|
Written by sariwati
|
|
Thursday, 12 January 2012 09:26 |
|

Yeremia 31 : 3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.
Pernah jatuh cinta? Pernah mencintai seseorang dengan perasaan yang teramat dalam? Pernah mencoba membangun hubungan dengan seseorang? Bagaimana rasanya? Sangat indah dan menyenangkan. Betul begitu?
Yaaa, di saat kita jatuh cinta dan dalam proses mencintai seseorang, segala situasi menjadi menyenangkan. Perasaan cinta itu mengalahkan segalanya. Sekalipun orang tersebut melakukan hal yang menggelikan, kita akan dengan mudah bisa menerimanya. Kita bahkan tidak akan keberatan dengan semua permintaan yang dia lakukan. Dengan senang hati kita akan melakukannya asal bisa menyenangkan hatinya.
Hampir setiap waktu di setiap hari yang kita lewati, yang kita pikirkan hanya tentang orang tersebut, dan bagaimana bisa memenuhi harapannya.
Kita akan mencatat baik-baik semua kesukaannya dan apa yang menjadi cita-citanya. Makanan favoritnya, bahkan kita akan menyimpan dalam memori kita bagaimana caranya bicara, tertawa, dan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu yang khusus ia tujukan kepada kita.
Cinta oh cinta, alangkah indah dan menyenangkannya. Dan sangat menyenangkan khususnya ketika semuanya berjalan mulus seperti yang kita inginkan, kondisinya baik-baik saja, komunikasi lancar, dan tidak ada pertengkaran dan konflik di dalam hubungan tersebut.
Tapi apa yang akan terjadi ketika situasinya berubah? Ia tidak lagi bisa diharapkan. Ia juga tidak selucu dan se-menyenangkan sebelumnya. Kata-katanya tidak lagi manis, dan malah kebalikannya : tajam, judes, keras dan penuh penghinaan. Wajahnya sudah tidak mempunyai senyuman. Matanya tidak lagi memancarkan cinta. Semua yang indah itu sudah berlalu. Yang tersisa hanyalah rasa sakit, kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja, hanya dalam waktu yang singkat, semua peristiwa menyakitkan yang dulu tidak menjadi masalah, kini muncul dan tidak bisa diampuni. Semua keindahan itu sirna sudah. Apa yang dulu bisa ditoleransi, kini tidak lagi. Bahkan kata-kata yang salah sedikit saja, bisa menyebabkan pertengkaran yang besar.
|
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Friday, 06 January 2012 14:59 |
|

Yohanes 14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.
Apa yang dilakukannya hanyalah mengajarkan tentang musik kepada murid-muridnya. Ia melakukannya setiap hari dengan sungguh-sungguh, dan mencoba menanamkan rasa cinta akan musik dengan satu cara pandang yang berbeda. Ia menularkan ‘passion’nya akan dunia musik dengan satu tindakan dan gaya hidup. Dan itu sangat tampak dari caranya memberikan pelajaran di kelasnya. Ketika ia menceritakan siapa itu Sebastian Bach, dan bagaimana ia memainkan setiap nada melalui dentingan pianonya, dan bagaimana matanya melukiskan semua kecintaannya kepada musik, dan usahanya mendorong serta memotivasi setiap murid-muridnya untuk terus berusaha dan tidak putus asa dalam belajar menyanyi atau memainkan alat musik, semuanya menggambarkan bagaimana ketekunannya dalam menularkan kecintaannya tersebut.
Musik adalah dunianya. Ia bisa membenamkan dirinya dalam kumpulan nada dan dentingan pianonya selama berjam-jam sepanjang hari tanpa henti demi menelurkan aransemen yang bagus. Ia juga menunjukkan kepiawaiannya dalam menjadi conductor sebuah orkestra.
Dan begitulah yang ia lakukan dari hari ke hari secara alamiah, dari tahun ke tahun, dari angkatan ke angkatan berikutnya, yang ia lakukan hanyalah mengajar dan mengajar dan menularkan kecintaannya tersebut kepada tiap orang yang dia ajar.
Kelihatannya sederhana, dan dari semua sudut pandang guru-guru yang lain, apa yang dilakukannya tidaklah seberapa. Secara kurikulum, pelajaran musik hanya mendapatkan kredit yang sangat kecil karena dianggap hanya penunjang dan bukan hal yang mayor. Bahkan sewaktu-waktu bisa saja pelajaran ini ditiadakan karena dianggap kurang berguna sehingga tidak ada anggaran lebih untuk bisa menunjukkan kemampuannya. Namun ia tidak menyerah. Ia mengerjakan hal tersebut bukan sekedar untuk uang, tapi lebih karena kecintaannya akan musik. Ia merasa terpuaskan ketika ia bisa melihat bagaimana murid-muridnya bisa menemukan bakat mereka dalam hal musik dan menemukan passion yang sama dengan yang ia miliki.
Kisah ini aku saksikan dalam filem Mr Holland’s Opus. Sebuah filem yang sangat menarik untuk disaksikan, dan sarat dengan pendidikan. Lebih menarik lagi karena kita bisa belajar tentang apa itu passion, dan bagaimana seseorang bisa memberikan pengaruhnya kepada orang lain tanpa ia sadari.
Banyak orang ingin memiliki pengaruh, tapi akhirnya melakukannya dengan cara yang salah. Ada yang dengan memaksakannya, ada yang mencoba membelinya. Tapi filem ini menunjukkan satu cara yang sangat alamiah bagaimana menanamkan pengaruh kepada banyak orang. Tokoh ini tidak pernah berusaha memaksakan pengaruhnya, tapi ia mengimpartasikannya dengan cara hidup dan kecintaannya. Ia menanamkan hal tersebut dengan membangun relasi yang kuat dengan setiap orang yang ia ajar, sehingga hampir semua muridnya mempunyai rasa hormat yang tinggi akan dia, dan benar-benar mencintainya dan apa yang ia ajarkan.
Ia menjadi guru favorit bukan karena pelajaran yang top. Ia menjadi favorit, dan musik menjadi menyenangkan karena cara ia mengajar memang menyenangkan dan membuat setiap orang bisa terhanyut di dalamnya tanpa paksaan. Ia mengajak setiap orang untuk mempunyai wawasan yang baru tentang musik, dan menunjukkan caranya bagaimana bisa mencintai musik untuk tiap orang, bahkan yang paling tidak berbakat sekalipun.
Dan kisah ini ditutup dengan sebuah kisah yang manis, bagaimana akhirnya ia harus mengakhiri jabatannya sebagai guru musik di usianya yang ke 60, dan murid-murid yang pernah ia ajar berkumpul untuk membuat pesta perpisahan dengannya, memberikan sebuah kejutan kepadanya dengan mengumpulkan semua anak dari setiap angkatan ke dalam sebuah orkestra yang kemudian meminta sang maestro ini untuk menjadi conductor nya.
Sang guru ini begitu terharu sekaligus tidak menyangka bahwa semua muridnya menghargainya sedemikian rupa. Apalagi ketika ia mendengar pidato pembukaan dari salah seorang murid yang dulu begitu sulit dalam belajar memainkan flute, tapi sekarang ia sudah ahli memainkannya berkat dorongannya, sekaligus anak tersebut sudah menjadi seorang gubernur di salah satu daerah di Amerika, anak ini mengatakan bahwa salah satu orang yang membuatnya berhasil adalah karena dorongan dan pengaruh yang diberikan oleh guru musik ini. Caranya dalam membuat ia berhasil memainkan flute dan mencintai musik membuat ia berani melangkah ke dalam banyak hal yang lain. Sungguh tidak terduga sekaligus membanggakan.
Kisah ini mengingatkan saya tentang bagaimana kita menjadi pengaruh kepada orang lain.
|
|
Last Updated on Friday, 06 January 2012 15:11 |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Thursday, 29 December 2011 09:05 |
|

Yakobus 4 : 3 ‘Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.’
Apa jadinya ya kira-kira kalau Tuhan selalu menjawab ‘YA’ untuk semua permintaan kita? Apakah semua itu pasti menyenangkan dan baik?
Saya mengajak anda untuk merenungkannya sejenak hari ini, karena banyak dari kita berharap bahwa Dia akan selalu mengabulkan semua yang kita harapkan dan kita minta, padahal belum tentu kita mengerti apa yang kita minta itu.
Bisa jadi saat anda membaca tulisan ini, di dalam hati anda sedang bergumul dengan Tuhan akan suatu permohonan yang sudah lama anda doakan namun belum juga anda dapatkan. Dan selama itu pula anda bertanya-tanya ‘mengapa Tuhan?’.
Tapi pernahkah anda mencoba untuk merenungkan semuanya dengan lebih jernih, sehingga anda sendiri akan mengerti sebuah jawaban yang lebih jelas akan apa yang sedang anda doakan tersebut? Karena jangan-jangan, persoalannya bukan terletak pada Tuhan, tapi justru karena apa yang anda doakan tersebut memang tidak berkenan dengan kehendak Tuhan.
‘Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.’ (Yakobus 4 : 3)
Nah, bisa jadi selama ini kita salah berdoa. Hmmm...apanya yang salah? Apakah cara bicaranya? Atau salah menggunakan password-nya? ...ternyata bukan itu.
Yang menjadi kesalahan adalah : Karena kita seringkali tidak mengerti apa yang kita minta.
Apa yang kita inginkan ternyata belum tentu semuanya baik bagi kita. Salah-salah malah menjadi jerat dalam hidup kita. Dan siapa yang sebenarnya paling tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang? Kitakah? Atau Tuhan sang pencipta? Tentu saja Dia, Tuhan sang pencipta itu.
Dan karena Dia juga yang memegang hari-hari kita, maka Dia akan selalu berusah meng-intervensi kehidupan kita. Tentu saja hal itu akan termasuk di dalam menjawab doa-doa kita.
Hmm...kalau demikian, maka pertanyaan yang seringkali muncul adalah, bagaimana caranya kita bisa tahu apakah permintaan kita itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Dan apakah salah kalau kita terus menerus meminta dan mendoakan sesuatu untuk waktu yang lama, sekalipun kita melihat bagaimana Tuhan sepertinya tidak memberikan jawaban untuk permintaan itu?
Saudaraku, di dalam penantian kita akan sebuah jawaban doa, disitulah terletak proses pengujian itu. Ketika Tuhan belum menjawab doa-doa kita, maka kita akan berada di sebuah masa, dimana justru kita akan mengalami transformasi bersama Dia.
Kalau kita ingin mengetahui, apakah doa kita ini sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak, maka sebetulnya kita bisa menemukannya di dalam hati kita sendiri. Dalam waktu penantian itu, jika kita merasakan bahwa ‘beban’ itu semakin terasa, dan membuat kita ingin terus mendoakannya sekalipun kelihatannya mustahil, maka bisa jadi memang permintaan itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika hal ini yang terjadi, maka jangan berhenti untuk mendoakannya. Dan ketika kita terus berdoa, kita bisa melihat bahwa kebutuhan untuk jawaban doa itu semakin kuat terasa, itulah saatnya untuk makin bersungguh-sungguh berharap kepada Tuhan.
Tapi sebaliknya, jika apa yang kita doakan hari ini, yang kelihatannya begitu berat menekan pada hari ini, tapi sejalan dengan waktu, ternyata beban itu sepertinya menguap begitu saja sehingga pada akhirnya kita tidak lagi merasakan perlunya bagi kita untuk mendoakan hal itu, maka bisa jadi bahwa kebutuhan itu hanya keinginan kita saja. Karena ketika diuji dengan waktu, beban itu menguap begitu saja dan tidak ada lagi urgensi nya bagi kita.
Sebaliknya, jika ada permintaan dalam hati kita yang menekan demikian kuat, namun ketika didoakan ternyata jawaban Tuhan tidak kunjung datang, dan pada akhirnya malah membuat kita marah dan frustrasi, dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil atau bahkan dengan teganya menyimpulkan bahwa Tuhan itu mati dan tidak pernah ada, maka itu waktunya untuk kita mulai menguji diri kita, jangan-jangan...permintaan itu bukan sesuatu yang baik dan sesuai dengan kehendakNya, malah akan membuat hidup kita menjadi buruk dan menjerat kita untuk melakukan dosa pada akhirnya.
Jadi, bagaimana sebetulnya cara berdoa dan menantikan jawaban Tuhan itu?
|
|
Last Updated on Thursday, 29 December 2011 09:24 |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Saturday, 24 December 2011 08:00 |
|
Lukas 1 : 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
“Oeeeeeekkkk.....oeeekkk...”begitulah biasanya tangisan bayi yang pertama kali menghirup udara dunia ini. Setelah sembilan bulan terkurung dalam ‘rumah’ pribadinya, tidak ada yang mengganggu, tidak ada aktivitas lain selain berputar-putar dalam ‘kurungan’ itu, sekarang tiba-tiba ia harus menatap sinar terang dan mendengar suara gaduh lain. Uuuuuhhh...!!!!
Dan bagi orang tuanya, teriakan bayi itu artinya sebuah tombol ON besar sudah menyala dan...tidak ada waktu untuk mengembalikannya. Karena di sebelah tombol itu tidak ada tombol OFF sama sekali. Artinya...terlambat untuk membatalkannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menerima kehadiran ‘buntelan’ kecil itu.
Buat aku dan suamiku, saat itu adalah saat yang sangat membahagiakan dan memang kami nanti-nantikan. Tapi buat yang lain, siapa yang tahu? Masing-masing tentunya punya problem sendiri tentang hal ini, dan kami tidak berhak menghakimi atau mengajari harus ini dan itu.
Ketika Jonathan kecil ada dipangkuanku, masih segar dalam ingatanku bagaimana kami, aku dan suamiku, begitu kagum akan penciptaan Allah yang begitu sempurna. Wajahnya yang begitu tampan, bibirnya yang kecil tersenyum manis dalam dekapanku. Matanya tertutup rapat menikmati kehangatannya, sambil ke dua tangannya mengepal, tampak jari-jarinya yang kecil dan lucu. Tubuhnya memancarkan keharuman khas bayi. Aku suka mencium bayi. Harum dan memberi sensasi tersendiri. Rasa sayang akan mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan.
Setiap kali perawat di rumah sakit itu mengantar bayiku ini ke kamarku, maka aku akan berlama-lama mendekapnya dan menciuminya. Dan seperti mengetahui rasa sayang kami, Jonathan kecil pun akan memberikan senyuman yang manis. Sangat menyenangkan rasanya. Dan aku benar-benar merasa tidak rela ketika perawat datang dan mengambilnya untuk dimasukkan kembali ke ruang bayi yang ada di rumah sakit tersebut. Ada perasaan kehilangan, walaupun sebenarnya aku tahu bayi itu akan dibawa ke tempat yang aman dan nyaman baginya.
Dan di saat Natal ini tiba, aku mencoba memahami hati dari seorang ibu yang mengandung bayi Natal itu. Maria.
|
|
Read more...
|
|
|