| Robert Morison - Perintis ke China |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Friday, 20 April 2007 22:02 |
|
1782 Lahir di Inggris 1806 Sidang Timbunan Jerami – awal pekerjaan misionaris Protestan ke China 1807 Morrison tiba di China 1813 Menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru bahasa Chinese 1814 Orang Chinese yang pertama bertobat dibaptiskan 1819 Menyelesaikan terjemahan Perjanjian Lama bahasa Chinese 1821 Ny. Morrison meninggal dunia 1834 Meninggal dunia di Kanton, China Pada suatu hari di tahun 1805, lima orang muda berkumpul bersama di suatu padang rumput terbuka di daerah Williams College di Williamstown, Massachusetts (Amerika Serikat). Saat itu, mereka telah bersidang selama beberapa waktu dua kali seminggu untuk berdoa. Namun, kali ini sesuatu yang unik terjadi. Sidang mereka dihentikan oleh topan badai yang memaksa mereka untuk berteduh di bawah timbunan jerami di dekat tempat itu. Saat mereka melanjutkan doa mereka di bawah naungan jerami, mereka dijamah oleh Tuhan mengenai kebutuhan yang mendesak bagi Sekristenan untuk menyebar ke Asia. Sidang doa itu, yang dikenal sebagai “Sidang Timbunan Jerami,” menjadi suatu peristiwa yang monumental di dalam sejarah Sekristenan. Ini adalah awal penyebaran Sekristenan ke tanah perawan China dan juga permulaan semua pekerjaan misionaris Protestan yang terarah ke daerah ini. China adalah suatu lahan perawan, yang memberi pergerakan yang baru bagi Allah di tempat yang jauh terpisah dari polusi agama Yahudi, filsafat Yunani, dan organisasi manusia yang telah menghambat pelaksanaan ekonomi-Nya sejak kedatangan Kristus kali pertama. Walaupun tidak ada seorang pun dari kelima orang yang berdoa di bawah timbunan jerami hari itu yang pernah berlayar ke China, namun Tuhan mendengar doa mereka dan memberi respons dengan memberi beban kepada seorang saudara yang rajin yang berusia 25 tahun di Inggris. Namanya adalah Robert Morrison, dan pada tahun berikutnya dia berlayar mengarungi samudera untuk pergi ke China. “Sidang Timbunan Jerami” menjadi pemicu pergerakan ke China yang berlangsung selama 100 tahun dan yang mencakup Robert Morrison sebagai perintisnya, diikuti oleh Dr. Gutsia, Hudson Taylor, the Cambridge Seven, dan banyak lainnya. Yang paling penting, hal ini menimbulkan bangkitnya bejana-bejana yang unik yang digunakan secara strategis oleh Tuhan di dalam pemulihan-Nya, termasuk Dora Yu, M.E. Barber, Watchman Nee, dan akhirnya Witness Lee. Dalam hikmat dan kedaulatan-Nya, Tuhan memilih Robert Morrison untuk mengawali pergerakan-Nya ke China. Bahkan sejak muda, Tuhan telah mempersiapkan Morrison. Mengenai masa mudanya, Morrison menulis, “Aku memutuskan hubungan dengan teman-temanku yang sembarangan dan memberikan diriku untuk membaca, bermeditasi, dan berdoa. Ini menyenangkan Allah sehingga Dia menampakkan Putra-Nya di dalam aku, dan pada saat itu aku banyak mengalami ‘kebaikan masa mudah dan kasih mesra’” (Marshall Broomhall, Robert Morrison – A Master Builder, p. 15)*. Saat berumur 25 tahun, dia memiliki satu sasaran – menyebarkan pekerjaan Tuhan ke China. Keputusannya untuk menginjili negeri yang keras dan tidak ramah ini sangat mutlak. Dia menulis, “Jika kita pergi, kita harus menghukum mati diri kita sendiri, tidak bersandar pada diri kita sendiri melainkan bersandar dalam Allah yang hidup” (Ibid., p. 31). Kemudian sebelum, berlayar ke China, seseorang mengejek dia dengan bertanya, “Jadi, Tuan Morrison, Anda benar-benar percaya bahwa Anda bisa mempengaruhi Kekaisaran China yang penuh dengan berhala?” Dengan penuh iman, Morrison menjawab, “Tidak Tuan, saya percaya bahwa Allah bisa” (Ibid., p. 39). Bagi seorang Barat untuk menembus China bukanlah suatu tantanga yang mudah. Pandangan ini tercermin di dalam undang-undang pengadilan kejahatan dari kekaisaran China “bagi orang-orang Eropa” yang “menyembah Allah”: Mulai saat ini, orang-orang Eropa yang secara pribadi mencetak buku-buku dan menghasilkan para pengkhotbah, untuk memalingkan orang banyak, serta orang-orang Tartar (Turki dan Mongol) dan orang-orang China, yang menjadi wakil orang-orang Eropa, yang mempropagandakan agama mereka, membuat orang mengganti nama, dan meresahkan orang banyak, harus membaca keputusan berikut ini: yang menjadi pemimpin atau ketua akan dihukum: siapa saja yang menyebarkan agama mereka, namu tidak menimbulkan ketidaknyamanan dan tidak menyebarkannya ke banyak orang, dan tanpa mengganti nama orang, akan dipenjarakan, sambil menantikan saat hukuman mati; dan mereka yang mengikuti agama yang demikian, tanpa berniat untuk mengubah diri, akan diasingkan ke Manchuria Utara (Ibid., p. 68). China adalah negara yang berbenteng dengan Kanto sebagai satu-satunya pintu masuk, namun pelabuhannya sangat ketat sehingga orang-orang Barat jangan berharap untuk bisa masuk. Namun dalam kedaulatan-Nya, Tuhan membuka pintu untuk masuk ke dalam negara yang tertutup rapat ini melalui perdagangan suatu perusahaan India Timur yang berasal dari kerajaan Inggris yang industrial. Namun karena tujuan kepergian Morison sangat potensial untuk menimbulkan keretakan dalam hubungan yang rapuh antara perusahaan India Timur itu dengan China, maka perusahaan itu menolak untuk membawa dia ke China. Satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah pergi ke Amerika dahulu, kemudian pergi ke China melalui kapal dagang Amerika. Sebelum tiba, Morrison harus terlebih dulu singgah di semenanjung Makao, suatu koloni yang berada di bawah kekuasaan Portugis dekat Hong Kong hari ini. Dari Makao dia bisa berlayar me1alui sungai ke Kanton dalam kurun waktu 4 bulan tiap tahunnya saat pelabuhan itu dibuka. Walaupun Morrison bisa tinggal di Makao, dia tidak disambut oleh pemerintah Portugis yang beragama Katolik Roma dan para pastor di kolor.i itu yang tidak menyukai pengabaran Injil. Morrison ditentang oleh tiga kubu: oleh para pedagang Inggris, oleh pemerintah China, dan oleh agama Katolik Portugis. Pada tahun 1807, setelah perjalanan yang mengerikan mengarungi laut selama 220 hari, akhirnya Morrison mencapai China. Tantangannya yang pertama adalah mempelajari bahasa Chinese untuk menerjemahkan Alkitab, karena dia mengenal bahwa Alkitab itu memiliki peranan yang sangat besar dalam penyebaran Injil. Kemudian Morrison menemukan bahwa setiap orang asing yang ketahuan mempelajari bahasa Chinese, dengan orang yang mengajarkan bahasa itu, dinyatakan bersalah karena tindakan kriminal. “Orang-orang yang licik dan diskriminasi ini sungguh menggelikan dan tidak masuk akal [catat Morrison] karena menganggap kriminal bila orang asing mengenal bahasa mereka atau memiliki buku mereka, dan lebih kriminal lagi bila orang China memiliki buku orang asing ... kejahatan saya adalah ingin mempelajari bahasa Chinese” (Ibid., p.56). Dari kegigihannya, Morrison berhasil mendapatkan beberapa buku berbahasa Chinese, bahkan harus mencurinya. Pada akhirnya, dia menyewa seorang guru; tetapi karena resikonya tinggi, dia harus membayar sangat tinggi untuk kursus itu. Sambil memberikan kursus, guru bahasa Chinese itu membawa sepasang sepatu wanita dan berakting seperti guru pembuat sepatu. Untuk berjaga-jaga, guru itu juga membawa racun untuk ditelannya bila dia tertangkap – lebih baik mati keracunan dibandingkan menderita rasa sakit di penjara orang Chinese. Setelah mempelajari bahasa itu. Morrison memulai pekerjaan penerjemahannya dan kemudian bekerja sebagai penerjemah di perusahaan India Timur itu untuk membiayai hidupnya. Walaupun istrinya pernah menemani dia sejangka waktu di Makao, kehidupannya sangat sepi dan melelahkan. Tidak lama kemudian dia menjadi orang yang menyendiri dan secara teratur bekerja 13 hingga 14 jam sehari. Pada usia 41 tahun, istri dan teman-teman terdekatnya dari telah meninggal dunia. Mengenai hal ini dia menulis, “Mereka yang paling kukasihi telah diambil. Para penyembah berhala yang ada di sekitarku, karena peraturan negara mereka. menjadi tidak ramah dan tidak memiliki rasa kasih terhadap orang asing. Aku tidak mengeluh—sama seperti kesendirianku, ini bukanlah kondisi yang aku dambakan. Namun, aku sungguh harus bersyukur! Allah menyelamatkan aku dari kehilangan ucapan syukur kepada Dia” (Ibid., p. 134). Perlu waktu tujuh tahun bagi dia untuk menyelesaikan terjemahan Perjanjian Barunya yang dilengkapi dengan kamus. Setelah itu, dia harus mengadakan persiapan untuk mencetaknya, yaitu dengan memahat balok-balok kayu satu demi satu dengan sabar. Balok-balok kayu itu mudah dimakan oleh serangga dan mudah rusak oleh cuaca. Ketika pekerjaannya hampir selesai, suatu kebakaran menghabisi semua hasil usahanya itu, memaksa dia untuk memulainya lagi. Walaupun pemerintah China melarang penerbitan Alkitab, namun dia tetap menemukan jalan untuk mencetak hasil pekerjaannya. Sama seperti benih-benih gandum lainnya yang juga mengorbankan diri mereka, Morrison tidak pernah melihat tuaian hasil jerih lelahnya. Selama 10 tahun pertamanya di China, dia hanya menghasilkan satu buah, dan selama dia tinggal di China dia membaptis kurang dari sepuluh orang. Dia sangat tergerak ketika dia membaptis orang yang pertama sehingga dia menulis, "Semoga orang ini menjadi buah sulung dari tuaian yang besar; satu dari berjuta-juta orang yang akan diselamatkan dari murka yang akan datang" (Ibid.. p. 83). Ketika dia berbaring sekarat pada tahun 1834, dia memberitahu beberapa orang Chinese yang bersama-sama dengannya itu, " Seratus tahun yang akan datang, kalian akan melihat tuaian ini sepuluh ribu kali lebih banyak." Kutipan ini pada akhirnya di ukirkan di atas batu nisan Robert Morrison di permakaman di Makao dimana dia dibaringkan di sisi istrinya. Sebagai sebutir biji gandum, Morrison merintis jalan bagi pergerakan Tuhan yang baru keluar dari situasi Kekristenan yang merosot untuk mendatangkan suatu peralihan yang segar bagi kemajuan pemulihan-Nya. Dia adalah teladan yang luar biasa bagi semua orang yang ingin mengikuti Tuhan. Visi dan amanatnya untuk menginjili China benar-benar adalah responnya terhadap transmisi beban Tuhan yang digemakan oleh mereka yang mengikuti sidang doa "Timbunan Jerami satu tahun sebelum keberangkatannya. Dia dilanjutkan oleh lonjakan misionaris dari Barat, orang-orang yang mau membayar harga hingga martir selama pemberontakan Boxer. Semuanya ini menghasilkan ministri yang sangat penting dari Dora Yu, M. E. Barber. dan pada akhirnya Watchrnan Nee dan Witness Lee. Semuanya ini benar-benar adalah pekerjaan Tuhan bagi pelaksanaan ekonomi kekal-Nya melalui pemulihan-Nya. Benjamin Reymer * Broomhal, Marshall. Robert Morrison – A Master Builder. Edinburgh: Turnbull and Spears. 1924. |
| Last Updated on Monday, 31 December 2007 04:04 |




