| Seorang Yatim Piatu Yang Menjadi Ratu |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Friday, 11 August 2006 06:08 |
|
Seorang Yatim Piatu Yang Menjadi Ratu Oleh : Mart De Haan
Dia adalah seorang yatim piatu yang menyimpan sebuah rahasia keluarga sampai menjadi seorang seorang pahlawan nasional. Sekarang hidupnya dihormati di sinagoga di seluruh dunia dan dirayakan di jalan-jalan Israel selama hari besar Yahudi, Purim. Dengan segala suara-suara, kostum, dan canda tawa, keluarga nasionalnya masih mengingat satu dari kisah besar sepanjang sejarah.
SKENARIO: Seorang Pelindung tak terlihat menggunakan seorang Yahudi yatim piatu untuk menahan sebuah plot pembunuhan massal rasialis. TEMPAT: Ibukota dari Kerajaan Persia WAKTU: Abad ke-5 SM PEMAIN: Ahasyweros – Raja Persia Vashti – Ratu Persia yang diceraikan karena berkata “tidak” Haman – Perdana Menteri Persia Esther – Hadassah, seorang buangan Yahudi, terpilih untuk menggantikan Vashti Mordekai – Sepupu dan penjaga Esther Allah – Pelindung yang tak terlihat, dan tak tersebut. Babak I
Selama 6 bulan, Raja Persia telah memperlihatkan kekayaannya kepada para utusan dari seluruh penjuru dunia, Untuk akhir dari pertunjukkan istananya, Ahasyweros menjamu sebuah jamuan besar selama 7 hari. Pada hari ketujuh dan hari terakhir dari pesta kerajaannya, minuman terus mengalir dengan bebas, dan sang raja yang mabuk memanggil ratu untuk menunjukkan kecantikannya di hadapan para tamu yang mabuk. Mempermalukan sang raja, Vashti berkata “tidak”. Respon Vashti tersebut mengagetkan istana, Menurut penasehat raja, sang ratu harus pergi. Jika sikap tersebut didiamkan, para wanita di seluruh kerajaan akan mengikuti contohnya. Mereka akan melihat teladan sang ratu dan akan juga melawan kepada suami mereka sendiri. Maka Ahasyweros mengeluarkan sebuah titah yang harus diperhatikan oleh para wanita dimanapun. Vashti akan dituruntahtakan dan dibuang dari hadapan raja. Pria harus menjadi tuan dari rumah mereka. Titah raja menjadi sebuah hukum dari suku Medes dan suku Persia.
Babak II
Ketika kemarahan raja telah reda, dia teringat akan Vashti dan apa yang telah hilang darinya. Para penasehatnya menasehatinya dengan memunculkan sebuah rencana untuk menemukan seseorang yang lebih berharga dari mahkota. Mereka mengutus utusan ke 127 propinsi di Persia untuk membawa wanita muda yang paling cantik dari seluruh daratan ke istana raja. Satu dari mereka yang terpilih selama pencarian untuk ratu tersebut adalah seorang wanita muda Yahudi bernama Hadassah. Sejak kematian orang tuanya, dia telah hidup dibawah asuhan penjaga dan sepupunya, Mordekai. Hadassah pergi dengan nama Persia, Esther, agar tidak menarik perhatian kepada ke-Yahudi-annya. Kecantikan Esther membuat dia menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan. Seluruh mata dari kerajaan tersebut melihat padanya ketika dia berubah dari orang yang tak dikenal menjadi orang yang memakan mahkota Ratu Persia.
Babak III
Mordekai tetap berada tidak jauh darinya. Satu hari, ketika duduk di gerbang istana, dia mendengar dua penjaga bersekongkol untuk membunuh sang raja. Dia menyampaikannya pada Esther. Kemudian Esther memberitahukan pada suaminya, dan dua orang yang bersekongkol tersebut ditahan dan digantung. Akibat dari perbuatannya itu, Mordekai diberikan sebuah catatan penghargaan di dalam catatan sejarah Persia. Penghargaan Mordekai, akan tetapi, segera dilupakan. Tidak lama kemudian dia berada dalam masalah karena menolak bersujud pada Haman, perdana menteri sang raja. Ketika Haman tahu bahwa Mordekai adalah seorang Yahudi yang bersujud hanya pada Allahnya, dia meyakinkan sang raja bahwa orang-orang Yahudi adalah bahaya bagi keamanan nasional. Dia menjelaskan bahwa mereka mempunyai hukum sendiri dan menolak pembauran. Dia mendorong sang raja untuk menyelesaikan masalah Yahudi ini dengan menandatangani sebuah hukum untuk melenyapkan mereka. Sang raja terus mengikuti rencana tersebut, tanpa tahu bahwa istrinya adalah seorang Yahudi. Ketika Esther mengetahui skenario tersebut, dia mendapati dirinya dalam situasi yang sulit. Untuk berpihak pada rakyatnya melawan hukum pemusnahan tersebut akan berarti membuka identitasnya sebagai seorang Yahudi. Dalam semua kemungkinan, pembongkaran sepacam itu hanya akan berakibat bukan hanya kehilangan mahkota tetapi nyawanya juga. Mordekai, akan tetapi, dengan lembut mendorong, “Jika engkau tetap diam saat ini, ketenangan dan keselamatan akan bangkit dari orang Yahudi dari tempat lain, tetapi engkau dan rumah ayahmu akan hilang. Lagipula siapa yang tahu apakah engkau telah datang di kerajaan ini dengan maksud seperti sekarang ini?” (4:14) Esther merasakan takdirnya dan resiko yang ada dihadapannya. Dia setuju untuk menggunakan pengaruhnya untuk datang menolong rakyatnya, dan berkata, “Jika aku harus mati, aku akan mati!”
Babak IV
Surga menolong sang ratu. Sang raja sedang merasakan kelelahan dan meminta laporan negara untuk dibawa kehadapannya. Ketika seorang ajudan membacakan laporan rutin mengenai kerajaan, tibalah pada satu baris kalimat mengenai seorang bernama Mordekai yang telah melaporkan sebuah konspirasi untuk membunuh sang raja. Ahasyweros sadar dia telah tidak melakukan apapun untuk menghargai orang yang telah menolong nyawanya. Ketika hari telah pagi, segalanya berubah drastis. Raja meminta tangan kanannya untuk memberi penghargaan pada Mordekai. Haman harus memberi pujian kepada orang yang dia benci. Segera setelahnya Esther dengan cerdik membongkar Haman sebagai orang yang telah berkonspirasi untuk membunuhnya dan keluarganya. Haman termakan sendiri jebakan yang telah dia siapkan untuk Mordekai. Bukannya sebuah pelenyapan suku Yahudi yang terjadi, orang buangan tersebut menemukan kekuatan yang mereka butuhkan untuk mengatasi mereka yang berniat membunuh mereka.
Esther – Sebuah Kisah Untuk Hari Ini
Allah tidak pernah disebutkan barang sekalipun dalam halaman-halaman yang menyandang nama dari Esther. Tetapi dalam pasal sejarah ini memperlihatkan bahwa Allah tidak perlu disebutkan bahwa Dia hadir. Kisah dari Esther adalah sebuah persembahan yang tidak dimakan waktu kepada Allah yang tidak perlu diumumkan atau dimengerti untuk hadir. Dia adalah Allah dari malam-malam yang melelahkan dan akhir yang mengejutkan. Dia adalah Allah yang bekerja untuk kita di dalam kegelapan, kebingungan, dan ketakutan dalam hidup kita. Apa yang memberi inspirasi buat kisah ini adalah ini bukan tentang Esther. Ini adalah sebuah kisah tentang Allah yang, ketika menjadi sumber dan pelindung kita, dapat menggunakan kita untuk memberi pertolongan untuk orang lain. Siapa yang dapat berkata ketika kita, seperti Esther, mungkin menemukan diri kita melihat takdir kita ketika kita memperhatikan kebutuhan seorang anak yang teraniaya, seorang tetangga kesepian, seorang teman sekerja yang ketakutan, atau seorang teman yang sedang bingung? Siapa dapat berkata bahwa surga tidak membawa kita ke tempat ini – untuk waktu seperti sekarang ini ? (Esther 4:14)
|




