Home Artikel Rohani Column By Sariwati PERJALANAN PELAYANAN KE SANGGAU KALIMANTAN BARAT - SEBUAH LAPORAN PERJALANAN –
PERJALANAN PELAYANAN KE SANGGAU KALIMANTAN BARAT - SEBUAH LAPORAN PERJALANAN – PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Monday, 31 October 2011 00:23

 

 

Yohanes 9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.

 

Begitu banyak kegiatan dalam hidupku.

Peristiwa demi peristiwa berlalu dengan cepat. Semuanya terasa menyenangkan.

Akhir Agustus lalu, anda bisa menemukan aku sedang ada di dalam sebuah pesawat domestik, memandang ke luar jendela dan memperhatikan hamparan awan putih di bawah pesawat yang kutumpangi.

Kali ini aku harus berangkat melayani sebuah sinode GAPIN di Sanggau di Kalimantan Barat. Untuk menuju kesana aku harus berangkat dari Bandung menuju bandara di Jakarta, lalu menumpangi pesawat menuju Pontianak, dan melanjutkan perjalanan darat kira-kira 5 jam lamanya untuk akhirnya sampai di Sanggau. Perjalanan yang lumayan panjang.

Di pesawat itu, sambil menikmati cerahnya hari ini, aku mendengarkan musik instrumen yang mengalun dengan lembut lewat earphone dari ipod touch ku yang selalu kubawa kemanapun aku bepergian jauh.

Sesekali aku akan membuka ebook yang ada di dalam ipod tersebut, tapi akhirnya aku mulai lelah dan mengantuk, maka akupun menutup mataku sejenak dan beristirahat. Terlelap sejenak pasti akan mengembalikan semangatku dalam perjalanan yang akan cukup panjang ini. Tadi malam aku hampir tidak tidur karena pesawat yang kutumpangi ini berangkat cukup pagi, sementara aku harus menempuh perjalanan dari Bandung menuju bandara di Jakarta sejak tengah malam. Alhasil, sekarang aku merasa lelah sekali.

Sayangnya, perjalanan menuju Pontianak itu sangatlah singkat. Kira-kira 1,5 jam kemudian kamipun sampai di Bandara di Pontianak, Kalimantan Barat.

 

Hari masih cukup pagi, namun udara disana memang terhitung panas. Ada beberapa orang yang sudah siap menjemput kami di sana, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Sanggau. Perjalanan ini sendiri memakan waktu kira-kira 5 jam perjalanan dari Pontianak. Ya, cukup lama. Namun ini kabar baik buatku yang memang masih sangat mengantuk. Aku bisa melanjutkan tidurku yang terputus barusan.

 

Selesai perkenalan kami dengan para penjemput, dan setelah makan siang tentunya, maka perjalanan menuju Sanggau yang jauh itupun menjadi waktu yang tepat bagiku untuk melanjutkan mimpiku. Tidak ada yang dapat menahannya lagi, segera saja aku menutup mata dan langsung melayang entah kemana.

Perjalanan yang katanya sangat tidak nyaman itu, karena jalanan yang kami tempuh sebagian masih tanah merah dan belum beraspal itu benar-benar tidak terasa bagiku. Aku benar-benar nyenyak tertidur. Hahahahah..tidak ada yang berani menggangguku. Menyenangkan sekali.

Hanya di tengah perjalanan aku terbangun ketika merasa bahwa kendaraan itu berhenti di satu tempat. Rupanya kami sampai di perbatasan, di sebuah tempat yang sepertinya memang tempat perhentian di daerah itu. Ada beberapa rumah makan sederhana di sana, namun makanannya benar-benar lezat. Kalimantan memang terkenal dengan makanannya yang lezat, dan itu sudah kubuktikan.

Selesai mengisi kampung tengah, perjalanan panjang itu pun dilanjutkan kembali. Kali ini aku tidak melanjutkan tidurku walaupun ingin, karena pemandangan yang indah mulai terlihat di kiri kanan kami, dan rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja. Jadilah aku ikut dalam percakapan di sepanjang jalan itu. Menyenangkan bertemu dengan beberapa orang baru dalam hidup kita. Dan semua yang ada di dalam mobil itu bisa dibilang adalah kenalan-kenalan baruku hari ini.

Setelah sekian jam, tiba-tiba aku melihat pemandangan yang sangat menarik. Durian!! Di sepanjang jalan banyak orang terlihat berjualan durian. Waahh...menyenangkan sekali. I love durian. Spontan saja aku berseru,”Durian...!!!” dan terjadilah sesuai dengan perkataanmu...hahahha..mereka sengaja menghentikan mobil dan membeli satu kardus besar durian untuk kami nikmati bersama. Waahhh..asyiknya. Durian di sana murah sekali dan manis sekali. Durian yang matang jatuh dari pohon benar-benar asli manisnya. Sesuatu yang jarang aku temui di kota Bandung. Aku yakin orang akan bisa melihat mataku yang berbinar-binar melihat durian-durian itu. Sungguh, aku makan durian sampai perutku panas rasanya. Puas sekali.

Dan sisa perjalanan itu benar-benar tidak terasa, meskipun melewati begitu banyak kelokan yang tajam, karena kami semua bercengkerama dengan akrab sambil menikmati durian manis itu.

Akhirnya...kota Sanggau.

Tadinya aku pikir Sanggau ini masih berupa desa pedalaman. Tapi ternyata lebih bisa dibilang merupakan kota kecil, karena sudah sangat teratur dan juga cukup ramai untuk ukuran sebuah desa. Dan kami berdua, aku dan Ibu Herni yang menemani perjalananku sejak di Jakarta, mendapatkan tempat tinggal di sebuh hotel yang cukup besar untuk ukuran kota kecil itu. Aaaahh Tuhan memang baik.

Malam pertama kami hanya beristirahat di hotel. Tidak banyak yang kami kerjakan. Setelah mencari makan malam, maka akupun membuat persiapan untuk pelayanan kami esok sorenya. Dan malam itu aku beristirahat dengan sangat lelap, rupanya kelelahanku belum terbayar lunas. Apalagi ditambah dengan lima jam di perjalanan darat tadi benar-benar menambahi kelelahanku hari itu.

Pagi hari aku bangun dengan lebih segar. Setelah berdoa dan bersaat teduh, kami sarapan dan keluar dari hotel untuk sedikit melihat-lihat suasana kota itu. Pemandangan yang sedikit berbeda dari kota Bandung.

Dan memang pada dasarnya wanita itu suka berbelanja, maka tujuan utama kami adalah menuju pasar atau supermarket yang ada di pusat kota tersebut. Meskipun harus naik kendaraan umum, maka jadilah kami menyusuri pasar di kota itu untuk mencari makanan khas yang ada di sana. Menyenangkan sekali. Inilah yang kunamakan anugerah. Bisa melayani sambil meluaskan wawasan.

Sore harinya, sesuai dengan jadwal kami, pihak panitia setempat menjemput kami menuju ke tempat KKR diadakan. Hatiku rasanya melonjak senang. Menyaksikan ada hampir sekitar 400 orang wanita berkumpul di satu tempat untuk KKR hari itu. Wajah mereka penuh dengan rasa haus akan firman Tuhan. Amazing.

Dan aku merasa terhormat mengetahui bahwa aku dipilih untuk menyampaikan firman Tuhan di sana. Dan kasih Tuhan benar-benar menghantar aku untuk bisa memberikan yang terbaik bagi mereka.

Aku menyampaikan tentang bagaimana proses pembentukan karakter kita untuk bisa menjadi wanita yang diberkati. Dan diakhir KKR ada begitu banyak wanita yang maju untuk terima Tuhan pertama kali. Pemandangan yang indah.

Yang lebih istimewa, bahkan ibu bupati Sanggau hari itu hadir dan berkenan mengikuti KKR tersebut hingga selesai, tentunya ini juga menjadi nilai tersendiri bagi perjalananku kali ini.

Sobat, menyaksikan para wanita itu bisa berkumpul di tempat itu merupakan hal yang sangat istimewa. Mengapa istimewa? Karena mereka bukan hanya berasal dari daerah dekat situ saja. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar daerah yang sangat jauh letaknya. Banyak yang harus menempuh perjalanan sungai dan darat lebih dari delapan jam lamanya. Namun mereka melakukannya karena mereka merasa haus dan rindu akan hadirat Tuhan. Betapa dahsyatnya kenyataan itu. Dan tentunya hal itu membuat aku lebih bersungguh-sungguh lagi melayani mereka semua. Perjalanan panjangku tidak ada apa-apanya dibandingkan yang mereka lakukan bukan?

Melayani Tuhan merupakan satu kehormatan bagiku. Apalagi jika bisa melakukannya sampai sejauh ini. Ke tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Murni hanya melayani dan jiwa-jiwa itu menjadi tujuan perjalananku. Hatiku benar-benar dipuaskan oleh keberadaan mereka semua di tempat itu.

Apalagi ketika keesokan harinya mereka semua tetap hadir dan semangat dalam seminar wanita. Aku membawakan sesi tentang bagaimana menjadi wanita yang kreatif, dengan bahan yang sudah pernah aku cantumkan di dalam roti hidup ini. Mereka semua sangat antusias mendengarnya, dan bertekat untuk mencobanya dalam kehidupan mereka. Bahkan ketika aku mengusulkan untuk membuat semacam bazaar wanita, mereka memutuskan akan mencobanya di dalam kegiatan mereka selanjutnya. Wah, respon mereka benar-benar luar biasa.

Aku tidak bisa melupakan wajah-wajah mereka yang berbinar ketika mengutarakan kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Sungguh, Tuhan itu memang hidup bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Dengan bangga aku bisa menceritakan bahwa Tuhan Yesus itu memang luar biasa.

Perjalananku kembali ke Pontianak setelah menginap dua malam di Sangau terasa lebih ringan karena aku sudah menyelesaikan tugas yang diberikan. Dan karena pesawat yang akan mengantarku kembali ke Jakarta masih keesokan sorenya, maka malam itu kami menginap di Pontianak, dan kali ini aku senang karena bisa berkenalan lebih jauh dengan saudara-saudara dari GISI Pontianak.

Durian oo durian...memang Tuhan tahu apa yang aku suka. Ketika aku kembali ke Jakarta, mereka memberi oleh-oleh durian yang sudah dikupas terlebih dahulu, di taruh dalam kotak plastik yang cukup besar, ditutup dan dibungkus rapat-rapat supaya baunya tidak mengganggu orang lain, dan aku bisa membawanya di pesawat tanpa dikomplen orang tentunya. Itulah anugerah lain dalam perjalanan ini. Hahahaah...indahnya berjalan bersama Tuhan...

Sekedar penutup, aku mau mengatakan..jangan jemu-jemu melayani Tuhan. Mari kita kerjakan apa yang kita bisa lakukan selagi hari masih siang, karena akan tiba waktunya nanti dimana kita tidak bisa lagi melakukannya. God bless you...

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 

Last Updated on Monday, 31 October 2011 00:34
 
Designed by vonfio.de