|

Yeremia 31 : 3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.
Pernah jatuh cinta? Pernah mencintai seseorang dengan perasaan yang teramat dalam? Pernah mencoba membangun hubungan dengan seseorang? Bagaimana rasanya? Sangat indah dan menyenangkan. Betul begitu?
Yaaa, di saat kita jatuh cinta dan dalam proses mencintai seseorang, segala situasi menjadi menyenangkan. Perasaan cinta itu mengalahkan segalanya. Sekalipun orang tersebut melakukan hal yang menggelikan, kita akan dengan mudah bisa menerimanya. Kita bahkan tidak akan keberatan dengan semua permintaan yang dia lakukan. Dengan senang hati kita akan melakukannya asal bisa menyenangkan hatinya.
Hampir setiap waktu di setiap hari yang kita lewati, yang kita pikirkan hanya tentang orang tersebut, dan bagaimana bisa memenuhi harapannya.
Kita akan mencatat baik-baik semua kesukaannya dan apa yang menjadi cita-citanya. Makanan favoritnya, bahkan kita akan menyimpan dalam memori kita bagaimana caranya bicara, tertawa, dan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu yang khusus ia tujukan kepada kita.
Cinta oh cinta, alangkah indah dan menyenangkannya. Dan sangat menyenangkan khususnya ketika semuanya berjalan mulus seperti yang kita inginkan, kondisinya baik-baik saja, komunikasi lancar, dan tidak ada pertengkaran dan konflik di dalam hubungan tersebut.
Tapi apa yang akan terjadi ketika situasinya berubah? Ia tidak lagi bisa diharapkan. Ia juga tidak selucu dan se-menyenangkan sebelumnya. Kata-katanya tidak lagi manis, dan malah kebalikannya : tajam, judes, keras dan penuh penghinaan. Wajahnya sudah tidak mempunyai senyuman. Matanya tidak lagi memancarkan cinta. Semua yang indah itu sudah berlalu. Yang tersisa hanyalah rasa sakit, kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja, hanya dalam waktu yang singkat, semua peristiwa menyakitkan yang dulu tidak menjadi masalah, kini muncul dan tidak bisa diampuni. Semua keindahan itu sirna sudah. Apa yang dulu bisa ditoleransi, kini tidak lagi. Bahkan kata-kata yang salah sedikit saja, bisa menyebabkan pertengkaran yang besar.
Semua janji-janji manis yang pernah diucapkan menguap seiring dengan berlarinya yang namanya cinta. Perasaan itu pun sudah tak berbekas lagi. Bahkan bayang-bayangnya pun tak terlihat lagi. Begitu mudahnya semua itu berlalu, seakan-akan apa yang pernah terjadi dan dilewati bersama itu hanyalah sebuah khayalan dalam mimpi, dan tidak pernah terjadi.
Oooo malangnya manusia dengan segala perasaannya. Seperti menipu diri sendiri ia menghibur dengan berkata bahwa itu tidak pernah terjadi. Dan dengan segala upaya ia berusaha melupakan apa yang pernah terjadi dan dialaminya itu. Anggap saja orang itu adalah bayangan dari fantasi yang ingin diwujudkan menjadi sebuah kenyataan, namun sebenarnya dia tidak pernah hadir. Cinta ooh cinta, benda apa sebenarnya engkau? Sebentar menyenangkan, sekejap kemudian engkau begitu menyakitkan dan menyayat hati.
Dan jika ada orang yang bertanya, jika seandainya orang itu berbalik dan ingin kembali, bagaimana responmu? Kebanyakan akan menjawab dengan tegas, tidak!!! Aku tidak akan pernah menerimanya kembali. Ia sudah terlalu menyakitin hatiku, dan aku tidak akan pernah mau disakitinya kembali. Ow...sampai di situ sajakah kekuatan cinta itu? Dan kenyataannya, lebih banyak orang yang mengambil keputusan yang sama, karena manusia itu selalu belajar untuk tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Sangat manusiawi, dan sangat alamiah.
Kalau demikian kondisinya, apakah ada yang namanya cinta sejati itu? Cinta yang memang mau berkorban, rela melakukan apa saja untuk orang yang ia cintai? Siap mengampuni dan menerima kapan saja ia kembali? Merelakan hatinya untuk terus mencintai meskipun orang tersebut meninggalkannya? Bahkan tetap mencintai dengan tulus sekalipun ada begitu banyak luka yang ia tinggalkan? Sulit untuk menjawabnya. Lebih banyak orang akan berkata bahwa lebih baik tidak pernah ada kata kembali, karena baying-bayang luka lama akan selalu kembali menghantui dan mengganggu hubungan yang dirajut kembali itu.
Kalau anda pernah mengalami semua pengalaman cinta itu, apakah anda juga akan menyetujui apa kata mereka tersebut? Jika demikian, apakah artinya anda setuju bahwa memang tidak ada yang namanya cinta sejati itu?
Tapi pagi ini Allah mematahkan semua teori itu. Ia memiliki cinta sejati itu, karena Ia sendiri secara utuh adalah kasih. Ia tidak akan pernah bisa mengingkari kasih yang Ia miliki. Dan kenyataannya, Ia mengasihi kita bukan karena siapa kita, tapi lebih karena siapa Dia. Ia tidak akan pernah bisa mengingkari kasih itu, seperti apapun kita di hadapanNya. Secara DNA nya dan secara keseluruhannya, Ia adalah kasih. I Yohanes 4 : 8 ….Allah adalah kasih. Setiap orang yang mengenalNya akan mengetahui hal ini. Tidak ada yang bisa menyangkalnya.
Ia bahkan mencintai kita selagi kita masih dalam keadaan berdosa. ( Rm 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.)
Ia menerima kita dan mengasihi kita sampai selama-lamanya. (Yoh 13:1b Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.)
Meskipun Ia dikhianati dan dikecewakan berkali-kali, Ia akan selalu menerima kita kembali dan menyucikan kita. (I Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.)
Ia rela berkorban, kehilangan segalanya dan bahkan rela memberikan anakNya sendiri bagi kita yang dicintainya. (Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. )
Begitu juga Ia rela untuk memberikan nyawanya bagi mereka yang Ia cintai. (Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.)
Allah adalah kasih, dan Ia akan menjadi cermin kasih bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Ketika kita mengenal Dia, maka kita akan mencerminkan kasih itu. Dunia akan mentertawakan dan menganggap kita bodoh karenanya, tapi itulah yang menjadi keinginanNya.
Meskipun kita berulangkali akan melakukan kesalahan lagi dan lagi, menyakiti hatiNya lagi dan lagi, namun bagi Dia, kita tetap akan menjadi kekasih hatiNya. KesetiaanNya tidak akan ada yang menandingi. Ia tidak pernah lelah memperhatikan kita, matanya akan terus mencari-cari. Bahkan dari jauh Ia sudah melihat dan memperhatikan kita. Ia selalu siap merentangkan lenganNya dan menantikan kita untuk kembali kepadaNya. Itulah yang Ia lakukan dan akan terus Ia lakukan.
Yeremia 31 : 3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.
Sobat, waktu aku menyadari hal ini, yang mau aku lakukan hanyalah menenggelamkan diriku ke dalam kasihNya. Aku ingin melumuri diriku dengan kasihNya sedalam-dalamnya, sehingga semua kasih itu akan melekat dan meresap ke dalam seluruh pori-poriku sehingga tidak ada bagian dalam hidupku yang tidak mengalami kasih itu. Aku benar-benar membayangkan diriku bagaikan sepotong daging yang sedang dimarinade di dalam bumbu barbeque. Seperti itulah harapanku. Benar-benar dimarinade dan direndam dalam bumbu kasih Allah yang lezat itu, berlama-lama di dalamnya sehingga semuanya benar-benar meresap. Aku berharap setelah ini setiap orang yang bertemu denganku bisa ikut merasakan nikmatnya kasih itu. Hmmm…yum yum…J..wanna try it too? Just do it…totally for Jesus.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung
|