Home Renungan Saya tidak akan berhutang apapun pada siapapun kecuali hutang kasih.
Saya tidak akan berhutang apapun pada siapapun kecuali hutang kasih. PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 04 August 2006 15:00

Kunci :

Saya tidak akan berhutang apapun pada siapapun kecuali hutang kasih.

 

Atau :

Apa yang saya pelajari tentang integritas dan kehidupan dalam membayar hutang-hutang saya

            Ketika saya hendak memulai pelayanan penyembuhan pada tahun 1947 seperti yang Allah mau saya lakukan, saya menghadiri satu kebaktian penyembuhan, di mana dari semua bukti yang ada, tujuan utama dari penginjil itu adalah mengumpulkan uang. Ia menghabiskan satu jam penuh untuk mengumpulkan persembahan dalam satu kebaktian.

            Saya tahu, karena saya menghitung waktunya.

            Dan hal itu membuat hati saya sakit.

            Saya tahu pelayanan penyembuhan itu berasal dari Allah, dan dari semua jenis pelayanan maka pelayanan penyembuhan ini yang paling diasingkan, tetapi paling dibutuhkan, dan paling sering disalah gunakan. Pelayanan penyembuhan dari rasul Petrus dan Yohanes, dari rasul Paulus dan Stefanus dalam Perjanjian Baru merupakan pelayanan untuk memenangkan jiwa yang terbesar dari semua masa. Saya tahu dalam hati saya bahwa sebuah pelayanan akan terpola setelah pelayanan mereka membawa jutaan orang pada Allah.

            Tetapi penekanan penginjil tadi akan uang telah membatalkan banyak kebaikan yang dia selesaikan dalam pertemuan itu. Banyak orang merasa kecewa; dan banyak pelayanan, termasuk pelayanan

 

saya sendiri, disebut mengecewakan dan dikritik banyak orang.

            Allah telah menumpangkan tangan atas saya dan berkata :

            “Mulai sekarang engkau akan menyembuhkan si sakit dan mengusir setan-setan dengan kuasaKu.”

            Saya ingin mematuhi Allah tetapi saya mempunyai contoh yang sangat buruk akan pelayanan semacam ini. Banyak teman saya yang dikecewakan oleh penginjil tadi dan wajar saja jika mereka menganggap bahwa saya juga akan seperti orang itu.

            Tak ada seorang pun yang tahu hampir saja saya berkata,”Tuhan, saya tidak dapat melakukannya. Contoh yang ada sangatlah buruk, dan setiap orang akan menghakimi saya dalam bayang-bayang penginjil itu. Saya tidak sanggup memikulnya.”

            Evelyn dan saya terus membicarakan hal ini. Dia berkata,”Oral, Orang-orang mungkin tidak akan percaya pada mulanya bahwa kamu tulus dan jujur, tetapi jika engkau melakukan penginjilanmu dengan tulus dan jujur, suatu hari orang-orang akan mengetahuinya dan akan menerima engkau.”

            Saya berlutut di hadapan Allah dan membuat dua janji :

1.       Saya tidak akan pernah menaiki mimbar jika tidak merasakan kehadiran Allah.

2.       Dan saya tidak akan menyentuh baik kekayaan maupun kemashyuran.

 

 

SUMPAH SAYA DIUJI

 

            Sumpah ini diuji sejak saat pertama kali pelayanan saya dimulai. Pada waktu itu bulan November 1947. Saya sedang berkotbah tentang pengorbanan di sebuah auditorium di kota Kansas. Saat itu Roh Kudus hadir secara luar biasa dan jemaat yang hadir merespon dengan luar biasa terhadap undangan untuk menerima Kristus sebagai juru selamat dan Tuhan, dan banyak yang menerima kesembuhan atas segala penyakit dan persoalan mereka. Hanya ada satu hal yang salah ketika itu. - biaya KKR ini tidak terpenuhi.

            Saya menganggap masalah itu sebagai kesalahan saya karena saya kurang mampu untuk mempercayai Allah. Saya membiarkan hal itu berkembang menjadi satu masalah yang berada di antara saya dan Allah. Semakin saya memikirkan masalah biaya sewa yang sudah jatuh tempo dan belum mempunyai cukup dana untuk membayarnya, semakin saya menjadi gelisah. Saya merasa jika saya tidak dapat mempercayai Allah untuk masalah keuangan, bagaimana saya dapat mempercayai Dia untuk menyelamatkan orang-orang dan menyembuhkan banyak orang yang sakit ? Jika Allah benar-benar telah mengirimkan saya kepada banyak orang dengan pesan penyembuhanNya dan kuasa pelepasan, saya mulai berandai-andai, dan jika Dia mengharapkan saya untuk menjadi alatNya, saya berhak untuk mengharapkan dana yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban yang terjadi dalam pelayanan ini.

            Saya tidak dapat menutup pelayanan dan meninggalkan kota tanpa membayar segala utang-utang saya. Saya akan menjual segala milik pribadi saya - mobil, pakaian, semuanya, jika perlu - untuk mebayar utang-utang itu. Semuanya itu membuat suatu kontraadiksi kepada keberadaan saya dan pendirian terhadap integritas dan iman.

            Selain pikiran saya, tidak ada lagi yang berubah. Orang-orang yang datang tetap banyak dan antusias, Roh Kudus luar biasa, dan hasilnya sangat ajaib. Tetapi setiap malam keuangan kami semakin jauh dari cukup.

            Suatu malam Saya berada di balik tirai menunggu panggilan untuk berkotbah. Kakak saya Vaden berdiri di samping saya. Tiba-tiba sesuatu hancur di dalam saya dan saya berkata kepadaNya,”Habis sudah.”

            “Ada apa ?”tanyanya.

            Saya berkata,”Saya tidak mempunyai iman dan Allah tidak menolong saya.”

            Dia berkata,”Tapi Oral, pelayanan ini luar biasa.”

            Saya berkata,”Ya, tapi kita tidak dapat membayar semua utang-utang kita, dan engkau tahu kalau Papa selalu mengajarkan kita untuk membayar semua utang-utang kita. Vaden, saya sudah mengerjakan semua hal yang saya tahu untuk dilakukan. Saya sudah berkotbah dan mendoakan yang sakit, dan membawa orang-orang kepada Allah. Sekarang kita bahkan tidak dapat membayar sewa gedung ini. Saya tidak dapat melanjutkannya lagi dan tidak dapat jujur. Habislah sudah. Saya akan pulang.”

            Vaden berlalu kemudian muncul kembali bersama Evelyn. Dia pucat sekali seperti kertas. Dia tahu ketika saya mengatakan itu saya sangat bersungguh-sungguh. Dan di sana di belakang tirai ia memeluk saya dan berkata,”Oral, saya tahu hal ini memang sulit, tapi engkau tidak dapat berhenti sekarang. Kebaktian pelayanan ini terlalu baik dan begitu banyak orang yang berbalik dan datang ke pelayananmu ini setiap hari.”

            “Evelyn, engkau tahu sumpahku. Engkau dan saya bersama-sama berjanji pada Allah bahwa kita tidak akan menyentuh kekayaan dan kemuliaan, tapi kita memerlukan jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan kita. Engau tahu hal ini dan saya tahu juga. Saya sudah berdoa pada Tuhan tapi Ia tidak mendengar saya. Jika saya memang harus melanjutkan pelayanan ini maka seharusnya Allah memenuhi kebutuhan kita. Jika tidak, saya akan pulang.”

            Evelyn berkata,”Oral, mengapa engkau tidak pergi ke mimbar dan menceritakan apa yang engkau rasakan ? Mungkin mereka akan berbuat lebih banyak.”

            Saya menjawab,”Tidak. Allah tahu apa yang saya butuhkan. Jika saya tidak dapat mempercayai Dia untuk hal ini, bagaimana mungkin saya dapat mempercayai Dia untuk hal lainnya ?”

            Dia berkata,”Engkau tidak akan berkotbah malam ini ?’

            Saya berkata,”Tidak, semuanya sudah berakhir.”

            Dia dan Vaden pergi. Tak lama sesudah itu saya mendengar suaranya berbicara kepada hadirin yang datang. Sejenak hal itu mengejutkan saya. Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Pada kenyataannya dia selalu berkata,”Ketika saya berdiri di depan, pikiran saya ada di tempat duduk.” Tapi kali ini dia benar-benar berbicara.

            Saya melihat lewat tirai. Orang-orang saling berpandangan dan bertanya-tanya apa yang dikerjakan istri si penginjil di atas mimbar. Kemudian saya melihat dia dan mendengar dengan jelas dia berkata :

            “Teman-teman, kalian tidak tahu betapa berartinya bagi saya untuk berdiri di sini malam ini di tempat di mana suami saya biasanya berdiri. Dan saya yakin kalian semua tidak mengenal dia seperti saya mengenalnya.. Dia datang kemari dengan iman. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab mengenai keuangannya selain dia sendiri dan Allah. Dia telah berkotbah dan mendoakan kalian dan orang-orang yang kalian kasihi setiap malam, tapi malam ini dia merasa ingin berhenti. Beberapa dari anda sekalian belum menyadari tanggung-jawab anda terhadap pelayanan ini  dan kami bahkan tidak dapat membayar sewa gedung ini. Apapun yang anda pikirkan tentang Oral, ada hal tentang dia yang perlu anda ketahui. Dia adalah seorang yang jujur dan jika dia tidak dapat membayar hutangnya maka dia tidak akan melanjutkan pelayanan ini. Dia tidak akan menyalahkan anda. Dia akan menganggap hal ini sebagai tanda bahwa Allah tidak menginginkan dia untuk melanjutkan pelayanan ini, dan dia akan berhenti. Saya tahu Allah telah memanggil dia dan dia harus melanjutkan hal ini untuk mematuhi Allah. Saya minta anda sekalian untuk menolong dia. Bersama-sama kita dapat menyelamatkan pelayanan ini.”

            Ketika dia berbicara saya melihat air matanya mulai mengalir di wajahnya, dan saya semakin merasa kecil.

            “Laki-laki macam apa aku ini,”kata saya pada diri sendiri,”siapa yang akan berhenti jika sesuatu berjalan sulit?”

            Pertanyaan ini dan pertanyaan lainnya berlomba-lomba memenuhi kepala saya. Tetapi saya tidak dapat merubah pikiran saya. Ini masalah integritas. Allah telah memanggil saya, dan keperluan saya harus dipenuhi. Saya sudah mendengar ada beberapa yang pergi tanpa membayar utang , membuat satu bumerang bagi pelayanannya. Jadi saya dapat membayar utang-utang saya atau saya tidak akan pernah berkotbah lagi selamanya.

            Saya mendengar Evelyn berkata,”Mungkin beberapa diantara anda tidak tahu bahwa kami sangat memerlukan bantuan. Mungkin beberapa diantara anda akan menunggu sampai suami saya menceritakan lebih banyak tentang hal ini. Tapi ia tidak akan melakukan hal itu karena ia sangat mempercayai Allah. Sekarang saya akan melakukan suatu hal yang belum pernah saya lakukan seumur hidup saya. Saya minta beberapa bapak di sini untuk meminjamkan topinya. Saya akan meminta anda untuk memberikan persembahan sukarela untuk sewa gedung ini.”        

            Beberapa laki-laki segera memelopori meminjamkan topinya. Evelyn memilih satu topi hitam yang besar. Memegang topi itu di dekatnya, dia menundukkan kepalanya dan berdoa. Saya merasa yakin dia pasti malu. Tapi dia terus maju demi menyelamatkan pelayanan ini.

            Kemudian dia berkata,”Baiklah, sekarang Tuhan dan anda harus menolong kami. Bukan hanya untuk orang-orang di sini yang membutuhkan kesembuhan tetapi juga untuk orang-orang lain yang ada di tempat dan pulau lain. Saya akan berkeliling untuk mengedarkan topi ini. Saya meminta Allah untuk menolong anda melakukan bagian anda dan memberkati anda karena telah menolong kami.”

            Oh Tuhan, betapa kecilnya iman saya malam itu. Saya tidak berharap Evelyn akan berhasil. Rasanya seakan-akan saya sudah terlempar terlalu jauh dari pantai dan sudah waktunya untuk pulang. Iblis berbisik,”Nah, engkau sudah tenggelam amat dalam dengan membiarkan istrimu mengambil persembahan. Sudah waktunya engkau menyerah.”

 

SAYA MERASA SEMAKIN DEKAT DENGAN KEKALAHAN TOTAL…

KEMUDIAN TANGAN ALLAH MENYENTUH SAYA

 

           

            Mendengar si iblis berkata demikian dan melihat Evelyn yang merasa sudah jatuh ke lantai, hal itu membuat saya sudah mendekati ke kekalahan total. Sesungguhnya saya mulai menyalahkan Allah. Kenyataan pada saat itu adalah saya bukannya mengingat  bahwa Allah adalah SUMBER SEGALA SESUATU yang secara total menyediakannya bagi saya, malahan saya membuat Allah sedih.

            Pada saat itu kami hanya memerlukan $300 untuk membayar sewa gedung. Tetapi karena pada saat itu kami sama sekali tidak mempunyai uang, maka jumlah itu seakan-akan sepuluh kali lipat besarnya. Dan pada saat itu saya merasakan tangan Tuhan menyentuh saya. Perasaan itu sukar untuk diungkapkan denngan kata-kata, tapi setiap kali saya merasakannya saya selalu tahu dan mengenalinya. Dan sentuhan ini yang mengubah saya, dari Oral Roberts sebagai manusia menjadi orang yang diurapi Allah.

            Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang meminta izin pada Evelyn untuk mengucapkan beberapa patah kata. Dia adalah seorang pengusaha Yahudi yang biasa datang ke kebaktian kami, dan kami pernah makan beberapa kali di rumahnya. Dia benar-benar terkesan dengan pelayanan ini dan kami mendoakan dia di rumahnya.

            Dia berkata, “Teman-teman, anda semua mengenal saya. Saya bukan seorang Kristen; tapi jika seandainya saya Kristen, orang-orang ini (dia memajukan tubuhnya ke mimbar) memiliki apa yang saya inginkan. Saya mempunyai hutang sejumlah uang pada Tuhan. Saya akan memulai persembahan ini dengan $20.”

            Evelyn hanya berdiri di sana dan menunggu. Tiba-tiba seorang wanita dengan rambut merah yang lebat berdiri dan berkata,”Saya malu dengan semua orang yang ada di sini, terutama pada diri saya sendiri. Saya adalah ibu dari beberapa orang anak. Kami memiliki banyak kebutuhan dan Allah menolong kami untuk memenuhi kebutuhan itu melalui hambanya, Oral Roberts. Sekarang coba anda dengarkan saya : saya ingin setiap orang yang ada di sini untuk melakukan apa yang akan saya lakukan.” Kemudian dia membuka dompetnya, menarik sehelai uang, meletakkan di dalam topi tadi, dan duduk. Dalam beberapa saat, orang-orang berdiri dan berkata,”Nyonya Roberts, bawa topi itu kemari.”

            Ketika Evelyn berjalan menuju kerumunan itu, memegang topi hitam, saya benar-benar malu pada diri saya sendiri. Ketika dia selesai mengambil persembahan itu, barulah saya mempunyai keberanian untuk maju ke mimbar. Saya merasa setiap mata memandang saya. Ketika itu saya tidak tahu apakah uang dikumpulkan itu cukup untuk membayar sewa atau tidak, tapi ada sebuah perasaan lain muncul di dalam hati saya. Istri saya sudah melakukan suatu hal yang hanya dilakukan oleh sedikit para istri untuk suaminya. Saya tahu dia melakukan ini bukan hanya untuk saya. Segerombolan kuda liarpun tidak akan sanggup menarik dia ke sana. Dia dengan sukarela maju ke mimbar karena dia melihat pelayanan kami, yang diberikan Allah kepada kami, sedang dalam bahaya. Saya merasa bangga padanya dan malu pada diri saya sendiri karena membiarkan keragu-raguan dan ketakutan merasuk kedalam pikiran saya.

            Ketika kebutuhan kami terpenuhi saya tahu bahwa itu adalah jawaban dari Allah bagi saya secara pribadi. Itu juga merupakan suatu teguran yang halus.Ketika saya maju kemimbar dan melanjutkan kebaktian saya tidak membuat pernyataan apapun untuk apa yang sudah dilakukan istri saya, karena merasa bahwa saya hanya dapat meneruskannya dengan kembali berkotbah dan mendoakan orang-orang. Saya membacakan ayat-ayat dan mulai berkotbah. Saya katakan pada anda, saya merasa seperti sungai Niagara yang penuh dengan kuasa yang dilepaskan. Saya tahu bahwa pasang telah berubah. Pertemuan ini berakhir dengan sebuah rumah yang penuh dan orang-orang yang berdiri, memberikan dorongan pada kami untuk melanjutkan pelayanan kami.

            Saya menyebut Allah sebagai saksi atas sumpah yang saya ucapkan bertahun-tahun yang lalu dan yang sudah saya jaga selama ini - untuk tidak menyentuh baik emas maupun kemuliaan. Saya tidak akan maju berkotbah dan mendoakan orang-orang tanpa kehadiran Tuhan bersama saya. Dan tidak juga saya menyentuh baik mas maupun kemuliaan.

            Pada beberapa kejadian saya ditawari sejumlah besar uang untuk mendoakan kesembuhan pada beberapa orang tertentu. Banyak kali ketika saya mendoakan orang-orang yang mengantri di depan mimbar, banyak orang yang menyelipkan uang di tangan saya maupun di kantong saya. Dan setiap kali saya kembalikan uang itu.

            Para pengkotbah berdatangan membawakan saya sejumlah besar uang, kadang-kadang sebesar $1000, dari orang-orang baik yang ingin didoakan untuk kesembuhan ataupun yang sudah merasa terberkati melalui pelayanan saya. Lagi-lagi saya sudah meolak uang itu. Beberapa pengkotbah ini melaporkan hal ini kepada gereja-gereja mereka dan bahkan kepada jemaat kami, bahwa hal ini meyakinkan mereka bahwa masih ada beberapa pelayan Allah pada saat ini yang tidak dapat dibeli dengan uang.

            Pernah ada seorang yang amat kaya membubuhkan tanda tangannya ke atas sebuah cek blank dan mengatakan bahwa saya boleh menuliskan berapa saja jumlah yang saya inginkan, dan cek ini pasti isi, asalkan saya mau mendoakan anaknya yang sedang sekarat. Namun saya menolak cek itu. Tentu saja saya tetap mendoakan anakny.

            Saya tidak pernah menerima uang yang berhubungan dengan doa-doa saya untuk kesembuhan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang yang menawarkan saya uang itu egois dan mencoba membeli cara-cara untuk memproleh yang mereka inginkan. Mereka hanya ingin menunjukkan penghargaan mereka, atau dalam beberapa kasus mereka ingin melakukan sesuatu agar pelayanan doa saya mendoakan mereka.

            Tetapi saya merasa bahwa mengambil uang mereka akan merusak janji saya pada Allah. Dengan cara ini saya tetap bebas. Tidak ada orang yang dapat mengendalikan saya. Saya tidak berhutang pada siapapun,… hanya kasih.” (Roma 13 :8). Saya dapat memandang pada setiap orang yang ingin didoakan dan berkata,”Pada saya tidak ada emas atau perak” (Kis 20:33)

 

 

 

 

Sekarang, katakan pada diri anda sendiri : Saya tidak akan berhutang apapun pada siapapun kecuali kasih.” Jika ide ini melekat kuat pada diri anda dalam kepenuhan dan menjadi nyata dalam kehidupan rohani anda, maka semua masalah keuangan akan berubah. Anda akan terbebas dari semua kewajiban dan ikatan pada tiap orang.

 

 

 

KUNCI HARI INI :

 

“Saya tidak akan berhutang kepada siapapun kecuali kasih.”

 
Designed by vonfio.de