Home Artikel Rohani Column By Sariwati TERANG ITU BENAR-BENAR MENYINGKIRKAN KEGELAPAN
TERANG ITU BENAR-BENAR MENYINGKIRKAN KEGELAPAN PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 01 July 2010 19:52

Kejadian 1 : 3  Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.  Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.  Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

                Klik! Dan terang lampu seketika menguasai ruangan dapur yang gelap yang kumasuki pagi hari ini. Suatu hal rutin yang setiap hari pasti kulakukan. Tapi hari ini, ada suatu pesan yang sepertinya Allah ingin sampaikan kepadaku. Terang yang baru saja kulihat ketika saklar lampu kupijit tadi, sungguh-sunggiuh memberikan cahaya yang kuperlukan untuk melihat dengan jelas dan bisa menemukan barang yang kucari.

                Andaikan Tuhan tidak pernah menciptakan ‘Terang'  itu, apa yang akan terjadi ya? Bumi ini benar-benar gelap dan dingin. Tidak ada keceriaan, tidak ada suka cita dan kegembiraan. Semua makhluk hanya bisa merasakan kebekuan dan kemuraman sepanjang masa. Betapa tidak menyenangkannya. Bahkan karena gelap dan tidak bisa melihat dengan jelas, mungkin saja satu sama lain tidak akan saling mengenal dengan baik. Masing-masing akan hidup dengan dirinya sendiri saja dan sangat mudah untuk menyembunyikan sesuatu dari yang lainnya. Betapa menyedihkannya.

                Apakah akan ada suara tawa di dalam kegelapan seperti itu? Hmmmmm...entahlah.

 

               Satu waktu, ketika rumah kami mendapatkan giliran untuk pemadaman listrik di malam hari, maka seluruh ruangan di rumah kami mengalami gelap seketika untuk beberapa jam. Yang sibuk kami lakukan adalah mencari semua persediaan lilin yang ada untuk dinyalakan dan beberapa lampu darurat yang terbatas untuk bisa menerangi ruangan.

                Tapi semua terang itu tentu sangat terbatas jarak pendarnya, sehingga bagi anak-anak saya yang relatif masih kecil itu, lebih memilih untuk bisa duduk saling berdekatan dalam satu ruangan dimana mama papanya berada. Karena dekat dengan kami tentu memberikan rasa aman dan kehangatan bagi mereka. Apalagi di dalam kegelapan yang lumayan pekat ini, mereka lebih memilih untuk tidak meninggalkan kami sedetikpun. Dan ketika kegelapan itu menyelimuti rumah kami, sulit rasanya bagi kami untuk bercanda dan tertawa, karena perasaan kami masing-masing sangat dipengaruhi oleh kegelapan itu.  Tidak disengaja memang, tapi secara alamiah terajdi begitu saja. Barulah setelah listrik kembali mengalir dan semua lampu di rumah menyala, anak-anak berani melangkah dan kembali bercakap-cakap, melakukan aktivitas seperti biasanya. Dan tak lama kemudian, di tengah-tengah celoteh mereka saya bisa mendengar suara tawanya kembali.

                Allah Bapa kita tahu apa yang akan terjadi kalau seandainya Dia tidak pernah menciptakan ‘Terang’ itu. Penglihatan yang tersamar akan membuat kita mudah terjatuh, dan rasa takut akan terus menerus mengikuti kita kemanapun kita pergi. Dan terlebih lagi, di dalam semua kegelapan itu, iblis akan lebih mudah untuk menipu manusia. Iblis akan memenangkan pertandingan tanpa bersusah payah, karena manusia akan cenderung mencari orang yang dia pikir akan bisa ‘menolong’ di dalam kegelapan yang panjang itu, tanpa bisa melihat dan berpikir panjang ‘pribadi’ seperti apa yang akan menolong itu.

                Bersyukur bahwa Allah menciptakan ‘terang’ itu. Dia tahu persis yang kita butuhkan. ‘Terang’ yang Allah berikan adalah ‘terang’ yang nyata, yang bahkan sulit untuk ditembus oleh kegelapan sekalipun. Saking terangnya, sampai Allah harus memisahkan Terang itu dari gelap. Memang sulit untuk terang itu bisa bersatu dengan gelap. Dua sifat yang bertolak belakang ini tidak bisa disatukan. Keduanya akan selalu berseberangan. Coba saja perhatikan, setiap pagi di mana sang surya mulai terbit dan memberikan sorot sinarnya, maka kita akan melihat bagaimana terang yang dia pancarkan begitu terang dan menyilaukan, sehingga semua kegelapan yang tadinya menyelimuti bumi, walaupun enggan, tapi toh mereka harus menyingkir karena terang itu.

                2 Korintus 6:14b  Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

                Ketika ‘terang’ datang, maka kegelapan akan terusir. Itulah yang akan terjadi.  Begitu juga dengan kehidupan kita secara rohani. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, itu berarti dia tinggal dalam kegelapan. Gelap yang pekat, yang bahkan untuk bisa melihat tangannya sendiripun sulit untuk dilakukan. Kegelapan yang tidak bisa disingkirkan oleh kekuatan sendiri. Sekalipun ia menyadari betapa muram dan menyedihkannya hidupnya, ia tidak akan pernah punya kemampuan untuk menyingkirkan gelap itu dari hidupnya. Ia membutuhkan pertolongan seseorang untuk memberikan terang itu bagi hidupnya.

                Dan ketika Allah mengirimkan ‘Terang’ yang sesungguhnya, bukan hanya dalam bentuk matahari yang bersinar, tapi justru dalam wujud Yesus Kristus, anakNya yang tunggal, Putera kesayanganNya sendiri, saat itulah semua ‘kegelapan’ itu berteriak ketakutan dan tidak tahan dengan kehadiranNya.

                Di dalam ‘gelap’, dosa bisa menipu dan mempermainkan manusia, karena mata yang ditutupi kegelapan tidak akan bisa melihat dengan jelas sekelilingnya. Dosa bermain sebagai ‘pemimpin’ tipuan, yang akan membawa manusia ke jalan-jalan yang disangka orang lurus, padahal ujungnya maut (Amsal 14:12). Semua manusia yang masih tinggal dalam kegelapan akan berakting sepertinya mereka pandai tetapi sebenarnya mereka dikendalikan oleh satu kuasa gelap yang terus menerus menipu dan mempermainkan hidup mereka. Alangkah malangnya orang-orang yang masih terus hidup dalam kegelapan itu. Mereka sibuk mencari pertolongan, mencoba melakukan hal yang ‘benar’, tetapi terus berkutat dalam kegelapan yang sepertinya sudah terlalu ‘nyaman’ untuk mereka diami. Saking terbiasanya dengan semua kegelapan yang menyelimuti diri mereka, benar-benar membuat mereka curiga ketika ‘Terang’ yang sesungguhnya itu datang.

                Dosa membuat hidup mereka terlalu terbiasa dengan segala kegelapan dan kekotoran. Mereka tidak lagi punya rasa malu ketika ditemui dalam keadaan seadanya, karena mereka memang tidak pernah bisa memandang diri mereka sendiri di dalam kegelapan pekat itu. Mereka selalu berpikir bahwa selama ini mereka baik dan sungguh baik-baik saja, apapun yang mereka lakukan dalam gelap itu, mereka pikir semua itu sangat baik dan membuat mereka layak untuk disebut baik. Padahal, semua itu hanya tipuan dosa. Dosa yang sudah meracuni pikiran mereka sehingga membuat mereka merasa baik-baik saja. Dosa sudah menipu mereka sehingga mereka merasa tidak memerlukan pertolongan dari ‘Terang’ itu.

                  Yohanes 12:46  Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.

                Ketika Yesus datang membawa terang itu, banyak orang keberatan dengan perubahan besar yang Ia bawa. Manusia seperti disadarkan akan sesuatu yang selama ini tidak mereka pikirkan. Dosa dan kesalahan yang melekat dan mereka bawa seumur mereka hidup, yang dulunya tidak pernah menjadi masalah, sekarang tiba-tiba menjadi satu masalah besar.

                Perubahan yang Yesus bawa, yang sesungguhnya akan membuat hidup manusia menjadi lebih baik, ternyata tidak semuanya bisa menerimanya. Lebih banyak manusia yang lebih suka tinggal dalam kegelapan. Mereka merasa nyaman dengan keberadaannya itu. Mengherankan memang. Tapi Yesus tetap melakukannya dengan sangat baik dan penuh kasih. Ia tidak pernah memaksakan, tapi Ia akan mencoba dan mencoba lagi, sampai setiap manusia mengerti dan menyadari betapa pentingnya terang ini.

                Dan hari ini, kalau anda membaca tulisan ini, penawaran yang sama diberikan Dia kepadamu. Apakah anda merasa tinggal dalam kegelapan selama ini? Apakah anda merasa hidup tanpa harapan? Ayo, datanglah pada terang ini dan terimalah terang itu sebagai bagian dari hidupmu. Terang itu akan menyinari engkau. Terang ini tidak menyakitkan. Terang ini tidak akan pernah menjadi redup, karena terang itu berasal dari pantulan kemuliaan Bapa di surga. Terang ini juga tidak akan membuat engkau takut lagi dalam menjalani kehidupanmu. Sebaliknya, terang ini akan membuat engkau bisa berjalan dengan kekuatan yang tidak bisa engkau bayangkan.

                Terimalah Terang ini selagi engkau masih bernafas, karena ketika tiba waktunya engkau tidak akan pernah lagi menghirup udara dunia ini, maka itulah pertanda bahwa tidak akan pernah ada kesempatan lagi untuk itu. Selagi belum terlambat, undanglah Yesus ke dalam hatimu dan hidupmu. Dialah Terang itu. Di dalam Dia, hidupmu takkan sama lagi. Percayalah padaNya dan hiduplah bersamaNya mulai hari ini juga. Doa saya menyertaimu. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

 
Designed by vonfio.de