Home Artikel Rohani Column By Sariwati MENJADI PENGARUH BAGI ORANG LAIN
MENJADI PENGARUH BAGI ORANG LAIN PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Friday, 06 January 2012 14:59

Yohanes 14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.

Apa yang dilakukannya hanyalah mengajarkan tentang musik kepada murid-muridnya. Ia melakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh, dan mencoba menanamkan rasa cinta akan musik dengan satu cara pandang yang berbeda. Ia menularkan ‘passion’nya akan dunia musik dengan satu tindakan dan gaya hidup. Dan itu sangat tampak dari caranya memberikan pelajaran di kelasnya. Ketika ia menceritakan siapa itu Sebastian Bach, dan bagaimana ia memainkan setiap nada melalui dentingan pianonya, dan bagaimana matanya melukiskan semua kecintaannya kepada musik, dan usahanya mendorong serta memotivasi setiap murid-muridnya untuk terus berusaha dan tidak putus asa dalam belajar menyanyi atau memainkan alat musik, semuanya menggambarkan bagaimana ketekunannya dalam menularkan kecintaannya tersebut.

Musik adalah dunianya. Ia bisa membenamkan dirinya dalam kumpulan nada dan dentingan pianonya selama berjam-jam sepanjang hari tanpa henti demi menelurkan aransemen yang bagus. Ia juga menunjukkan kepiawaiannya dalam menjadi conductor sebuah orkestra.

Dan begitulah yang ia lakukan dari hari ke hari secara alamiah, dari tahun ke tahun, dari angkatan ke angkatan berikutnya, yang ia lakukan hanyalah mengajar dan mengajar dan menularkan kecintaannya tersebut kepada tiap orang yang dia ajar.

Kelihatannya sederhana, dan dari semua sudut pandang guru-guru yang lain, apa yang dilakukannya tidaklah seberapa. Secara kurikulum, pelajaran musik hanya mendapatkan kredit yang sangat kecil karena dianggap hanya penunjang dan bukan hal yang mayor. Bahkan sewaktu-waktu bisa saja pelajaran ini ditiadakan karena dianggap kurang berguna sehingga tidak ada anggaran lebih untuk bisa menunjukkan kemampuannya. Namun ia tidak menyerah. Ia mengerjakan hal tersebut bukan sekedar untuk uang, tapi lebih karena kecintaannya akan musik. Ia merasa terpuaskan ketika ia bisa melihat bagaimana murid-muridnya bisa menemukan bakat mereka dalam hal musik dan menemukan passion yang sama dengan yang ia miliki.

Kisah ini aku saksikan dalam filem Mr Holland’s Opus. Sebuah filem yang sangat menarik untuk disaksikan, dan sarat dengan pendidikan. Lebih menarik lagi karena kita bisa belajar tentang apa itu passion, dan bagaimana seseorang bisa memberikan pengaruhnya kepada orang lain tanpa ia sadari.

Banyak orang ingin memiliki pengaruh, tapi akhirnya melakukannya dengan cara yang salah. Ada yang dengan memaksakannya, ada yang mencoba membelinya. Tapi filem ini menunjukkan satu cara yang sangat alamiah bagaimana menanamkan pengaruh kepada banyak orang. Tokoh ini tidak pernah berusaha memaksakan pengaruhnya, tapi ia mengimpartasikannya dengan cara hidup dan kecintaannya. Ia menanamkan hal tersebut dengan membangun relasi yang kuat dengan setiap orang yang ia ajar, sehingga hampir semua muridnya mempunyai rasa hormat yang tinggi akan dia, dan benar-benar mencintainya dan apa yang ia ajarkan.

Ia menjadi guru favorit bukan karena pelajaran yang top. Ia menjadi favorit, dan musik menjadi menyenangkan karena cara ia mengajar memang menyenangkan dan membuat setiap orang bisa terhanyut di dalamnya tanpa paksaan. Ia mengajak setiap orang untuk mempunyai wawasan yang baru tentang musik, dan menunjukkan caranya bagaimana bisa mencintai musik untuk tiap orang, bahkan yang paling tidak berbakat sekalipun.

Dan kisah ini ditutup dengan sebuah kisah yang manis, bagaimana akhirnya ia harus mengakhiri jabatannya sebagai guru musik di usianya yang ke 60, dan murid-murid yang pernah ia ajar berkumpul untuk membuat pesta perpisahan dengannya, memberikan sebuah kejutan kepadanya dengan mengumpulkan semua anak dari setiap angkatan ke dalam sebuah orkestra yang kemudian meminta sang maestro ini untuk menjadi conductor nya.

Sang guru ini begitu terharu sekaligus tidak menyangka bahwa semua muridnya menghargainya sedemikian rupa. Apalagi ketika ia mendengar pidato pembukaan dari salah seorang murid yang dulu begitu sulit dalam belajar memainkan flute, tapi sekarang ia sudah ahli memainkannya berkat dorongannya, sekaligus anak tersebut sudah menjadi seorang gubernur di salah satu daerah di Amerika, anak ini mengatakan bahwa salah satu orang yang membuatnya berhasil adalah karena dorongan dan pengaruh yang diberikan oleh guru musik ini. Caranya dalam membuat ia berhasil memainkan flute dan mencintai musik membuat ia berani melangkah ke dalam banyak hal yang lain. Sungguh tidak terduga sekaligus membanggakan.

Kisah ini mengingatkan  saya tentang bagaimana kita menjadi  pengaruh kepada orang lain.

Jika kita ingin mengimpartasikan apa yang kita miliki kepada orang lain, baik itu visi, mimpi, motivasi, ataupun ide dan pandangan kita, maka akan jauh lebih efektif kita melakukannya bukan cuma dengan bicara di mimbar, tapi dengan membangun relasi yang kuat dengan setiap orang, dan menunjukkan gaya hidup kita kepada mereka semua itu.

Sia-sia saja semua ajaran kita, kalau kita sendiri tidak menunjukkan hal tersebut. Jika demikian halnya, maka tentunya ajaran tersebut hanyalah menjadi teori belaka. Tidak akan ada orang yang mau mengikutinya, atau bahkan mereka akan menjauh dan mencemooh kita.

Saya senang memotivasi orang untuk bisa mendorong mereka melakukan hal yang lebih baik bagi kehidupan mereka sendiri. Tapi kalau saya sendiri tidak bisa menunjukkan hasil yang bisa dilihat, tentunya bagi mereka itu semua Cuma khayalan belaka.

Tapi sangat berbeda ketika saya bisa menunjukkan kesaksian yang hidup kepada mereka. Melalui semua yang saya alami lebih dulu, dan apapun hasilnya, berhasil ataupun gagal, maka semua itu bisa menjadi pembelajaran bagi semua orang yang saya gembalakan.

Saya tidak khawatir untuk menunjukkan kelemahan dan kegagalan saya di hadapan orang-orang yang saya bimbing, karena pada dasarnya saya hanya seorang manusia yang juga memiliki kelemahan itu. Justru saya tidak mau mereka menganggap saya seperti seorang manusia super, karena hal itu malah akan membuat mereka frustrasi ketika mereka juga mengalami kegagalan. Tapi saya juga menunjukkan dan mengajarkan kepada mereka bagaimana saya mengalami proses pembelajaran dari semua kelemahan dan kegagalan itu, dan bagaimana akhirnya saya bisa menyelesaikan masalah tersebut dan keluar dari kegagalan tadi.

Sebaliknya, saya juga akan menunjukkan bagaimana cara saya terus menemukan kelebihan dan kekuatan apa yang saya miliki. Saya akan mengimpartasikan ketekunan, kerajinan, disiplin dan konsistensi yang saya miliki dalam membangun semua itu. Saya mau mereka semua mengerti bahwa di dalam kehidupan semuanya membutuhkan sebuah proses. Tidak ada yang instant. Dan biar mereka bisa belajar dari setiap proses tersebut supaya akhirnya mereka bisa memiliki daya tahan dan daya juang dalam hidup mereka untuk mengalami kemajuan.

Once in a while saya akan memanggil anak-anak bimbingan saya untuk kami bisa bicara dari hati ke hati dan mendiskusikan banyak hal. Saya akan menanyakan setiap progress dari kehidupan mereka. Bukan hanya mengenai sekolah atau pekerjaan, tapi juga dalam hubungan sosialnya, bahkan mengenai pasangan hidup dan pernikahan mereka. Dan sambil mengobrol santai, saya juga akan menceritakan progress tentang saya sendiri supaya mereka juga bisa melihat dan belajar sesuatu dari proses tersebut.

Saya sadar betul bahwa saya sangat tidak sempurna. Saya juga mungkin bukan tokoh favorit yang bisa dimasukkan ke dalam deretan orang terkenal untuk bisa mendapatkan penghargaan atau hadiah nobel. Bahkan ada beberapa orang yang pernah saya bimbing merasa bingung karena sepertinya saya tidak terlalu suka untuk dijadikan idola hidup mereka. Saya mau mereka belajar menemukan diri mereka sendiri, dan membangun kekuatan mereka dengan mengandalkan Tuhan, dan bukan dari saya. Mereka bisa belajar dari kehidupan saya, tapi tidak untuk menjadi tergantung. Saya bukan Tuhan yang sanggup untuk menolong mereka setiap waktu. Saya mau mereka bisa belajar untuk menemukan ‘cara’ bagaimana menemukan Tuhan dan mengandalkanNya. Dan dengan cara itu, mereka akan bisa berjalan sendiri bersama Tuhan.

Pada awalnya, cara saya ini membuat mereka bingung. Tapi sekarang, mereka semua mengerti hal tersebut dan bahkan mereka mulai menirunya. Ya, pengaruh yang saya berikan adalah untuk membuat mereka bisa menemukan dan mencintai Tuhan. Saya berharap mereka bisa melihat proses dalam hidup saya dan bisa melakukannya juga. Saya rindu setiap orang bisa total memberikan hidupnya bagi Tuhan, apapun yang mereka lakukan. Itulah sebabnya saya rindu mengimpartasikan motto hidup Totally For Jesus.

Satu waktu, sama seperti yang dialami oleh guru musik tadi, maka saya juga berharap akan mendengar kesaksian dari orang-orang yang pernah saya layani bagaiman saya bisa menjadi inspirasi bagi hidup mereka dalam membangun visi dan mimpi dan menjadi berhasil dalam hubungannya dengan Tuhan. Saya rindu bisa mempunyai legacy atau warisan bagi banyak orang yang pernah mengenal saya, baik secara pribadi ataupun melalui pelayanan media yang saya lakukan selama ini.

Sama seperti yang Yesus lakukan ketika Ia hidup, Ia tidak pernah memaksakan pengaruhNya. Ia hadir untuk menjadi teladan. Ia melakukan apa yang Ia ucapkan, dan itu memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan dengan hanya bicara di podium seperti yang kebanyakan akhli agama lakukan. Impartasi yang Yesus lakukan bukan cuma melalui ajaranNya, tapi lebih lagi melalui tindakan dan keseharianNya.

Saya juga berharap, apa yang saya jabarkan hari ini bisa dimengerti dan bisa anda terapkan dalam kehidupan anda semua. Memberi pengaruh dan berdampak bagi kebaikan generasi yang akan datang. Totally For Jesus. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

Last Updated on Friday, 06 January 2012 15:11
 
Designed by vonfio.de