|
Written by Muljana Paulus S.
|
|
Friday, 22 August 2008 14:26 |
|
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Mat 22 : 37 - 38 Pernahkah anda pada suatu ketika dalam hidup anda, ketika anda sedang berdoa tiba-tiba anda berpikir sedang apa kira-kira Tuhan pada saat ini? Apakah kira-kira Tuhan mendengar doa saya? Apakah Tuhan akan menjawab atau sanggup menjawab doa saya? Atau pernahkah anda berpikir siapakah Tuhan? Siapa yang menciptakan Tuhan? Apa saja kira-kira yang dilakukanNya sebelum segala sesuatu dijadikan? Pernahkah anda ketika sedang ditengah-tengah berdoa tiba-tiba anda sendiri meragukan manfaat anda berdoa? Bahkan mungkin anda pernah berpikir; jangan-jangan Tuhan sebenarnya hanyalah ilusi manusia saja yang eksistensinya diragukan? Suatu ketika saya pernah melihat sebuah tayangan di Televisi ada orang membawa spanduk bertulisan “Jesus is Alien”. Apakah anda juga pernah terlintas pikiran seperti itu? Apabila anda pernah menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini anda harus segera berhati-hati sebelum hal itu akan menyeret anda kepada keadaan anda tidak lagi percaya kepada Tuhan. Berhentilah …..! Seperti tertulis pada nas diatas, Allah menghendaki agar kita dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita. Kalau dalam hati dan pikiran kita, kita masih menyisakan satu ruang kosong yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Tuhan, dapatkah kita melakukan hukum yang terutama dan yang pertama ini? Sebuah fiksi ilmiah menceriterakan tentang seorang ilmuwan atheis yang ahli dalam ilmu astronomi dan galaksi, memulai penyelidikannya dengan pertanyaan : Apakah kita sendirian di tatasurya ini? Dalam perjalanan hidupnya dia menemukan bahwa betapa kecilnya keberadaan kita dan dibandingkan dengan tatasurya yang seakan tak ada batasnya. Walaupun diakhir ceriteranya dia tetap tidak percaya Tuhan hanya karena dia berprinsip bahwa segala sesuatu haruslah dapat dibuktikan secara ilmiah semantara Tuhan tidak, namun dia mengakui bahwa pencipta tatasurya itu pastilah sesuatu yang sangat tak terpikirkan oleh manusia, dan betapa kecilnya manusia itu. Lalu sekarang apakah yang menyebabkan seseorang dapat meragukan keMaha-dahsyatan Tuhan itu |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Thursday, 02 February 2012 14:29 |
|
Markus 15:21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.
Dengan teganya seseorang mengatakan kepadaku bahwa adalah bagianku untuk memikul salib karena aku mempunyai titel ‘Pendeta’. Hmmmm.. aku merenung panjang untuk hal ini, dan mulai membuka Alkitab. Kucari bagian ayat ini, dan aku menemukan ayat ini : Matius 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Ya, aku tahu sebagai hamba Tuhan memang kita akan mempunyai tugas yang tidak mudah melakukan segala bagian yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Tapi kalau soal memikul salib...maaf saudaraku, itu bukan hanya bagian pendeta atau hamba Tuhan saja. Tapi ayat itu disampaikan untuk kita semua yang mengaku pengikut Tuhan, karena tidak ada kata spesifik bahwa itu hanya untuk hamba Tuhan.
Jadi..aku rasa bukan hanya seorang hamba Tuhan yang mempunyai kewajiban melakukan semua tugas ini, tapi termasuk anda yang saat ini membaca artikel ini. Setuju dengan saya?
Terkadang kebanyakan dari kita sangat tidak adil dalam menerapkan firman Tuhan di dalam kehidupan kita, seakan-akan ada bagian yang memang untuk seseorang, dan ada bagian yang bukan untuk kita. Sepertinya kita boleh memilih mana yang kita sukai dan itu yang akan kita terapkan, tapi ada bagian yang kita tidak suka, maka akan kita bebankan kepada orang lain.
Saya jadi tersenyum sendiri mengingat percakapan saya sore itu. Memang tidak mudah menyelami pikiran seseorang. Dan betapa liciknya hati kita, karena seringkali kita menerapkan hal itu kepada orang lain tapi tidak pernah berani untuk mengambil tanggung jawab itu untuk diri kita sendiri.
Ingat peristiwa Via de Lorosa? Peristiwa ketika Tuhan harus memikul salib menuju Golgota? Di saat itu ada seorang yang bernama Simon dari Kirene sedang melewati daerah itu. Ia bukan Yesus, dan sepertinya ia juga bukan saudaranya. Dan kalau saya boleh menebak, ia juga sepertinya bukan salah satu murid Yesus yang mengikutinya kemana-mana. Tapi apa yang terjadi? Hari itu dia sepertinya berada di tempat yang tidak tepat.
|
|
Last Updated on Thursday, 02 February 2012 14:43 |
|
Read more...
|
|
|
Written by Kurniawan
|
|
Thursday, 03 July 2008 06:01 |
|
YUSUF – BERANI BERMIMPI BESAR “Inilah mimpiku : Semua saudara-saudaraku dan juga ayah ibuku akan bersujud dihadapanku”. “Hahahahaha….. ada-ada aja ….. Mana mungkin ? Engkau itu anak kecil. Mana mungkin kami semua ini sujud kepadamu? Dimana-mana, yang lebih tua lah yang harus kau berikan sembah sujud.” “Aku adalah ayahmu. Mengapa aku harus bersujud dan menyembah kepadamu ?” Ya, itulah mimpi seorang Yusuf ketika diceritakan kepada saudara-saudaranya dan ayah ibunya. Tak ada yang percaya hal itu akan terjadi. Tidak sampai sekian tahun kemudian. Pada kala itu Yusuf masih sangat muda, tetapi dia mempunyai mimpi yang sangat besar dan dia berani menyatakan mimpinya tersebut kepada orang-orang, yang saya yakin dia tahu bahwa kalau dia mengatakan mimpi itu pada orang lain, sudah pasti saudara-saudaranya akan semakin membenci dan mencemooh dia, karena dalam pandangan saudara-saudaranya dia hanyalah seorang anak kecil. Mana mungkin saudara-saudaranya yang jauh lebih besar dari dia akan mau sujud padanya. Tidak ada yang percaya pada mimpinya, bahkan termasuk ayahnya yang sangat menyayangi dia. Tetapi meskipun tidak ada seorang pun yang percaya padanya, dia tetap berpegang dan percaya pada mimpinya. Dia tetap yakin mimpinya akan jadi kenyataan, walau entah kapan. “Hey , kenapa aku dimasukkan ke dalam sumur ini ? Apa salahku ?” Mungkin itu yang ada dalam benak Yusuf ketika saudara-saudaranya memasukkan dirinya ke dalam sebuah sumur. Kalau kita yang ada dalam posisi Yusuf, mungkin kita akan menyerah dan tidak akan pernah berani lagi bermimpi sebesar itu. Tapi Yusuf tahu dan yakin bahwa tetap satu saat nanti mimpinya akan tetap terwujud, entah bagaimana caranya, karena kelihatannya saat ini dia sedang dibawa semakin jauh dari mimpinya. |
|
Last Updated on Thursday, 03 July 2008 06:09 |
|
Read more...
|
|
Written by sariwati
|
|
Thursday, 12 January 2012 09:26 |
|

Yeremia 31 : 3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.
Pernah jatuh cinta? Pernah mencintai seseorang dengan perasaan yang teramat dalam? Pernah mencoba membangun hubungan dengan seseorang? Bagaimana rasanya? Sangat indah dan menyenangkan. Betul begitu?
Yaaa, di saat kita jatuh cinta dan dalam proses mencintai seseorang, segala situasi menjadi menyenangkan. Perasaan cinta itu mengalahkan segalanya. Sekalipun orang tersebut melakukan hal yang menggelikan, kita akan dengan mudah bisa menerimanya. Kita bahkan tidak akan keberatan dengan semua permintaan yang dia lakukan. Dengan senang hati kita akan melakukannya asal bisa menyenangkan hatinya.
Hampir setiap waktu di setiap hari yang kita lewati, yang kita pikirkan hanya tentang orang tersebut, dan bagaimana bisa memenuhi harapannya.
Kita akan mencatat baik-baik semua kesukaannya dan apa yang menjadi cita-citanya. Makanan favoritnya, bahkan kita akan menyimpan dalam memori kita bagaimana caranya bicara, tertawa, dan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu yang khusus ia tujukan kepada kita.
Cinta oh cinta, alangkah indah dan menyenangkannya. Dan sangat menyenangkan khususnya ketika semuanya berjalan mulus seperti yang kita inginkan, kondisinya baik-baik saja, komunikasi lancar, dan tidak ada pertengkaran dan konflik di dalam hubungan tersebut.
Tapi apa yang akan terjadi ketika situasinya berubah? Ia tidak lagi bisa diharapkan. Ia juga tidak selucu dan se-menyenangkan sebelumnya. Kata-katanya tidak lagi manis, dan malah kebalikannya : tajam, judes, keras dan penuh penghinaan. Wajahnya sudah tidak mempunyai senyuman. Matanya tidak lagi memancarkan cinta. Semua yang indah itu sudah berlalu. Yang tersisa hanyalah rasa sakit, kebencian dan dendam. Tiba-tiba saja, hanya dalam waktu yang singkat, semua peristiwa menyakitkan yang dulu tidak menjadi masalah, kini muncul dan tidak bisa diampuni. Semua keindahan itu sirna sudah. Apa yang dulu bisa ditoleransi, kini tidak lagi. Bahkan kata-kata yang salah sedikit saja, bisa menyebabkan pertengkaran yang besar.
|
|
Read more...
|
|