|
Written by sariwati
|
|
Saturday, 04 June 2011 13:22 |
|
Mazmur 139 : 14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
‘Manis’ itu hanya sebuah kata, sama juga seperti ‘pahit’, ‘asam’, ‘indah’ dan ‘sakit’. Semuanya tidak akan ada maknanya sebelum engkau mengalami dan mencicipinya. Engkau perlu diperkenalkan kepada setiap kata itu, barulah engkau akan mengerti makna dari semua itu.
Begitu juga dengan segala ‘kebaikan’, barulah engkau akan menyadari pentingnya semua itu setelah engkau mengalami satu peristiwa kebalikannya. Itulah mengapa Tuhan memberikan pengalaman-pengalaman dala hidupmu, semuanya itu untuk pembelajaran dan itulah caraNya mengungkapkan diriNya di hadapan setiap umatNya.
Sulit bagi kita untuk memuji Dia jika kita tidak pernah mengalami segala peristiwa yang melibatkan Dia di dalamnya. Tapi ketika kita bisa melihat dan merasakan semuanya, barulah pujian dan penyembahan itu akan mengalir tanpa ada yang menyuruhnya. Di tengah semua yang kita rasakan, Dia selalu akan hadir memberikan pembedaan. Dan di saat kita tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain daripada menantikan Dia menunjukkan kuasaNya, di saat itulah Dia sungguh-sungguh akan melakukannya karena kasihNya pada kita.
‘Kuasa’ Nya akan bekerja dengan sungguh-sungguh bagi kita yang memang mengasihi dan menaruh pengharapan kita di dalam namaNya. Di dalam segala kemustahilan Dia akan bersinar lebih terang dari yang lainnya. Itulah Allah kita.
Jadi, jika hari ini engkau sedang berada dalam satu macam ‘rasa’ yang Dia ijinkan engkau alami, nikmatilah selagi masih ada hari ini, karena itu artinya Dia sedang mengajarimu sesuatu yang baru sebagai persiapan bagimu untuk menuju ‘rasa’ berikutnya, yang nantinya engkau akan mengerti bahwa semua ‘rasa’ itu akan bersatu menjadikan satu kepenuhan dalam kehidupanmu dan membawamu makin mencintai dan mengagumi Dia. He’s really good and Dia memang layak untuk menerima dua acungan jempol dari semua yang telah dan akan Dia kerjakan bagi hidup kita. (sg)
|
|
Written by sariwati
|
|
Saturday, 04 June 2011 13:21 |
|
Ayub 2 : 10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Berita yang baik akan menyenangkan hati, tapi ketika impian tidak terjadi maka kekecewaan sulit dihindari. Seakan-akan kita hanya mau menerima yang baik, tapi tidak mensyukuri hal yang buruk. Itulah yang dikatakan Ayub.
Ya, memang mudah untuk menerima hal baik dan bersorak-sorai karenanya, tapi sulit untuk menerima begitu saja keputusan yang merugikan. Seringkali kita akan datang dan memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, dan akhirnya membahayakan diri kita sendiri.
Situasi yang baik dan buruk yang kita alami itu Tuhan ijinkan bukan karena Dia tidak mengasihi kita, tapi justru sebaliknya. Dia mau memakai situasi yang buruk itu untuk mengubah dan mengangkat kita lebih tinggi, selama kita tetap mengasihi dan mempercayai keputusan-keputusanNya yang tidak kita mengerti.
Mengapa kita tidak pernah belajar dari semua pengalaman kita? Baik itu ketika kita diberkati, maupun ketika di tengah masalah dan kerumitan? Bukankah selama ini Dia benar-benar berusaha menyampaikan sesuatu melalui semuanya itu? Cobalah berhenti sejenak dan nantikanlah Dia. Cari tahu di dalam kesemuanya itu bagaimana Dia ingin berbicara kepadamu.
Dan ketika Dia berbicara, baru engkau akan mengerti maksud dari semua yang kaualami. Dia bukan sedang membuat engkau tergeletak, tapi justru sebaliknya. Dia sedang mengajarimu terbang tinggi. Tapi tidak ada cara lain untuk melakukannya, selain mengijinkan suatu masalah terjadi. Engkau tidak akan pernah menjadi kuat, ketika engkau tidak tahu kapan engkau lemah. Juga engkau tidak akan pernah mengerti apa perbedaannya antara ‘gagal’ dan ‘berhasil’, sebelum engkau sendiri mengalaminya.
Dia ijinkan semua itu supaya engkau belajar dan supaya engkau mengerti, bahwa di dalam kesemuanya itu, Dia ada dan turut bekerja...tapi hanya satu tujuanNya, yaitu untuk mendatangkan kebaikan bagi hidupmu. (sg)
|
|
|
Written by sariwati
|
|
Saturday, 04 June 2011 13:21 |
|
Mazmur 139 : 7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Dosa dan kesalahan membuat kita ingin bersembunyi. Kita tahu bahwa kesalahan dan pelanggaran bukan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, malahan sebaliknya. Kita akan merasa malu menghadapNya dan ingin menghindari panggilanNya. Kita akan mencari seribu satu alasan untuk tidak dapat ditemukanNya. Dan kalaupun akhirnya ‘tertangkap’, kita akan membuat banyak upaya untuk ‘menutupi’ semua pelanggaran itu. Bukankah Adam dan Hawa leluhur kita juga melakukannya? Mereka memakai daun-daunan untuk menutupi ketelanjangannya.
Tanpa kita sadari, seringkali kita mengikuti jejak mereka. Kita akan berusaha dan berupaya berkilah dan menutupi semua dosa dan pelanggaran kita dengan sekuat tenaga. Entah sampai kapan kita bisa menyadari pada akhirnya bahwa tidak ada satupun dari kita yang sanggup melakukannya? Mengapa kita harus terus melakukan hal itu? Bukankah lebih baik jika kita berlari kepadaNya, dan bukan justu menjauhiNya?
Apakah engkau belum melihat bagaimana tangan Tuhan senantiasa terentang, siap merangkul siapapun yang mau berlari kepadaNya? Ia akan menerima siapa saja dengan kondisi apapun. Kita tidak perlu berupaya menutupi semua dosa dan pelanggaran kita, karena Dia kenal siapa kita dan Dia tahu segala keterbatasan kita.
Yang perlu engkau lakukan adalah mau datang kepadaNya dan berbicara from heart to heart dengan Dia, dan engkau akan melihat bagaimana Dia mengangkatmu dan membersihkan semua dosa dan pelanggaranmu dengan darahNya yang sudah tercurah. Dirimu akan dibuatNya berharga. Lebih dari apa yang bisa engkau pikirkan.
Ketika engkau menyadari ada sesuatu dalam hidupmu yang perlu engkau bereskan, segera lakukan itu dihadapanNya. Jangan menunggu terlalu lama, jangan abaikan Roh Tuhan yang berbicara kepadamu secara pribadi. Setelah engkau melakukannya, engkau akan mengalami kepenuhan bersama dengan Dia.
Hari ini, kalau ayat ini berbicara bagimu, responilah dengan positif. He will talk to you personally. (sg)
|
|
Written by sariwati
|
|
Saturday, 04 June 2011 13:20 |
|
Ulangan 28:13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia
Tahu permainan ular tangga? Ketika engkau mengocok dadu dan menunjukkan angka tertentu, maka engkau harus menggerakkan biji permainan itu menuju kotak itu sambil menghitung angkanya sesuai angka dadu tadi. Dan jika tiba di satu kotak yang menggambarkan tangga, maka engkau beruntung akan langsung naik ke kotak yang ditunjukkannya, dan tentunya itu akan mempersingkat permainanmu dan memberikan peluang untuk menang. Tapi sebaliknya, jika engkau sampai di tempat yang ada ularnya, maka engkau harus turun ke tempat yang ditunjukkan ular itu. Artinya engkau harus berusaha lebih keras untuk mengejar ketinggalanmu, karena bisa jadi engkau tertinggal sekarang dan kalah.
Banyak orang bilang hidup ini seperti roda. Kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Dan persis seperti permainan ular tangga itu, kadang kita beruntung naik ke atas, tapi kadang kita kurang hati-hati lalu tergelincir ke bawah.
Itulah perbedaannya ketika kita di dalam Tuhan. Ia tidak pernah mengatakan bahwa hidup kita seperti itu. Bahkan jika kita sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepadaNya, maka Ia memberikan jaminan bahwa hidup kita akan terus naik dan tidak turun. Kita akan menjadi kepala dan bukan ekor. Sangat berbeda dengan yang dikatakan orang-orang. Inilah yang harus kita imani. Bahkan jika seandainya hari ini engkau merasa bahwa sepertinya hidupmu sedang dalam kondisi yang sulit, itu bukan berarti bahwa engkau sedang berada di bawah roda, tapi justru engkau sedang dibawa Tuhan naik lebih tinggi ke level berikutnya. Kesulitan yang kita hadapi saat ini hanya sementara, sambil membawa engkau naik lebih tinggi lagi. Dan ingat, Ia akan selalu menopangmu.
Si ular memang akan selalu menantikanmu dan mengupayakan supaya engkau tergelincir, tapi tangan Tuhan akan selalu menyediakan tangga untuk kita naik lebih tinggi lagi. Mana yang lebih engkau percaya sekarang? Apakah si ular? Atau Tuhan sendiri? Aku sendiri sangat mempercayai Dia yang mengasihi aku. Aku harap engkau juga. (sg)
|
|