Home Artikel Rohani Column By Sariwati “NANTI!!” IT’S A BIG NO NO
“NANTI!!” IT’S A BIG NO NO PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Wednesday, 15 December 2010 03:48

Amsal 24 : 33-34  "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring," maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

 

                Nanti!!! Kenapa ya hampir tiap orang sangat akrab dengan kata ini? Rasanya tidak ada satu orang pun yang tidak pernah memakai kata ini. Bahkan banyak yang sangat bersahabat dengannya. Mengherankan memang, sekaligus menggelikan. Tapi sangat alamiah dan manusiawi. Yup!!

                “Ayo cepat buat PR!!” itu selalu yang aku ingatkan di rumah pada dua anakku yang masih SD itu. Dan seringkali jawaban yang terdengar adalah “Nanti!!”

                “Lhoo katanya mau membersihkan kamar?”kata suamiku, dan tenang aku juga akan menjawab,”Nanti!!” Hahahaha..rasanya geli sekali kalau diingat-ingat. Aku membayangkan, kira-kira kalau bisa dihitung, sudah berapa juta kali aku mengatakan “Nanti!!” dalam hidupku yaa?? Dan sungguh bukan hal yang membanggakan, karena itu sama dengan artinya aku banyak menunda pekerjaan yang seharusnya bisa kuselesaikan lebih cepat dan lebih banyak. Bahkan saat ini, sejujurnya, aku harus mendorong diriku sendiri untuk duduk di depan lap top ku dan menuliskan semua ini sebelum semuanya hilang dari pikiranku.

                Ya, salah satunya adalah mengenai menulis semua ide yang aku dapat. Setiap hari, tanpa dikomando, sebenarnya pikiranku akan mengembara kemana-mana dan memberiku banyak ide untuk menuliskan banyak hal yang menarik. Tapi apa daya, budaya ‘Nanti!!’ Ini sangat pandai mengalihkan semua pikiranku sehingga seringkali aku lupa dengan semua ide yang muncul itu. Dan kalau sudah hilang, sebenarnya aku menyesal juga kenapa tidak dari tadi-tadi menuliskan semuanya itu dengan cepat.

                Aku belajar dari sang pakar John C Maxwell, seorang yang begitu hebat dan terkenal karena buku-buku leadershipnya. Di salah satu bukunya ia menceritakan bagaimana ia bisa menuliskan semua buku itu dengan sangat produktif.

                Salah satu kiatnya adalah karena ia tidak pernah menunda apa yang muncul di pikirannya untuk segera dituliskan atau paling tidak direkam, sehingga ia tidak lupa dan ide itu tidak akan hilang begitu saja. Dan ia akan menyimpannya dalam satu buku kecilnya, yang satu waktu nanti akan ia buka untuk menjadi acuan menulis artikel berikutnya. Secara konsisten ia terus melakukannya dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun di sepanjang hidupnya.

                Itulah yang sekarang aku ikuti. Apapun ide itu, maka aku akan berusaha untuk menuliskannya sesegera mungkin. Dan memang seringkali harus diakui, bahwa sulit untuk mempertahankan semua ingatan itu. Apalagi dengan bertambahnya usia dan banyaknya masalah yang muncul, akhirnya akan menutup hal baik yang sebenarnya bisa kubagikan untuk banyak orang sekiranya aku menuliskannya dengan konsisten.

                Bukan Cuma itu sebenarnya. ‘Nanti’ adalah sebuah penundaan pekerjaan yang seharusnya bisa kulakukan dengan lebih baik. Tapi apa yang terjadi, seringkali malah menghambat dan memperlambat semua yang kuanggap baik itu. Sangat memprihatinkan bukan?

                Sementara otakku berjalan dengan cepat, tanganku bergerak lebih lambat, sehingga apa yang kuharapkan berjalan dengan cepat juga menjadi terhambat. Memang begitu banyak rintangan yang harus dilalui dalam mencapai satu tujuan dalam hidup kita. Kalau bukan kita sendiri yang mengatasinya, siapa lagi?

                Lima huruf yang bisa menjerumuskan ke dalam banyak masalah, kata NANTI, memang harus banyak dihindari. Walaupun sesekali bisa menguntungkan, tapi lebih banyak tidak.

                Apa yang bisa kaulakukan sekarang, lakukanlah segera. Jangan banyak menunda. Banyak kerugian dari menunda. Aku yakin, kalau anda diminta untuk memberi kesaksian, pasti banyak dari antara anda yang akan setuju dengan perkataan saya barusan.

                Aku sendiri pernah merasa menyesal, karena menunda untuk segera meng klaim ke perusahaan asuransi atas mobilku yang penyok. Tapi karena aku pikir masih ada waktu, maka aku menunda klaim itu berminggu-minggu, sampai ketika aku pikir sudah waktunya aku melakukannya, ternyata terlambat. Mobil itu sudah habis masa covernya sejak beberapa hari sebelumnya. Kalau saja aku lebih cepat melakukannya, tentu masih bisa diperbaiki, tapi sayangnya sekarang sudah tidak. Dan itu terjadi karena kemalasan dan kecerobohanku. Nanti, nanti, dan nanti. Harganya mahal, teman.

                Waktu itu terus berjalan, dan kita harus mengerti bahwa ia tidak akan bisa menunggu.  Lakukanlah segala sesuatu dengan benar sebelum kita menyesalinya.

                Satu hal penting yang sangat harus kita sadari adalah mengenai pertobatan.

                Jangan tunda-tunda, teman. Kalau Tuhan mengingatkanmu soal itu hari ini, jangan katakan ‘Nanti!!’ sebagai responnya. Sebaliknya, jawablah dengan segera dan sukacita, berikan responmu kepadaNya dan segera melakukannya. Kita tidak akan pernah tahu kapan waktu hidup kita akan berakhir. Jangan sampai ketika kita benar-benar ingin melakukannya, ternyata waktunya sudah tidak memungkinkan lagi untuk itu.

                Banyak masalah dan segala hal yang berusaha menarik perhatian kita dari apa yang seharusnya kita lakukan. Dan tentunya apa yang menjadi keputusan kita akan hari ini akan sangat mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya.  Terlalu banyak penundaan dalam hidup kita. Dan semuanya bukan karena kita tidak mampu, tapi lebih karena kemalasan kita. Alangkah sia-sianya.

Amsal 24 : 33-34  "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,"  maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Nasihat yang tidak pernah saya lupakan, karena memang itulah yang akan terjadi bagi si pemalas. Kemalangan, kekacauan dan kehidupan yang tidak jelas akan datang dengan sendirinya.

                Hanya karena masalah penundaan keputusan bisa mengakibatkan kerugian yang besar dalam waktu sekejap. Penundaan yang tidak semestinya akan menghasilkan banyak tawaran yang dibatalkan. Karena itu berhati-hatilah. Bijaklah dalam menggunakan kata ini.

                Jangan tergesa-gesa hanya karena emosi sesaat, tapi juga jangan terlambat hanya karena kemalasan kita. Berhati-hati dan bijaklah dalam memutuskan untuk menggunakan kata tersebut, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.

                Nasihat sederhana ini tentu sudah sering kita dengar, tapi tetap saja kita sering melakukannya. Tapi saya harap, hari ini kita semua diingatkan kembali untuk tidak terus mengulangnya dalam hidup kita. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

 
Designed by vonfio.de