| TITIK AMAN BERIKUTNYA |
|
|
|
| Written by sariwati |
| Monday, 21 December 2009 10:19 |
|
1 Tawarikh 4:40 Mereka menemui padang rumput yang gemuk dan baik; negeri itu luas, aman dan sentosa.... Dalam segala hal aku mengucap syukur kepada Tuhan, dan kuangkat tanganku memuji dan menyembah Dia. Apapun yang harus kualami, semua proses dan pembentukan rohaniku, kulewati dengan penuh sukacita. Aku tahu tangan Bapaku selalu menggenggamku, sekalipun ketika aku melalui jalan berliku dan lembah yang curam, aku tahu ada kekuatan yang memegangku dan memberikan kekuatan dan penghiburan bagiku. Aku dapat mendengar suaranya yang lembut tak ada hentinya berbicara kepadaku,”Ayo, nak...jangan berhenti..jangan menyerah...jalan terus...ini takkan lama..sebentar lagi kau akan sampai pada titik aman berikutnya.” Ya, kata-kata itu sangat menguatkan aku. Titik aman berikutnya. Itu yang aku tuju sekarang bersama dengan Tuhan. Aku tahu aku tidak pernah sendirian. Bapa berjanji bahwa Dia akan menemaniku berjalan. Dan Dia menepati janjiNya. Aku dapat merasakan genggamanNya. Erat memegang aku. Hangat dan memberikan rasa aman. Apa yang kulakukan saat ini sepertinya tidak kelihatan hasilnya, karena yang kulakukan hanyalah berjalan dan berjalan. Melewati jalan berliku, kadang berbatu-batu sehingga mau tidak mau aku sedikit tertatih-tatih dan hampir terjatuh. Tapi terkadang jalan itu sangat lurus hampir tidak berujung dan sedikit membuat frustrasi. Adakalanya melewati pemandangan yang indah dengan suasana yang sangat menyenangkan, udara yang sejuk dan angin yang sepoi-sepoi sedikit membuatku mengantuk dan hampir tertidur. Untung Tuhan selalu mengingatkan dan membangunkanku lagi. Dan yang kulakukan hanyalah berjalan dan berjalan dengan memegang erat genggamanNya. Apapun boleh terjadi asalkan genggaman ini tidak kulepaskan, aku akan tetap merasa aman. Tidak terasa, perjalanan yang kulakukan bersama dengan Tuhan sudah lebih dari 20 tahun sekarang. Namun itu belum selesai. Ketika baru saja aku berpikir bahwa aku sudah sampai di satu tujuan, dan baru saja aku berpikir bahwa aku akan mengembangkan kemahku ke kanan dan ke kiri dan berdiam di situ, ternyata Tuhan sudah berkata bahwa ini saatnya untuk berjalan lagi, perjalanan ini belum selesai. Dan aku hanya bisa taat sambil memberikan diriku untuk kembali dalam genggamanNya dan berjalan lagi. Begitulah yang kualami di sepanjang perjalananku. Memang kelihatannya seperti tidak bertujuan, tapi tidak begitu kenyataannya. Dan yang aku heran, walaupun terkadang sepertinya kami hanya berjalan di jalanan yang datar, tapi sekali lagi, tidak begitu kenyataannya. Karena ketika sesekali aku menengok ke belakang, aku menyadari bahwa perjalananku ternyata bukan berada di bidang datar, tapi sebenarnya sedang berjalan di satu gunung yang tinggi. Sedari awal kami berjalan mengitari gunung itu terus mendaki dan bukan menurun. Kami sedang terus mendaki menuju ke puncak gunung itu. Dan titik awal kami berjalan tadi kini hanya terlihat seperti titik kecil jauh di bawah kaki gunung. Ada waktunya Ia mengijinkanku berhenti di satu tempat, membiarkanku bernostalgia dan melihat apa yang sudah kuraih selama ini. Ia bahkan ikut merayakan kemenangan yang kuperoleh bersamaNya. Kami sama-sama senang menghadapinya. Ada waktunya juga Ia membiarkanku menangis dan mengeluarkan isi hatiku ketika kuingat perjalanan yang sulit melewati batu yang terjal dan kerikil yang tajam, yang seringkali membuatku ingin menyerah dan berhenti. Ah, Dia memang Bapa yang baik. Betapa sayangnya aku kepadaNya. Dia tidak pernah membiarkanku sendirian. Di saat seperti itu, aku dapat merasakan Ia merengkuh aku dan menghiburku. Itu sebabnya aku selalu bilang kalau Dia Bapa yang baik. Sangat baik. Di saat banyak orang mengecewakanmu, Ia takkan pernah meninggalkanmu. Ia mengasihimu dan menghargaimu lebih dari apapun di dunia ini. Ya, aku tahu betapa aku berharga di mataNya. Di saat engkau diperlakukan tidak adil, Dialah pembelamu. Dia takkan tinggal diam. Engkau anak kesayanganNya, takkan dibiarkanNya beruang dan serigala menyerangmu. Tongkat dan gadaNya akan selalu menjagamu. Jangan menaruh harapanmu pada manusia, karena mereka akan selalu mengecewakanmu. Tapi taruhlah segala pengharapanmu pada Tuhan, karena Dia takkan membiarkanmu. Ya...Bapaku yang manis. Kembali kuberikan tanganku kepadaNya dan kubiarkan Dia menuntunku lagi, berjalan bersamaNya melanjutkan perjalananku yang masih sangat panjang. Yang aku heran, aku tidak pernah merasa lelah bersamaNya. Selalu menyenangkan bersama Dia. Selamanya menyenangkan.Itu sebabnya aku tahu aku tidak perlu merasa takut melewati setiap fase kehidupanku, karena selalu ada Dia yang memberiku kekuatan untuk terus berjalan sampai ke titik aman berikutnya. Di titii aman itu kita bisa beristirahat sejenak, meluangkan waktu untuk berdua menikmati yang sudah diraih. Mengumpulkan kekuatan untuk berjalan lagi selama waktu itu masih ada, terus bersamaNya dalam genggamanNya. Sangat menyenangkan dan aman bersamaNya. Terimakasih Tuhan..I love you sooo much. By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung |




