamu dengan segenap hati. Ia tahu apa yang kaulakukan bagi Dia.
Dan bukan cuma itu, Ia bahkan akan berkata begini “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." Markus 14 : 9. Dimanapun, ketika Injil engkau beritakan kemana saja di seluruh dunia ini, peristiwa di mana engkau memberikan yang terbaik bagi Tuhan, di Bethania – di rumah kencan itu, pasti akan disebut-sebut juga untuk mengenangnya. Awesome. Upah ini bukan cuma buat perempuan itu, tapi bagi setiap orang yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, mau menghancurkan hatinya bagi Tuhan, ia akan memperolehnya juga. Jika orang itu adalah engkau, yang sudah tiba di Bethania dan sudah melakukannya, menghancurkan buli-buli hatimu yang berharga, dan menuangkan semua isinya kepada Tuhan dengan tidak bersisa, maka kemanapun engkau membawa Injil itu diberitakan, pastilah pengalaman itu akan engkau ceritakan juga bukan? Dan itulah saat di mana firman ini menjadi satu kenyataan. Peristiwa itu akan dikenang seumur hidupmu. Jika engkau belum pernah mengalaminya, mari...datanglah ke Bethania, tempat kencanmu dengan Dia. Dan engkau akan mengalami sukacita yang tidak pernah akan engkau dapatkan ditempat yang lain. Halleluya...terpujilah Dia. Amin. By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |




