Home Artikel Rohani Column By Sariwati SELESAIKANLAH DENGAN BAIK
SELESAIKANLAH DENGAN BAIK PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Saturday, 04 June 2011 13:19

Lukas 14 : 26 - 27 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Mudah untuk memulai sesuatu, tapi sulit untuk menyelesaikannya. Ya, itu yang sering terjadi di dalam hidup kita. Bahkan kalau saja engkau tahu, sejak tadi saya sudah mengganti entah berapa kali tulisan hari ini. Karena saya berusaha untuk menceritakan hal yang bisa semua orang baca dengan baik dan mencernanya, yang akhirnya bisa merasa terberkati. Tapi karena topiknya belum terlalu matang, maka sulit sekali untuk membuat lanjutannya. Akibatnya, saya harus menggantinya lagi. Dan yang lebih parah lagi, saya harus menggantinya berkali-kali. *menyedihkan*.

Saya selalu teringat dengan satu kutipan yang menyatakan ‘orang itu dinilai bukan dari bagaimana dia memulainya, tapi bagaimana dia mengakhirinya.’

Tuhan Yesus juga mengerti prinsip ini. Bahkan Ia benar-benar mengingatkan setiap orang yang akan mengikut Dia untuk benar-benar berani mempertanggung jawabkan keputusannya di dalam mengikut Dia, dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan orang lain dan kemudian menghilang di tengah-tengah waktunya.

Banyak orang mudah untuk mengatakan bahwa mereka mau mengikut Tuhan, tapi tidak mengerti resikonya dan berapa harga yang harus mereka bayar untuk itu. Itulah yang terjadi di masa ketika Yesus masih ada di dunia ini.

Lukas 14 : 26 -27 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Pada masa itu kemanapun Yesus pergi selalu diikuti oleh serombongan besar orang. Entah bagaimana, tapi sepertinya keberadaan Yesus benar-benar menarik perhatian orang untuk mengikutiNya. Apalagi dengan demonstrasi kuasa yang memang benar-benar Dia tunjukkan melalui pelipatgandaan makanan, kesembuhan yang ajaib, dan begitu banyak kisah yang mengenyangkan rasa haus dan lapar mereka akan firman Tuhan, lengkaplah rasanya menjadi alasan bagi mereka untuk semakin giat menjadi pengikutNya.

Kalau seandainya Yesus ada di jaman ini, saya tidak bisa membayangkan seberapa yang akan menjadi follower TwitterNya. *senyum* Pasti buanyaaakk sekali.

Soalnya, saat itu saja, setiap gerakanNya dan perpindahanNya dari satu daerah ke daerah lain yang sebenarnya cukup melelahkan dan panjang perjalanannya itu sangat mampu menarik begitu banyak orang untuk berduyun-duyun mengikutiNya, apalagi kalau Cuma tinggal follow di Black Berry atau FaceBook. Jangan-jangan hanya suara ‘ehem’ saja bisa berarti status baru sedang di tag ke semua orang, dan pastinya akan menyedot perhatian semua orang.

Yesus sendiri menyadari hal ini. Tapi Ia bukan sedang mencari pengikut. Ia mencari murid. Level pengikut dan murid tentunya sangat berbeda. Dan Ia bukan membutuhkan pengikut. Ia membutuhkan orang yang mau menjadi muridNya yang taat dan setia. Orang yang mau ikut menyelesaikan karyaNya dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan.

Luk 14 : 25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Selalu banyak orang yang berduyun-duyun mengikutiNya. Kemanapun Ia pergi sepertinya tidak pernah bisa melepaskan diri dari orang-orang ini. Bahkan kelihatannya semakin hari semakin banyak pengikutNya itu. Tentunya kondisi ini juga yang diperhatikan oleh para pemimpin agama Yahudi ketika itu, dan membuat mereka benar-benar iri dengan situasi ini.

Tapi mereka semua tidak mengerti, bahwa akan terjadi penyaringan yang besar di situ. Karena banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat 22:14). Dan cara Yesus menyaring mereka dengan menerapkan standar yang sangat tinggi.

Yesus menyadari bahwa pada saat itu pasti banyak orang akan mengaku bahwa mereka adalah pengikutNya dan bangga bisa mengikutiNya kemana-mana. Bahkan tidak heran jika ada di antara mereka yang mulai mengangkat diri mereka sendiri menjadi asistenNya. Dan semua yang dikatakan oleh Yesus ketika itu akan mereka telan bulat-bulat dan menyiarkannya kembali begitu saja walau kebanyakan dari mereka tidak mengerti apa yang mereka dengar itu.

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Ya, lebih banyak pengikut Tuhan yang hanya bisa berseru Tuhan, Tuhan...tetapi mereka semua hanya melakukan apa yang mereka sukai dibandingkan dengan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Dan untuk inilah penyaringan dilakukan, karena Tuhan sekali lagi sedang mencari murid dan bukan hanya sekedar mencari pengikut.

Lukas 14 : 26-27 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Menjadi murid sangat berbeda dengan sekedar pengikut. Ada banyak pengikut, tapi hanya sedikit yang mampu menjadi murid. Bahkan setelah menjadi murid pun kita akan diuji dan disaring kembali, untuk membuktikan seberapa kualitas kita di hadapan Tuhan.

‘Wahhh...pengajaran apa ini? Dia sesat...!!! Bukankah selama ini kita diajarkan untuk menghormati ayah ibu kita? Mengapa sekarang Dia justu mengubahnya dan kita diajar untuk membenciNya? ‘ ....’sepertinya kita salah mengikuti Dia selama ini’...’Iya, mengapa Dia juga meminta kita untuk membenci diri sendiri?’

Dan begitulah kira-kira apa yang akan kita dengar di dalam percakapan mereka semua hari itu. Berbagai pandangan dan persepsi baru akan muncul di antara mereka, dan hasilnya? Tidak heran kalau hari itu sejumlah besar dari orang yang berduyun-duyun itu akan mulai meninggalkan Dia.

Tapi tidak begitu dengan muridNya. Mereka akan tetap berada bersama Dia. Dan kenyataannya, ketika semua mata menyaksikan bagaimana Ia ditangkap, disiksa dan bahkan disalibkan...bersamaan dengan itu, semua pengikutNya itupun menghilang entah kemana. Yang tersisa hanyalah para muridNya-kecuali Yudas tentunya- dan para wanita yang setia mengikut Dia sampai pada kesudahannya.

Lukas 14 : 28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan , tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Sejak awal, Yesus mengingatkan mereka semua bahwa tidak mudah menjadi muridNya. Benar-benar dibutuhkan keputusan yang matang. Persis seperti orang yang hendak membangun menara, kalau mereka tidak membuat perhitungan yang matang, maka besar kemungkinannya biayanya tidak mencukupi seluruh kebutuhannya, sehingga mereka akan berhenti di tengah pembuatannya. Dan kalau sampai itu terjadi, bukankan mereka akan merugi besar? Dan yang paling mungkin terjadi adalah banyak orang yang memperhatikan apa yang ia kerjakan itu tentu akan mengejeknya dan menganggapnya tidak becus melakukan pekerjaannya itu.

Begitu juga ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan. Ada harga yang harus kita bayar, dan cukup mahal. Itulah mengapa Dia meminta kita untuk memperhitungkannya dari awal, supaya jangan sampai ketika kita memutuskan untuk melakukannya, kita hanya sanggup mengikutinya setengah jalan, lalu kita kembali ke tempat asal kita. Dia berharap bahwa semua orang yang mengikuti Dia akan sanggup menyelesaikannya sampai ke garis akhir.

Lukas 14 : 27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Berat? Itu sudah jelas. Tapi pesanNya itu juga jelas. Sambil memikul salib, Ia minta kita tetap mengikut Dia. Kalau tidak demikian, maka kita tidak layak bagi kerajaanNya. Beratnya beban yang kita pikul tidak akan jadi secara otomatis menghilang begitu saja ketika kita menjadi muridNya. Tapi Ia akan membantu kita untuk memikulnya bersama. Beban itu akan menjadi ringan karena Dia akan turut menanggungnya bersama kita. Tapi kalau kita menjadi kecewa dengan situasi itu dan malah meninggalkan Dia, maka segala konsekuensinya akan kita tanggung sendiri.

Menjadikan Yesus sebagai Tuhan memiliki arti yang sangat dalam. Ia meminta kita untuk benar-benar bisa menaruh Dia di atas segalanya. Mencintai Dia dengan sepenuh hati, sedemikian rupa sampai-sampai kita tidak lagi memikirkan kepentingan kita di atas kepentingan Dia. Itulah maksud dari perintahNya itu. Bukan kesesatan, bukan penyimpangan, bukan sungguh-sungguh membenci secara membabi buta. Tapi Ia meminta kita untuk bisa melihat Dia sebagai panutan yang akan kita taruh di atas segalanya.

Mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Jujur saja, kebanyakan dari kita lebih memilih untuk melakukan apa yang kita suka saja dibandingkan dengan apa yang Tuhan kehendaki. Tapi kedangkalan seperti ini sangat rentan untuk menjadi kecewa.

Tapi kalau kita berhasil memotivasi diri kita untuk tetap mengikut Dia sampai kesudahannya, ada banyak janji Tuhan yang akan terjadi dan bisa kita nikmati. Ia akan mengangkat kita lebih tinggi. Ia juga akan menyertai kita sampai kesudahannya. Ia akan mengajak kita dalam kebahagiaanNya. Begitu juga Ia akan membukakan pintu-pintu berkat itu bagi kita. Dan banyak hal baik yang akan menjadi bagian kita.

Sobat, saya sendiri sudah mencicipinya, dan saya rindu untuk mendapat bagian yang lebih banyak lagi di dalam Tuhan. Dan kenyataan yang bisa saya sampaikan adalah bahwa bagian itu masih sangat banyak di surga sana, siap untuk dicurahkan bagi setiap orang yang mengasihiNya. Jadi, ayo jangan berdiam diri saja. Kita lakukan bagian kita apapun resikonya.

Ambil keputusan untuk mengikut Dia dan melanjutkannya sampai kesudahannya. Jangan berhenti di tengah jalan, tapi terus maju. Jika engkau merasa kelelahan, maka yang engkau perlukan adalah kesegaran baru yang dari Tuhan. Minta itu daripadaNya, dan berjalanlah lagi. Nikmati masa-masa yang penuh dengan keajaiban bersama dengan Dia. Belajar melepaskan diri dari segala yang kita miliki, taruh pikiran kita di dalam Kristus, maka kekuatan itu akan menyertai kita. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 
Designed by vonfio.de