Home Artikel Rohani Column By Sariwati TEPUK TANGAN YANG BISA MENJATUHKANMU
TEPUK TANGAN YANG BISA MENJATUHKANMU PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Wednesday, 04 May 2011 15:34

Yesaya 14 : 12 - 14 "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Berdiri di mimbar dan berbicara di hadapan sedikit orang bisa jadi pada mulanya akan sedikit gugup. Tapi ketika kita bisa melihat antusiasme yang mereka tunjukkan bisa mengubah kondisi itu. Semakin baik respon mereka akan semakin membuat kita bersemangat menyampaikan apa yang perlu kita katakan.

Semakin banyak jumlah audience di hadapan kita tentunya akan membuat kondisi yang berbeda lagi. Gemuh tepuk tangan dan respon positif yang diberikan sejumlah besar orang tentu akan membuat kita makin bergairah dan merasa senang berada di atas panggung itu berlama-lama.

Saya perhatikan dan saya rasakan itulah yang sebenarnya. Karena saya sendiri kadang berada di dalam posisi tersebut, jadi saya bisa katakan memang itulah yang sebenarnya. Semakin besar crowd nya, semakin bersemangat kita menyampaikan isi sharing kita. Dan tanpa disadari, kadang kita juga jadi membedakan persiapan yang kita buat. Kalau crowd sedikit, maka kita akan menyiapkannya biasa saja. Tapi kalau crowd nya besar, maka kita akan lebih ekstra mempersiapkannya.

Begitu juga yang terjadi di dalam dunia entertainment. Saya menyaksikan bagaimana mereka yang awalnya dari kalangan biasa, yang bukan artis sama sekali, ketika mereka memulai perjalanan karirnya di atas panggung, maka biasanya akan terlihat sekali ke –awam-an nya. Gerakannya masih malu-malu, suara yang dikeluarkan pun walau bagus, tapi tetap terasa ‘amatir’. Tapi coba setelah sang ‘awam’ ini diberikan kesempatan berikut, plus sambutan yang gemuruh dari para penontonnya, pasti akan membawa perubahan yang drastis kepadanya. Plus pujian dari sang juri atau penonton, maka sikap dan kepercayaan diri mereka pun akan berubah dengan sendirinya. Yang tadinya malu-malu, kini semakin yakin dengan penampilannya. Dan semakin lama semakin menikmati sambutan tersebut dan membuat mereka tidak akan pernah mau meninggalkan panggung itu kalau bisa.

Popularitas dan sambutan meriah yang hingar bingar mengelu-elukan sang bintang benar-benar bisa mengubah karakter seseorang. Mereka yang tadinya pemalu, kini bisa dengan tegak memandang tanpa keraguan lagi. Mereka yang tadinya memang sudah begitu pe-de, kini bisa semakin yakin akan dirinya sendiri. Bahkan mereka yang tadinya biasa saja, kini bisa menjadi sombong dan lupa akan siapa dirinya sebelumnya.

Begitulah yang menjadi awal kejatuhan dari Lucifer, yang dulunya merupakan pemuji Allah, kini tidak lagi. Ia terlalu menikmati kepopuleran itu sehingga ia ingin memilikinya sendiri, dan lupa kalau semua pujian itu bukan bagi dia tapi bagi Allah. Ia ingin merebutnya dari pemiliknya yang sebenarnya.

Menjadi terkenal dan populer mungkin impian bagi sebagian besar orang. Tapi yang berbahaya adalah bagaimana kepopuleran itu bisa menjegal kehidupan kita sehingga kita men Tuhankan diri kita di atas orang-orang tersebut. Hati-hati. Apa yang kita miliki hari ini bisa menjadi berkat buat kita, tapi bisa juga membawa kita pada kejatuhan. Dan kejatuhan yang terjadi bisa sangat dalam.

Dedikasikan posisi kita saat ini kepada Tuhan supaya Dia tetap menjadi fokus utama hidupmu. Bukan artinya Dia tidak akan mengijinkanmu berada di posisi puncak, tapi jangan sampai posisimu menjauhkanmu dari Dia.

Apa yang terjadi pada Lucifer bisa terjadi pada siapa saja. Kekayaan dan kemakmuran dan kehormatan memang diinginkan oleh banyak orang. Bahkan banyak orang rela melakukan apa saja untuk bisa mendapatkannya. Mengapa tidak, kalau sesudahnya mereka pikir bisa terbayar segala pengorbanan mereka.

Tapi jangan sampai kita tertipu oleh kesenangan sesaat. Apa yang kita lihat saat ini bisa saja sangat memukau, tapi tidak untuk hal jangka panjang. Jangan sampai ketika kita menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Tidak ada lagi waktu untuk memperbaikinya.

Berikan dan kembalikan segala kemuliaan itu kepada Tuhan. Dialah pemilik yang sah atas semua kuasa, kehormatan dan kemuliaan itu. Ketika kita berada di panggung itu dan menyampaikan semuanya, dan jika kita mendengar gemuruh tepuk tangan itu, pastikan bahwa kita menyadari mereka bertepuk tangan bukan untuk kita, tapi untuk Tuhan. Jangan pernah ingin memilikinya. Dia tidak akan membagi kemuliaan itu dengan siapapun. Tapi Dia akan pastikan jika engkau setia kepadaNya, maka Dia akan mengajak engkau masuk ke dalam kebahagiaan Tuanmu itu. J

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 
Designed by vonfio.de