Home Renungan
APAKAH ANDA MERASA PUAS HARI INI? PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 24 November 2011 10:03

Efesus 3 : 19b “...Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

“Apa yang mau kamu beli buat kado ulang tahun kamu?” tanyaku pada Jonathan anakku yang besar. Dia berulang tahun yang ke dua belas hari itu. Dan kebiasaan kami adalah selalu memberikan dia kesempatan untuk memilih kadonya sendiri setelah disepakati berapa besar jumlah uang yang boleh dia habiskan untuk itu.

Dan seperti biasanya, dia akan mengalami sedikit kebingungan. Walau sudah duduk di SMP, dia masih memiliki keinginan untuk bisa membeli mainan baru. Sementara kami orang tuanya berpikir bahwa semestinya masa itu sudah mulai berlalu bagi dia. Jadilah hal ini sedikit membingungkan dia.

Melihat keraguannya, akhirnya aku biarkan dia memilih apa yang menjadi keinginannya. Dan setelah beberapa waktu, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil sebuah mainan dan membelinya.

Namun dari raut wajahnya aku yakin bahwa itu tidak seperti yang dia harapkan. Hanya saja, melihat dari jumlah uang yang tersedia dia merasa bahwa hanya benda itulah yang bisa dia beli, jadi dia memutuskan untuk tetap membeli benda itu daripada tidak sama sekali. Ia tetap berterimakasih, namun dengan suara yang berat.

Berbeda dengan sang adik. Jordan biasanya akan lebih tanggap dan gesit dalam mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Jordan juga lebih gigih mempertahankan keinginannya. Dalam situasi yang kurang lebih sama, maka sang adik akan selalu memperoleh apa yang dia mau dan pulang denga perasaan puas terukir di wajahnya. Ucapan terimakasih yang dia ucapkan benar-benar lepas tanpa ada rasa terpaksa.

Melihat perbedaan yang mencolok ini membuat aku berpikir. Apa yang menyebabkannya? Aku sebagai orang tua sepertinya juga perlu introspeksi dalam hal ini. Jangan sampai aku memaksakan kehendakku kepada anakku, sehingga aku tidak bisa melihat kepuasan dalam hidupnya, karena dia selalu diprogram hanya untuk melakukan apa yang menyenangkan hatiku dan bukan memuaskan harapannya sendiri.

Kasus yang kuhadapi ini bukan satu-satunya kasus di dunia ini yang terjadi seperti ini. Tanpa kita sadari, sebagai orang tua, yang seharusnya bertugas memberikan bimbingan dan arahan kepada anak-anak kita supaya mereka tahu bagaimana menghadapi dan menjalani hidup ini, seringkali salah kaprah. Akibatnya, banyak diantara mereka yang malah jadi tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hidup ini. Mereka terlalu biasa di dikte dan diatur oleh orang tua mereka, sehingga mereka tidak tahu lagi apa yang menjadi cita-cita mereka sebenarnya.

Belajar dari hal yang kecil ini, aku melihat kesalahanku pada penerapan hal ini pada anakku sendiri. Aku jadi membuatnya kurang percaya diri dalam mengambil keputusan yang baik bagi dirinya sekalipun. Ia takut melangkah karena terlalu sering aku memprotesnya dan akhirnya memaksakan apa yang aku anggap baik baginya. Sebagai anak yang baik tentu ia akan taat kepadaku, tapi akibatnya, ia jadi tidak punya pijakan untuk mendapatkan kepenuhan dan kepuasan dari apa yang dia lakukan itu, karena ia melakukannya lebih untuk menyenangkan dan mendapat pujian dari kami orang tuanya.

Kami mulai menyadari kesalahan itu dan mulai memperbaikinya. Untuk mengubah hal itupun dibutuhkan waktu dan ketelatenan. Namun aku yakin belum terlambat untuk itu. Sedikit demi sedikit kami mulai mengembalikan Jonathan ke porsi yang sebenarnya, supaya dia memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan, sambil diarahkan untuk memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Kami percaya, hubungan dengan Tuhan akan sangat dia butuhkan dalam langkah selanjutnya. Namun peranan kami sebagai orang tua hanya sebatas menjaga setiap langkahnya supaya tidak keluar dari pagar yang seharusnya.

Tuhan sendiri tidak pernah memaksakan kehendakNya dengan cara itu. Tapi sebagai Bapa yang baik, Ia akan menjaga dan menuntun langkah kita sedemikian supaya kita tidak keluar dari jalur yang sudah Ia tetapkan dalam hidup kita. Sesekali mungkin akan Ia paksakan, tapi tidak selalu demikian. Ia juga tidak mau kita tidak merasakan kepuasan yang penuh dalam hidup kita. Ia mau supaya kita mensyukuri semua yang kita miliki dan kita alami dalam hidup kita ini lebih karena keputusan kita, dan bukan karena Dia memaksanya.

Cobalah periksa hatimu hari ini, ketika engkau berdoa dan menyembah Tuhan, apakah karena terpaksa? Atau karena engku memang merindukannya? Ingat, Dia lebih menyukai persembahan yang diberikan dengan sukarela dan bukan karena terpaksa. Amin. (SG)

 

 
SIAPA YANG MENGATUR TUJUAN HIDUPKU? PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Tuesday, 01 November 2011 05:25

Efesus 1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus

Entahlah..apakah aku sedang berusaha meyakinkan banyak orang bahwa aku ini memang cantik, menarik dan pintar? Atau aku memang seperti yang aku bayangkan? Atau semua itu aku katakan lebih untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku memang demikian?

Yang pasti, di dalam diriku memang aku merasa yakin bahwa itulah aku, dan tepat demikianlah adanya. Dan karenanya, aku bisa tampil penuh percaya diri di manapun dan tidak merasa perlu minder terhadap orang lain, karena aku tahu betul bahwa aku punya kelebihan yang orang lain tidak miliki.

Ya, seringkali kita akan bertingkah laku bukan karena siapa diri kita menurut apa yang kita pikir, tapi lebih berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan orang lain. Dan jika hal ini terjadi, alangkah melelahkannya. Mengapa? Karena di sekitar kita ada begitu banyak orang dengan pemikiran dan pendapat mereka yang berbeda-beda. Jika kita harus berusaha untuk memenuhi semua keinginan mereka, dapat dibayangkan betapa lelahnya.

Tapi itulah yang terjadi. Bahkan pada akhirnya kita sering tidak lagi mengenal siapa diri kita dan apa yang menjadi keinginan kita, hanya karena kita terlalu mendengarkan apa yang menjadi pendapat orang lain bagi kita.

Ada banyak yang tidak merasa puas dengan hasil yang mereka capai, meskipun kelihatannya berhasil dan mapan, lebih karena apa yang mereka kerjakan itu bukanlah pilihan mereka yang sebenarnya. Ada pihak lain yang selalu meng-intervensi pilihan mereka. Dan karenanya, mereka tidak benar-benar merasakan kepuasan yang penuh di dalam hidup mereka.

Pendapat orang lain memang akan tetap diperlukan, karena seringkali kita tidak bisa melihat secara jelas diri kita sendiri. Tapi, tentunya tidak semua pendapat orang lain itu perlu untuk diterima. Dan sebaliknya juga tentunya tidak semuanya juga bisa ditolak. Jadi bagaimana?

Sobat, beginilah jadinya kalau kita tidak pernah mengerti apa yang menjadi tujuan hidup kita sebenarnya. Kita akan diombang-ambingkan oleh pendapat orang lain, dan akan selalu diatur dan disetir oleh pikiran orang lain. Tapi akan lain halnya, jika kita tahu bahwa kita ada dan hidup karena ada rencana Tuhan di balik semuanya itu.

Kehendak Tuhan akan menjadi standar hidup kita, dan tentunya Dia juga yang akan menjadi tujuan dari semua tindakan kita. Benarlah rasanya kalau aku menyimpulkan bahwa kehidupan kita memang harus ‘Totally For Jesus’, karena memang hanya dari Dia, oleh Dia dan bagi Dialah kesemuanya ini.

Nah, mengapa kita tidak mulai dari sekarang, mencari tahu apa yang menjadi rencana Tuhan bagi hidup kita? Bagaimana caranya? Tentunya dengan kita mengalami pengenalan secara pribadi kepada Dia, dan dengan membaca Alkitab sebagai panduannya. Di sana tertulis banyak rahasia yang akan Dia bukakan bagi kita secara terperinci bagi kita yang mau mencarinya. Amin. (SG)

 

 

Last Updated on Tuesday, 01 November 2011 05:27
 
DAMAI SEJAHTERA YANG SEJATI PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Thursday, 29 September 2011 06:07

Yesaya 43 : 1 - 2 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

Ketika aku tahu persis bahwa hidupku ada dalam perlindungan Tuhan, maka hatiku terasa sangat tenang. Damai sejahtera melingkupiku dan membuat seluruh jalanku menjadi terang.

Bahkan di masa-masa di mana aku merasakan ada masalah yang menghimpit aku, dan sepertinya begitu banyak ‘musuh’ mengintai dan siap menerkam dan mencabik-cabik semua keberanian yang kumiliki, maka yang perlu kulakukan adalah berseru kepadaNya dengan sungguh-sungguh, dan Dia akan membiarkan diriNya untuk ditemui oleh kita.

Pada hari ini, aku sendiri mengalami situasi yang begitu ‘menekan’ dan sepertinya situasi tersebut berusaha keras untuk mencuri damai sejahtera dan sukacitaku. Sebagai manusia aku sempat terpengaruh. Kepalaku menjadi pening dan otakku rasanya begitu mendidih tak karuan. Rasa takut dan khawatir mulai muncul dan seperti hendak mencaplok seluruh kesadaranku.

Tapi aku bersyukur memiliki Roh Kudus di dalam hidupku. Sekalipun Ia begitu lembut, namun Ia tidak bosan-bosannya memberikan ‘alarm’ bagiku, suatu tanda bahwa kondisi ini tidak bisa kuhadapi sendiri. Aku membutuhkan tangan Tuhan sendiri. Dan akupun sungguh-sungguh berlari kepadaNya, meneriakkan namaNya dengan segenap hatiku.

Bukan hanya ketenangan yang aku peroleh, bahkan Ia memberitahukanku lewat saudara seimanku, bahwa Allahku juga mengirimkan ribuan tentara malaikat berjaga-jaga bagiku. Saudara seimanku itu salah satunya. Di sepanjang waktu itu, di mana aku merasa tekanan itu begitu kuat, Ia memberikan beban kepadanya untuk mendoakan aku sepanjang waktu itu. Ia sendiri tidak tahu apa masalahku, tapi saudaraku itu taat melakukannya. Ia berdoa bagiku.

Ketika aku mengetahui hal ini, aku mengucap syukur dan semakin mencintai Dia, Allahku yang hidup. PenyertaanNya sungguh nyata, kasihNya besar.

Dengan pengertian yang baru tentang Dia, aku semakin yakin bahwa kemenangan itu mutlak bagianku. Aku tidak perlu takut dan khawatir, dan dengan keyakinan itu aku bangkit dan menolak semua intimidasi itu. Seketika itu juga damai sejahtera itu turun melingkupiku. Saat hatiku tenang, pikiran jernih kembali, aku bisa mengambil keputusan yang lebih baik.

Praise The Lord. (SG)

 
SKETSA LUKISAN HIDUPKU PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Saturday, 04 June 2011 13:23

Roma 1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Seperti sebuah sketsa lukisan, kadang aku melihat kehidupanku dilukis dihadapanku sedikit demi sedikit oleh tangan sang Masterpiece. Dan aku tahu pasti bahwa lukisan itu belum selesai.

Guratan-guratan yang Dia buat benar-benar membawaku ke satu tahap demi tahap yang sangat mengagumkan. Lihat saja bagaimana Ia bisa membuat guratan di dalam kehidupan sebagai seorang ibu bagi dua anak-anakku. Sungguh membuatku terpesona. Bagaimana melihat mereka dalam pelukanku, merasakan kehangatan mereka mendekapku dengan dua lengan kecil mereka. Dan ketika dua pasang mata itu menatapku dengan penuh cinta, sungguh memberikan inspirasi yang sangat luas artinya bagiku. Mami...sebuah panggilan kehormatan yang kuterima dari mereka, selalu keluar dari bibir mereka yang mungil dan penuh dengan cinta yang mendalam.

Background warna-warni yang mewarnai latar belakang guratan itu sungguh membawaku ke satu pengertian bahwa hidup ini begitu penuh dengan rasa dan pengalaman yang luar biasa. Semuanya itu begitu indah tak terkira. Sebagai pemegang peran utama dalam lakon hidupku sendiri, aku senang karena Dia memberiku banyak kesempatan untuk memberikan inspirasi dalam lukisan itu. Dan bersyukur bahwa Sang Artis itu senantiasa mengerti apa yang menjadi impian dari tokohnya itu. Bahkan sambil menggoreskan tiap warna dan bentuk itu, tak lupa Ia selalu memberikan sentuhan akhir yang prima, lengkap disertai dengan lagu yang sesuai dengan gerak langkahku.

Bapaku , sang Masterpiece itu memang bukan pribadi yang melakukan dengan asal. Setiap sentuhanNya selalu punya makna tersendiri. Ia selalu punya alasan dibalik setiap keputusanNya. Kedalaman pikiranNya tidak akan pernah bisa kita mengerti, tapi di akhir setiap hasilnya, kita akan dibuatNya heran dan kagum akan semuanya.

Teman, lukisanku belum lagi selesai hari ini. Masih ada banyak hal yang hendak Dia taruh dalam lukisan itu. Aku suka dengan gayaNya dan suka dengan segala hal yang Dia taruh sebagai penyemarak hidupku. Aku melihat, sekalipun kadang ada tonjolan-tonjolan yang saat dibuat sangat menyakitkan bagiku, tapi ketika aku tahu maksud karya itu, aku melihat bahwa semuanya itu sungguh indah untuk keseluruhan hasil lukisan itu.

Kini aku sangat menyadari, bahwa di balik semua rasa sakit itu, Dia menaruhnya bukan untuk menyiksaku, melainkan karena Dia tahu bahwa semua itu akan menambah keindahan dari seluruh pemandangan lukisan yang terbentang di hadapanku. No matter what, I love Him so much, my maker, my lover, my creator, my redeemer. Jesus Christ the Lord. Praise God.

 
HE KNOWS THE WAY PDF Print E-mail
Written by sariwati   
Saturday, 04 June 2011 13:23

Yohanes 3 : 13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dulu aku sering berpikir bahwa akan jauh lebih mudah untuk mengambil jalan melalui angkasa yang biru itu dibandingkan naik mobil di darat. Selain jalan raya yang sempit dan padat dengan kendaraan, juga ada banyak kendala yang tidak mudah untuk dilalui begitu saja. Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Berbeda dengan pesawat di angkasa raya. Hambatannya hanyalah awan-awan saja, karena toh pesawat yang melintas tidaklah sebanyak dan sepadat kendaraan di jalan darat tentunya. Jadi tentunya lebih nyaman dan lebih enak untuk kita lalui, itu pikiranku yang segera berubah ketika menemukan kenyataan bahwa justru jauh lebih sulit di udara karena tempat yang akan dituju kenyataannya jauh lebih sulit untuk dilihat dari atas, sehingga benar-benar butuh ketelitian dalam menghitung koordinat dan derajatnya, atau kita akan sampai entah ke mana.

Tapi beruntung aku bukan pilot, dan hanya seorang penumpang.... sehingga aku tidak perlu mengerti mengenai hal itu. Cukup memasuki pesawat dan mempercayakan perjalanan itu pada sang akhli, dan aku akan sampai di tujuan yang kuinginkan. Aku tidak perlu mondar-mandir ke kabin pilot untuk menanyakan apakah semuanya baik-baik saja, atau menanyakan apakah ada kesulitan untuk menemukan tempat yang akan kita tuju? Yang perlu kulakukan hanya duduk dan menikmati perjalanan itu, menyerahkan seluruh hasil penerbangan ini pada pilot tersebut.

Begitu juga dengan kehidupan kekal yang akan kita jalani nanti. Tidak ada seorangpun dari kita yang mengetahui kemana dan di mana arahnya, tapi satu waktu kita akan bisa menuju kesana. Bagaimana caranya? Dengan percaya kepada Dia, Yesus Kristus. Karena Cuma Dia satu-satunya yang tahu jalan menuju ke sana. Tidak ada pribadi lain yang bisa kita andalkan mengenai hal ini. Dia tahu persis, karena Cuma Dia yang telah turun dari sorga dan naik lagi ke sorga. Jadi, Dia tidak akan tersesat.

Kita tidak perlu mengerti bagaimana caranya bisa sampai ke sana, tapi selama kita berada di dalam pesawat Tuhan Yesus, dan kita mempercayakan perjalanan kita kepadaNya, maka kita akan aman. Kita akan bisa terbang dan melandas di tempat yang tepat. Dia pengemudinya dan Dia yang akan membawa kita kepada tujuan yang tepat. (sg)

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 37
Designed by vonfio.de