| MY NEW IDENTITY |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Monday, 26 September 2011 22:04 |
|
2 Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Ada kisah yang luar biasa dari sebuah buku tipis yang dibeli suamiku : Mengisahkan tentang seekor semut yang tinggal di sarangnya bersama dengan seluruh koloninya yang besar. Semut yang rajin itu bekerja tiada henti bersama semua teman-temannya. Dan pekerjaan rutin itu selalu dilakukannya tanpa mengeluh, karena memang sepertinya itulah yang menjadi bagian dari hidup mereka, yaitu mengumpulkan makanan supaya mereka bisa hidup tenang di musim kering. Satu hari, diluar dugaan turunlah hujan besar dan angin bertiup sangat kencang memporak porandakan sarang semut tersebut. Air yang mengalir dengan deras membuat semut-semut itu terbawa arus ke mana-mana tak tentu arah. Mereka semua menjerit meminta bantuan, tapi tidak ada yang mampu melakukannya karena masing-masing pun sedang kesulitan mencari pegangan. Dan akhirnya, si semut yang malang itu hanya tinggal sebatang kara, terbawa arus jauh sekali dari tempat tinggalnya yang lama. Kebasahan, kelaparan dan kesepian. Merasa bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Termenung meratapi nasibnya, matanya mencari-cari di antara rerumputan dihadapannya kalau-kalau ia bisa menemukan satu saja dari semut yang berasal dari koloninya. Tapi sayangnya tidak ada. Kemanapun matanya memandang, ia hanya melihat rerumputan yang lebat dan tinggi. Ia mengeluh dan air mata mulai menggenang di pelupuk kecil itu. Hiks...isaknya perlahan. Tepat ketika ia menangis, ia melihat dari kejauhan, ada seekor burung hinggap di dekatnya. Di paruhnya ada sepotong roti. Kruyuk kruyuk...tiba-tiba perutnya berbunyi menandakan kalau ia lapar. Ia baru menyadari kalau sepertinya sudah lama sekali sejak terakhir ia makan. Potongan roti itu tampak menarik dan lezat. Ia memandangi burung itu minta dikasihani, tapi burung itu seakan tak perduli akan kehadirannya terus terbang lagi menuju arah pepohonan yang tinggi dan menghilang di balik kerimbunan. Tak lama kemudian iapun melihat ada sebongkah makanan. Tapi baru saja ia akan mengambilnya, tiba-tiba muncul seekor serangga mendahuluinya dan mengomelinya,”Huh! Jangan kausentuh makananku ini. Sana cari sendiri kalau mau makan!” Ia pun berjalan lagi sambil menunduk sedih. Hhhh...apa tidak ada yang bisa mengerti penderitaanku ini ya? Ia pun berjalan, dan terus berjalan sampai kaki-kakinya yang kurus itu merasa lelah. Dia berjalan tanpa tahu harus kemana. Ia kehilangan arah, dan benar-benar bingung. Ia berharap ada yang bisa menunjukkan jalan itu kepadanya. Hanya di sepanjang pencarian itu, ia sepertinya mendengar bisikan halus tentang sebuah tempat yang namanya ‘oase’. Tempat apa itu ya kira-kira? Dimanakah itu? Apa aku bisa mencapainya dengan kaki-kakiku yang kelelahan ini? Pikirnya sambil memandang kaki-kakinya yang kurus dan lemah itu. Di tengah pemikiran itu, tiba-tiba muncul seekor burung hantu hinggap di dekatnya. “Tentu saja kau bisa mencapainya. Siapapun pasti bisa, asalkan punya kemauan,”kata burung hantu itu kepadanya. Ia terkejut sekali dengan ucapannya itu. Ia memandang tubuh kecilnya lalu dengan suara penuh keraguan ia menjawab,”Rasanya tidak mungkin..” Burung itu tertawa geli. “Jika engkau hanya melihat kemampuanmu, tentu saja itu tidak mungkin. Engkau begitu kecil, lemah dan sendirian. Tapi coba kaulihat ke bawahmu.” Dengan segera semut itu memandang ke bawahnya. Ia tidak mengerti. “Apakah kau tidak menyadari di mana dirimu berada selama ini? Engkau ada di atas punggung gajah. Selama ini engkau berjalan jauh tak menentu, sulit menemukan arah, itu karena engkau ada di atas punggung seekor gajah. Apa yang kaukira rumput, itu adalah bulu-bulu gajah yang kaku,” kata burung hantu itu sambil menatapnya dengan penuh kebijaksanaan. Semut itu menatapnya tak percaya. Burung hantu itu mengangguk meneguhkan informasinya tadi. “Nah, itulah yang akan kukatakan. Kalau engkau mengandalkan kaki-kakimu, tentu engkau tidak akan pernah sampai ke oase itu. Tapi engkau bisa menggunakan kekuatan dan kemampuan gajah ini untuk mengantarmu ke sana,”kata burung hantu itu lagi. “Bagaimana caranya?”kata semut itu. “Caranya adalah dengan membisikkan impianmu itu ke telinga gajah ini, sampai ia bisa memiliki keinginan yang sama denganmu. Setelah itu, engkau akan melihat bagaimana engkau bisa sampai disana bahkan tanpa terlalu banyak kesulitan tentunya.” Itu nasehat yang luar biasa dan sangat inspiratif...semut itu seperti dibangunkan dari tidur yang panjang, dan kini ia punya impian yang besar. Menuju oase bersama sang gajah. Ya..ia tahu itu adalah cara terbaik. Ia akan bisa sampai di sana tanpa banyak keluar tenaga. Gagasan yang brilian. Dan sejak saat itu, semut kecil itupun memiliki satu visi : menuju oase bersama gajah ini. Dan untuk visi ini, ia harus bisa membagikan visinya ini kepada sang gajah itu tentunya, supaya binatang besar itu mau menuju tujuan yang sama dengannya. Semut itupun memutar otaknya memikirkan bagaimana cara mempengaruhi gajah itu. Setiap pagi, siang dan malam, semut itu akan berjalan menuju telinga gajah dan mulai membisikkan kisah-kisah indah khayalannya tentang oase tersebut. Ia terus membisikkan semua itu untuk mempengaruhi pikiran gajah itu. Waktu demi waktu berlalu, sampai akhirnya bisikan itu seperti menyatu dengan dirinya dan dengan binatang gendut itu. Sampai akhirnya, tanpa disadarinya, gajah itu menyamakan langkah dengan semut kecil itu dan mulai berjalan ke arah yang sama. Menuju Oase!!! Itulah judul perjalanan mereka. Singkatnya, semut itu ahirnya sampai ke negeri impiannya, bukan dengan kemampuannya, tapi karena gajah itu menjadi kendaraannya menuju ke sana. Impossible is nothing. (Kisah ini diambil dari buku : Tuntunlah Sang Gajah oleh Vince Poscente, terbitan PT Bhuana Ilmu Populer – Kelompok Gramedia, dan diceritakan kembali dengan ringkas oleh saya)
Kisah yang sangat menarik. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari situ. Sebuah kenyataan yang menyakitkan memang, kalau kita tahu bahwa kita memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan. Mimpi boleh saja besar dan indah, tapi tanpa kemampuan, semua itu sepertinya Cuma jadi mimpi. Itulah kita, yang dilambangkan dengan si semut itu. Banyak diantara kita mungkin akan berkata, aku memang seorang pecundang, yang selalu kalah dalam banyak pertarungan, yang mudah menyerah menghadapi tantangan, yang selalu menangis dan senang mengasihani diri sendiri, juga selalu merasa rendah diri dan tidak berguna. Meskipun banyak orang mengingatkan bahwa hari depan itu sungguh ada, rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera yang memberiku masa depan yang gilang gemilang, tapi jika aku melihat segala kemampuanku hari ini, aku bahkan yakin bahwa aku takkan pernah sampai ke sana. Mengerikan. Begitu gelap, pekat dan tak bisa melihat jauh ke depan. Hari depan? Hahahahahah..lucu sekali. Jangankan hari depan...hari esok saja aku tidak mengerti. Serba tidak pasti serba suram dan yang bisa kulihat dan kuceritakan hanyalah kabut berawan sepertinya mengikuti langkahku kemana-mana. Ya, aku persis si semut itu. Berjalan kian kemari tanpa arah yang jelas, tidak mengerti harus membawa diriku ke mana. Aku membutuhkan sosok gajah itu. Satu pribadi yang dahsyat dengan kekuatan tak terbatas, siap membawaku kemana saja. No complain... STOP!!! Tidak tahukah kamu bahwa ‘...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.’ (2 Kor 5 : 17) ? Ya, seringkali kita tidak menyadari identitas kita yang baru di dalam Tuhan Yesus. Sejak pertama kali kita menerima Dia di dalam hidup kita, dan mengijinkan RohNya bersemayam dalam hidup kita, sejak saat itu juga sebenarnya hidup kita bukan kita lagi. Yesus yang tinggal di dalam kita menjadikan kita sebagai satu pribadi yang baru. PribadiNya melekat menjadi satu dengan kita di dalam setiap prosesnya. Dan Dia bukan pecundang. Dia tidak lemah. Dia tidak kalah. Dia pencipta. Dia penuh potensi. Dia perancang itu. Dia penuh dengan kasih. Dia menentukan hari esok. Dia merancang masa depan. Dia penuh dengan harapan. Dan kalau Dia itu yang ada di dalam hidupku, maka artinya aku tidak perlu takut dan khawatir. Karena segala potensiNya kini ada dalam diriku. Segala kepunyaanNya menjadi kepunyaanku juga. KarakterNya akan membentukku juga menjadi seperti Dia. Kalau memang demikian, apa yang perlu kutakutkan? Apa yang perlu kukhawatirkan? Bersama Dia, aku pasti bisa!! Yang perlu kulakukan adalah berbagi visi denganNya. Aku menceritakan impianku, melangkah dengan kekuatanNya yang tak terbatas itu tentu akan bisa membawaku menuju ‘Oase’ ku itu. Teman, ini adalah hari yang istimewa. Ketika kutahu siapa diriku di dalam Dia, aku mengerti satu perkara : Impossible is really NOTHING!! Just stay in Him, walk with Him, and we’ll see how together we can reach our dreams. Terimakasih Tuhan telah mengingatkan aku akan hal ini. Aku mengerti identitasku yang baru di dalam Engkau, dan aku mau terus berjalan bersama dengan Engkau. Amin.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung
|




