| THIS IS MY CHURCH – MY HOME |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Friday, 24 June 2011 00:02 |
|
Filipi 2 : 1-3 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sejak aku menjadi seorang fulltimer di gereja ini, aku hampir tidak mengenal yang namanya ‘working hour’. Walau banyak orang bilang itu artinya sekarang aku punya ‘flexible time’, tapi kenyataannya sama sekali tidak begitu. Dan lucunya lagi, meskipun kantorku berada dilantai 5 sebuah mall yang cukup besar di Bandung, bukan artinya aku sering berjalan-jalan untuk shopping dan juga tidak walau hanya sekedar browsing dan melihat-lihat. All my time in my office. It takes all my being and my time. Benar-benar fulltime. Aku dan rekan-rekan fulltime ku setiap hari masuk kerja jam 9 pagi, dan kami akan pulang sekitar jam 7 – 8 malam. Dan itu kami lakukan dari Selasa sampai hari Sabtu. Khusus Minggu, karena hari itu banyak kebaktian yang dilakukan, walau ada sedikit toleransi, tapi kami jarang hanya bisa mengikuti satu kali saja. Minimal kami akan hadir di dua kebaktian, baru sesudahnya kami sedikit bebas. Dan hari Senin, walau itu merupakan hari libur yang aneh sebenarnya, itupun seringkali terisi dengan banyak kegiatan. Alhasil, kalau dihitung-hitung, maka jam kerja kami sudah melebihi waktu normal orang-orang. Tapi aku menceritakan ini bukan karena keberatan dengan semua itu. Sungguh, kami semua menikmatinya. Itu yang membuat aku juga heran. Walaupun begitu banyak kerjaan yang tidak ada hentinya, tapi kami benar-benar menikmatinya. Bahkan ada beberapa anak yang justru lebih memilih untuk berada di kantor ini daripada keliaran tak karuan di luaran. Semuanya bekerja saling bahu membahu dan tidak ada yang merasa keberatan untuk saling mengisi dan menguatkan satu sama lain. Kami benar-benar bisa saling membantu dan mendukung untuk banyak kerjaan yang memang lumayan padat dari waktu ke waktu. Kegiatan dan event di gereja kami mengalir tidak ada hentinya, dan bahkan begitu bertubi-tubi membuat kami sendiri bingung bagaimana kami bisa melewati semua itu dengan kemampuan kami yang tidak seberapa. Kalau bukan karena Roh Allah sendiri yang bekerja bersama-sama dengan kami, aku yakin itu sama sekali tidak mungkin. Dan buat aku sendiri, di sepanjang sejarah aku bekerja, belum pernah aku mengalami yang seperti ini. Sukacita itu mengalir luar biasa dan semangat untuk membangun gereja ini seperti tidak ada matinya. Bahkan di tengah-tengah begitu banyak tekanan, kritikan dan ancaman, toh aku tidak mundur dan memilih untuk terus maju membuktikan keseriusan dan kecintaanku pada Tuhan. Bisa dibilang, aku benar-benar addicted pada Tuhan. Justru aku merasa heran kalau ada orang yang tidak begini. Karena rasanya, setiap orang yang sudah mengalami Tuhan, tentunya akan merasa ingin lagi dan ingin lagi. Tidak habis-habis anggur yang Tuhan alirkan di dalam hidup ini, selalu baru setiap hari. Walau kadang lelah juga, dan ada kalanya berseru butuh istirahat, tapi bukan membuatku ingin berhenti. Kalau anda mengikuti semua kegiatan kami dan melihatnya sendiri, rasanya anda juga pasti akan menggeleng-gelengkan kepala merasa bingung dengan apa yang kami lakukan di dalam kotak kantor kami itu. Setiap hari selalu banyak pekerjaan, sangat sibuk, tapi juga penuh dengan canda tawa saling menghibur baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti dalam tanda kutip. Tapi kekompakan kami benar-benar luar biasa dalam mengerjakan semua pekerjaan di sini. Dan aku, yang memang in charge sebagai kepala dari mereka semua itu benar-benar membutuhkan hikmat Tuhan untuk bisa mengatur dan mengendalikan semuanya supaya semuanya berjalan dengan baik. Tentunya juga, dengan situasi yang begitu padat, dibutuhkan karakter seperti es, yang selalu siap mendinginkan suasana. Banyak orang yang memperhatikan kami akan selalu bertanya, sebenarnya kalian ini sibuk apa sampai-sampai bekerja tiada henti? Pertanyaan itu sering membuat kami bingung sekaligus ingin tertawa, karena kami juga tidak mengerti. Tapi setiap hari selalu ada banyak hal yang bisa dan harus kami lakukan. Tentunya berbeda dengan pekerjaan sekuler, ketika kami tidak ada pekerjaan formal, maka ada banyak pekerjaan informal yang perlu kami pikirkan juga. Misalnya bagaimana caranya membangun gerakan anak muda supaya mereka lebih bersemangat dalam melayani, dan bagaimana menjangkau mereka semua, dan bagaimana mengajak mereka semua bisa terlibat di dalamnya. Juga bagaimana memperhatikan orang-orang yang sudah lama tidak ke gereja, dan bagaimana supaya mereka bisa mau tetap setia dan bahkan ikut melayani. Belum lagi jika ada jemaat yang ulang tahun, sakit, hendak menikah, tertimpa kesusahan, atau bahkan ketika ada yang kedukaan, semua itu akan menjadi urusan kami juga. Juga masalah bagaimana memberi dan menyalurkan pemberian orang kepada mereka yang sangat membutuhkan, itu semua dibutuhkan hikmat dan kebijaksanaan, karena kami benar-benar harus bisa menseleksi dan melakukannya dengan ketegasan tapi kasih. Tugas yang berat. Jadi, benar-benar banyak hal yang harus kami lakukan. Dan semuanya itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kalau kami berhitung dengan waktu, maka aku yakin, tidak akan pernah bisa menjadi efektif dalam melakukannya. Addicted dengan Tuhan. Ya, memang kata addicted kedengarannya kurang baik. Tapi kita belajar dari kata yang berkonotasi negatif ini. Bagaimana seorang yang addicted/kecanduan obat dan minuman keras itu bisa begitu rupa bertingkah laku yang aneh ketika mereka tidak menemukan obat dan minuman keras yang mereka butuhkan itu. Mereka bisa berteriak-teriak dan memaki-maki hanya untuk menemukan apa yang mereka inginkan. Begitu terikatnya sehingga sepertinya mereka tidak bisa hidup tanpa itu. Aku mengutip dari sebuah buku ‘Crossing Over’ yang ditulis oleh Paul Scanlon, tentang bagaimana seorang pendeta yang banting setir dari pekerjaan pelayanannya di gereja, dan sekarang dia bekerja menjadi seorang bartender. Tragis sekali terdengarnya. Tapi itulah kenyataannya. Alasannya mengapa dia bisa begitu adalah karena dia merasa frustrasi dengan kenyataan betapa sulitnya bagi dia untuk memobilisasi jemaatnya dan mau turut serta dalam melaksanakan apa yang menjadi visinya. Lebih dari 20 tahun dia mencoba, tapi hasilnya tidak ada. Akhirnya dia menjadi lelah dan tidak mau lebih lama lagi untuk melakukannya. Alhasil, kini dia memilih untuk menjadi bartender saja. Apakah kini dia happy dengan pekerjaannya? Ya, katanya. Karena ternyata lebih sulit untuk membuat jemaat bisa ‘addicted’ dengan Tuhan, dibandingkan pelanggan bar ini ‘addicted’ dengan minuman di bar itu. Di bar ini, ia tidak perlu memaksa mereka untuk hadir. Para pelanggan itu akan setia kepada diri mereka sendiri, tidak perlu dipaksa, mereka akan datang dan membeli minuman. Mereka juga tidak perlu dipaksa untuk mengeluarkan uangnya untuk membeli lebih banyak lagi. Dan mereka juga tidak perlu dibujuk untuk bisa datang lagi di kemudian hari. Mereka akan dengan sukarela datang lebih awal dan pulang larut malam. Semua hal yang tidak bisa dilakukan oleh ‘penduduk’ di gereja, justru bisa dilakukan oleh mereka disini. Bahkan kalau bisa, mereka juga rela untuk saling ‘melayani’ demi minuman lebih cepat disajikan. Kedengarannya memang sangat tragis, tapi kita bisa belajar banyak dari pengalaman itu. Kalau anda ada di ladang pelayanan, tentu anda mengerti apa yang pria ini jabarkan barusan. Memang kenyataannya kita sering bertemu dengan situasi seperti itu. Aku juga demikian. Tapi justru ini menantangku untuk mengubah situasi itu. Aku pribadi sama sekali tidak suka dengan kondisi gereja yang ‘dingin’ dan tidak ada gairah. Aku suka dengan situasi yang ramai dan bersemangat. Dinamis dan bisa membuat setiap orang ikut dalam setiap movement yang ada. Namun persis seperti yang dialami bartender itu, kadang kita akan menemui orang-orang yang berpikiran berbeda dengan kita. Entah karena kesibukan mereka, entah karena memang mereka hanya menganggap gereja dan kegiatannya hanya buang waktu saja. Tapi aku berketetapan menjawab tantangan ini. Bagaimana caranya mengubah gereja menjadi satu tempat yang menyenangkan, menantang dan bisa menarik banyak orang untuk berkumpul bersama dan melakukan banyak hal yang bisa mengubahkan kehidupan orang-orang. Dan dengan passion itu jugalah kenapa aku menyediakan banyak waktu di gereja dan di kantor. Aku rindu membangun atmosfir yang bisa membuat orang-orang betah di rumah Tuhan. Tempat dimana kita bisa setia kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Tempat yang benar-benar bisa menjadi pelabuhan kita yang membutuhkan kehangatan dan campur tangan Tuhan. Sayangnya, perkembangan gereja di jaman ini memang berbeda dengan gereja mula-mula di jaman para rasul. Kalau kita perhatikan, bangku-bangku gereja hanya terasa panas ketika hari Minggu saja, sementara di hari-hari lain, bangku-bangku itu akan terasa dingin. Mengapa bisa begitu? Karena mereka hanya hadir di hari Minggu saja, sementara di hari-hari lain akan cukup sulit untuk mengumpulkan ‘keluarga’ Tuhan ini. Ya, apalagi dengan satu trend pemakaian gedung gereja yang sudah sangat berbeda pula. Dulu, semua gereja memiliki gedung sendiri yang bisa diatur dan dikelola sendiri, sehingga kapanpun mereka bisa melakukan kegiatan di dalamnya. Tapi coba perhatikan sekarang, karena peraturan yang memang cukup ketat dalam membangun tempat ibadah, kini banyak gereja hanya meminjam gedung dan tempat-tempat pertemuan untuk beberapa jam saja. Itulah kenyataannya. Memang betul, gereja bukan tergantung dari tempatnya, tapi dari jiwa-jiwa yang terkumpul di dalamnya. Nah, masalahnya sekarang, semakin sulitnya gedung yang bisa kita gunakan itu, membuat semakin sulit juga bagi kita untuk saling memberi diri terikat satu sama lain menjadi tubuh Kristus. Keadaan gereja yang seperti jaman ini malah memperkuat alasan banyak orang untuk tidak terlalu sering berada di ‘gereja’, karena mereka melihat tidak ada tempat yang layak untuk berkumpul. Padahal, kalau saja mereka mengerti, bahwa yang membuat ‘gereja’ itu menjadi gereja yang sesungguhnya, sama sekali bukan gedung itu, tapi keberadaan mereka itu sebagai bagian dari tubuh Tuhan. Dalam pengalamanku melayani Tuhan, aku menemukan bahwa sepertinya keberadaan gereja di dalam sebuah tempat yang jauh akan bisa lebih terasa dibandingkan dengan di kota tempat kelahiran kita. Mengapa bisa demikian? Ya, ketika beberapa tahun yang lalu aku sempat pergi ke Auckland – New Zealand, di mana aku melayani sekelompok orang Indonesia yang memang sudah lama tinggal dan memilih untuk menetap di sana, aku menemukan gairah mereka yang berbeda dalam bergereja. Dan aku menemukan, kemungkinan karena kondisi mereka yang jauh dari keluarga dan kerabat, itulah yang membuat mereka merasa membutuhkan siapapun yang bisa menerima dan memperhatikan keberadaan mereka. Dan di sinilah fungsi dari gereja itu berlaku. Sesama anggota gereja, sesama tubuh Tuhan yang ada di dalam gereja mereka itulah yang menggantikan keluarga mereka yang sesungguhnya. Dan persis seperti gereja yang mula-mula berdiri, begitu jugalah yang terjadi di antara mereka. Setiap pertemuan gereja adalah peristiwa yang mereka nanti-nantikan. Dengan semangat dan gairah yang meluap mereka semua akan hadir, karena di situlah mereka akan merasa saling memiliki yang lebih kuat. Tapi berbeda dengan kondisi di kota kelahiran kita, apalagi di kota besar yang sibuk. Sebagai contoh, karena saya orang Bandung, maka jelas sekali perbedaannya. Ketika kita merasa bahwa semua keluarga kita ada di kota yang sama, maka kita tidak merasa ada urgency untuk selalu berada di gereja. Malah banyak di antara kita bisa mangkir dari kegiatan gereja hanya dengan alasan ada ‘acara keluarga’. Kekentalan dalam hubungan gereja sama sekali berbeda. Dan tidak ada satupun yang bisa menyalahkan ‘absensi’ anda. Tapi apakah kita hanya menganggap gereja sebagai sebuah lembaga yang sepertinya terpisah dari kehidupan kita? Atau sebaliknya justru kita akan merasa bahwa gereja inilah yang bisa memperbaiki semua kondisi lembaga yang lain? Bukankah ini yang seharusnya terjadi? Lembaga pernikahan, lembaga keluarga, lembaga sosial, lembaga pemerintahan tidak akan pernah menjadi kokoh jika tidak memiliki dasar yang kuat. Dan dasar yang kuat itu adalah firman Tuhan sendiri. Di atas batu karang itulah ketika kita mendirikan dan membangun, segalanya akan menjadi lebih kuat. Bukankah banyak orang mengakui betapa rapuhnya pernikahan itu jika hanya didirikan atas nama ‘cinta’? Ya, tapi herannya tetap saja banyak orang melakukannya. Jadi rasanya begitu penting bagi kita untuk senantiasa memotivasi diri kita untuk selalu berada di atas lembaga yang kokoh itu, yaitu gereja yang sesungguhnya. Sebagai bagian dari gereja kita akan menemukan banyak hal positif di dalamnya. Fil 2 : 1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.... Anda lihat? Itulah hal-hal yang kita perlukan, dan semuanya itu ada di dalam Kristus dan gerejaNya. Jadi, mengapa kita harus ragu-ragu untuk lebih terlibat lagi di dalam gerejaNya. Lakukanlah dan lakukan itu segera. Anda akan benar-benar menikmati satu persekutuan yang nyata. Bukan artinya setelah kita berada di sana maka kita akan menemukan kesempurnaan yang tak bercacat cela, dan tidak akan ada proses yang menyakitkan. Itu pasti akan anda temukan. Tapi, ketika kita memilih untuk tetap berada di sana dan melalui semua prosesnya, anda akan melihat dan merasakan hasil yang baik dalam kesudahannya. Aku sendiri benar-benar rindu dan tertantang untuk benar-benar memberikan satu cita rasa yang baru di gereja tempat aku berada saat ini, dan di semua gereja pada umumnya. Melalui tulisan ini, aku juga menantang anda semua untuk bersama-sama melakukannya dan membuat perubahan yang bisa dilihat banyak orang. Jadikan gereja menjadi ‘rumah’ bagi siapapun yang datang, dan menjadikan semua orang merasa ‘at home’ di dalamnya, sehingga mereka suka untuk datang, berada di dalamnya, dan menjadi bagian di dalamnya. Bagaimana dengan anda? Alangkah menyenangkannya jika setiap orang yang datang ke gereja bisa mengatakan ‘this is my home’ dan menganggap setiap orang yang tergabung di dalamnya sebagai ‘family’. Jika bisa begitu, aku yakin bahwa setiap orang akan lebih nyaman berada di dalam gereja, dan masing-masing mau terlibat sebagaimana layaknya sebuah keluarga besar di seluruh dunia ini lakukan ketika mereka ada di dalam rumah mereka sendiri. Apakah anda setuju dengan hal ini? Mari kita sama-sama ciptakan hal ini di dalam setiap gereja di mana anda berada. Amin. By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung
|




