| MANA YANG LEBIH MUDAH UNTUK DILAKUKAN ? |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Monday, 18 August 2008 16:08 |
|
“Jika ya, hendaklah kamu katakan : ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan : tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5 : 37) Mana yang lebih mudah dilakukan ? Mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan kenyataannya, atau yang sebaliknya ? Tapi mengapa justru lebih banyak dari kita melakukan yang kedua ? Apakah trend ini memang begitu populer sehingga akhirnya semua orang menganggap kebohongan sebagai suatu hal yang sangat manusiawi dan dapat ditoleransi ? Memang tidak mudah mengendalikan lidah kita untuk berkata jujur. Lebih sering kita melakukan yang sebaliknya karena berbagai kondisi. Benar begitu bukan ? Saya rasa kebanyakan anda akan mengangguk setuju soal ini. Tapi sebenarnya, mengapa ya kita harus berkata yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya ? Apa yang mendorong kita melakukan hal itu ? Bukankah jauh lebih mudah untuk mengatakan yang sebenarnya daripada sebaliknya ? Ayo kita telusuri hal ini sama-sama. Dalam beberapa situasi, manusia, bahkan dengan berani saya pastikan, dimulai dari usia kanak-kanak sekalipun, sudah mulai pandai berkata yang tidak sebenarnya. Entah dari mana mereka mendapat ide itu, tapi kenyataannya banyak anak-anak sudah mulai pandai berbohong. Dan kalau kita telusuri sebabnya, paling banyak dari mereka yang berbohong adalah karena mereka tidak mau dinilai buruk atas kesalahan yang mereka lakukan. Saya berikan contoh yang sederhana saja soal itu. Apabila ada seorang anak yang menunjukkan hasil kerjanya pada orang tuanya, lalu orang tuanya bertanya,’nak, kenapa gambar ini kotor ?’. Maka biasanya anak itu akan dengan segera mengelak dengan berkata,’o..aku tidak tahu, tadi kertas ini baik-baik saja kok. Kenapa ya kok bisa jadi kotor begitu ?’. Padahal anak itu tahu persis kenapa kertas itu kotor. Tadi sambil menggambar, ia menumpahkan air teh dengan tidak sengaja kena kertas itu. Tapi toh, ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya karena ia takut dimarahi. Padahal sebenarnya belum tentu orang tuanya marah, dan bisa jadi mereka hanya bertanya saja. Atau contoh lain, ada seorang ibu yang dianggap pandai sekali masak. Apa saja yang ia sajikan biasanya hasil racikan sendiri dan enak rasanya. Pokoknya ia adalah ibu yang top dalam memasak. Nah, pada suatu kali, di satu acara arisan perkumpulan ibu-ibu PKK, ia seperti biasanya menyumbangkan satu jenis makanan untuk semua orang. Namun entah kenapa, berbeda dari biasanya, kali ini rasa masakannya tidak semantap biasanya. Masakannya ini kurang asin. Kemudian, ada seorang ibu yang cukup berani mengeluarkan pendapat,’Jeng...kenapa ya kok masakannya kurang asin ? Apa lupa digarami ?’ Dan ibu yang pandai masak ini dengan sigap segera menjawab,’O, aku kurang tahu...soalnya tadi pagi aku sibuk sekali, jadi yang masak makanan ini bukan saya tapi pembantu saya di rumah. Maklumlah ya kalau kurang enak jadinya...’ – padahal si ibu ini menjawab begitu hanya untuk menutupi rasa malunya karena kepandaiannya memasak dipertanyakan. Padahal, lupa menaruh garam itu hal yang wajar ditengah kesibukan seseorang, mengapa ia sampai harus berbohong ? Jadi, ada begitu banyak alasan untuk berbohong. Anda setuju ? Tapi sebenarnya, tahukah anda bahwa berbohong itu sangat melelahkan ? Dan dibutuhkan kepandaian tersendiri untuk bisa berbohong tanpa diketahui bahwa anda berbohong. Sekali anda berbohong, maka artinya akan ada kebohongan yang lain, dan kebohongan yang lain lagi. Dan seperti bola salju yang menggelinding, semakin lama ukurannya akan semakin besar, sampai tidak tertahan lagi menabrak sesuatu yang berbahaya dan sekaligus membahayakan diri sendiri. Imamat 19:11 ...janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berduta seorang kepada sesamanya. Jika Allah saja sampai berulang-ulang menuliskan perintah ini di dalam Alkitab, itu suatu tanda bahwa memang tidak mudah untuk tidak berbohong, tapi karena ini suatu perintah maka kita harus mengupayakannya. Tidak ada tawar menawar untuk hal ini. Tidak pernah Tuhan menganggap bahwa perintah ini lebih kecil artinya dibandingkan dengan perintah yang lain. Skala kepentingannya sama, sehingga kalau kita melanggarnya artinya kita dihitung sudah berbuat dosa juga. Saya pernah punya kenalan yang hidupnya benar-benar seperti di dunia impian. Ia menceritakan kepada siapa saja tentang betapa bangganya ia kepada orang tuanya yang katanya adalah orang yang cukup terpandang di daerahnya. Ia juga mengatakan bahwa ia punya rumah yang cukup besar di mana ia punya kamar sendiri yang nyaman, dan bagaimana orang tuanya sangat menyayangi dia. Apa saja yang ia mau akan dipenuhi oleh orang tuanya. Ia bilang kalau diantara empat bersaudara, maka ia adalah anak yang paling disayang oleh orang tuanya. Pokoknya ia sangat sayang dan bangga akan keluarganya itu. Hmmm, tidak ada yang salah rasanya dengan ceritanya itu bukan ? Semua itu adalah hal yang lumrah dan wajar terjadi pada seorang anak. Sebenarnya, saya tidak pernah menganggap hal itu terlalu istimewa karena hal itu biasa berlaku pada setiap anak. Tapi ada sesuatu yang mengganggu saya setiap kali saya memperhatikan dia bercerita. Di dalam matanya seperti ada sesuatu yang mengawang. Dan setiap dia bercerita rasanya ada sesuatu yang sifatnya seperti khayalan. Dan dari perasaan itu, akhirnya saya mengorek lebih dalam lagi tentang dia. Akhirnya, setelah beberapa bulan kemudian, terbukti bahwa semua cerita tentang keluarganya itu benar-benar hanya dongeng yang berasal dari fantasinya. Semua itu tidak ada. Dia menciptakan bayangan itu karena itulah kerinduan hatinya. Ia bahkan merupakan anak yang terbuang dari keluarganya. Mama papanya tidak pernah menyayanginya. Sejak kecil ia harus berjuang untuk dirinya sendiri. Dan di kota ini, ia datang sebagai seorang pembantu rumah tangga di sebuah keluarga. Apa yang ia ceritakan itu sebenarnya adalah keluarga tempat ia bekerja sekarang. Dia sangat terobsesi untuk memiliki keluarga seperti itu. Itulah sebabnya ia membuat kisah yang berasal dari fantasinya itu. Siapa yang dapat menyalahkannya ? Tapi yang hebat dari anak ini adalah, ia mampu konsisten dengan kebohongannya sehingga cukup lama baru diketahui kebenarannya. Yesaya 28:17 Dan Aku akan membuat keadilan menjadi tali pengukur, dan kebenaran menjadi tali sipat; hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian. Banyak dari manusia berusaha bersembunyi dibalik kebohongan, karena cara pikir mereka yang pendek. Mereka pikir apa yang mereka lakukan dalam gelap itu takkan dapat terungkap dalam terang. Padahal, Bapa di surga adalah Allah yang maha tahu. Tidak ada yang tersembunyi dari hadapanNya. Jadi, sekalipun kita berusaha menutupi kebohongan itu sedemikian rupa, satu waktu toh akan terbuka juga. Dan lebih berbahaya jika pada waktu ketahuan, kondisinya sudah sangat parah sehingga sulit untuk diperbaiki lagi. Jadi, pesan Tuhan hari ini memang sesuatu yang sangat perlu kita terapkan dalam kehidupan kita. Lagi pula, jauh lebih menyenangkan jika hidup dalam kebenaran. Segala sesuatunya terlihat benar, sehingga tak ada seorang pun yang dapat menuntut kebenaran itu. Allah Bapa tidak akan membiarkan kebohongan berlanjut. Ia dapat menyapu bersih benteng perlindungan bohong itu dari hidupmu. Dan ketika itu terjadi, akhirnya semua orang dapat melihat anda yang sebenarnya. Apakah anda akan menanti sampai hal itu terjadi dalam hidupmu ? Jauh lebih baik jika sebelum itu terjadi, maka anda melakukan pemberesan dalam hidup anda. Akui di hadapanNya apa yang sudah anda katakan yang tidak sesuai dengan kenyataannya, buat komitmen yang baru di hadapanNya. Saya percaya bahwa Dia adalah Allah yang sungguh setia dan adil. Kalau sampai hari ini ini Dia masih membiarkan hal itu terjadi, bukan artinya Dia menyetujuinya. Dia sedang memberikan waktu kepada anda untuk dapat berubah tanpa harus ditegur terlalu keras. Tapi jika setelah beberapa kali kesempatan anda masih tidak berubah, maka jangan salahkan Dia jika harus bertindak lebih keras dari biasanya. Masalahnya, ada yang membuat kebohongan itu menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Apa yang harus dilakukan jika demikian ? Putuskan untuk BERHENTI BERBOHONG !!! Keputusan itu ada di tangan anda. Tidak ada seorangpun yang sanggup mempengaruhi keputusan anda kecuali anda sendiri. Tapi jika anda berkata, ah...itu tidak mudah. Pandanglah salib Yesus. Tidak sadarkah anda bahwa setiap kali anda berbohong maka itu artinya anda sedang menyalibkan Dia untuk kedua kalinya ? Apakah masih kurang darahNya dicurahkan bagi anda ? Apakah anda masih menuntut kematian yang lain lagi dari korbanNya yang mulia itu ? Ibrani 10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tuhan Yesus sudah menanggung semua dosa kita dan menjalani hukuman itu bagi kita. Kalau anda masih melakukannya lagi dan lagi, maka itu artinya anda tidak menghargai korban yang sudah dilakukanNya bagi anda dan saya. Ayo, kita mulai dari perkara yang kecil agar diberikan perkara yang besar. Kalau kita setia dan tanggung jawab dengan perkara yang kecil, maka Ia pun akan memberikan tanggung jawab yang lebih besar. Mulailah dengan berkata yang sebenarnya dan belajar mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah kita. Katakan ya jika ya dan katakan tidak jika tidak. Kalau hal itu saja sulit kita lakukan, apakah anda pikir lebih mudah untuk melakukan kebalikannya ? Hidup kita yang sederhana menjadi rumit karenanya. Ingatlah hal itu baik-baik. I care...!!!! By : Pastor Sariwati Goenawan (IFGF GISI CIBABAT) |




